Kakak Ter-abstrak yang Pernah Ada

Nyayu Indah Oktaviani. Nama yang pertama kali kudengar dan kukenal, 21 Oktober 2014. Aku mendapat sebuah gulungan kertas bertuliskan “october ceria”. Kertas yang dikerumuni banyak senior yang begitu penasaran siapakah gerangan pemilik adik yang sangat meresahkan ini. Dan dia adalah Kak Indah yang kata mereka sangat kurang beruntung memiliki adik sepertiku, hh. 

Aku juga tidak terlalu peduli apa yang orang bilang dan apa yang dia pikirkan tentangku. Aku cukup malas meladeni mereka, termasuk meladeni Kak Indah. Disuruh buat biodata, hanya kubuat 10 item. Lalu aku disuruh membuat ulang sebanyak 50 item. Okelah aku buat, dengan jangka waktu yang cukup lama, aku kumpulkan,  dan aku tidak peduli.

Di saat saudara angkatku mampu mengenal dia lebih dekat,  berfoto ketika ada event, aku tidak peduli. Meskipun pernah terbesit rasa cemburu ketika dia menengur dan mengajak foto dengan saudaraku di depan mata kepalaku sendiri.  Hello, apa dia mengenalku, di hadapannya,  entahlah, kurasa tidak. Dan ternyata memang tidak. Dia lupa namaku.

Tidak, bukan salah dia, salahku. Tapi dulu kupikir, apa hakku. Lagipula aku malas terlalu banyak urusan dengan senior. Tapi rasanya, dianggap tidak ada itu cukup melukai. Entahlah,  masa itu terasa begitu suram.

Entah aku kesambet setan apa. Aku menjadi lebih akrab dengannya sejak kutahu dia lupa namaku. Aku juga tidak tahu apa dia juga lupa tentangku. Katanya sih iya, tapi Kak Indah terlalu banyak berbohong untuk mencairkan suasana. Yang terkadang sangat sulit kudeteksi mana yang berbohong mana yang tidak.

Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang makin cantik, tetap pintar, dan ramah kepada siapapun. Terkadang ada rasa kebanggaan memiliki kakak seperti dia. Meskipun aku merasa sangat terbanting dari kakak-kakak ekskul angkatan atasku yang lain. Mereka hampir sama, cantik, tenar, dan elegan, apa dayaku.

Tapi kau tahu, aku tidak ingin terpuruk sampai disitu. Kau tahu, ada hasrat ingin menyamai kakak-kakakku. Tidak dengan kecantikan, mungkin dari segi akademis. Hanya itu mungkin yang bisa aku tiru dari mereka.  Entahlah, rasanya dulu hasrat ingin sepintar kakakku sangat kuat. Setidaknya aku tidak terlalu menjadi buntang di keturunan kiranaku ini.

Terkadang aku hanya tersenyum dan malu untuk mengingat semua kenangan bersama Kak Indah. Mungkin tidak harus kuceritakan terlalu detail. Biarlah saat ini Kak Indah mencerna apa saja yang pernah kami lalui, itupun kalau dia ingat.

Aku hanya akan menceritakan tentang dua peristiwa yang paling menyenangkan dan juga yang paling menyedihkan, ini versiku.

Momen yang paling menyenangkan bagiku adalah ketika dia menjadi pengucap pertama di hari ulang tahunku yang ke-17. Ya, tidak perlu kujelaskan bagaimana mungkin aku merasa senang. Karena kebahagianku adalah ketika seseorang mau membagi waktunya untukku, itu saja.

Mungkin peristiwa yang satu ini bukanlah yang cukup menyenangkan. Tapi apa yang dia lakukan cukup membuatku senang, yaitu ketika dia ke kosanku. Meskipun setelah itu kami marahan. Tapi aku senang, ternyata dia punya perhatian kepadaku.

Dan momen yang menyedihkan bagiku adalah ketika kami marahan. Dan itu terjadi ketika dia lulus dimana-mana. Di UI, di STIS. Disana aku merasa kecil dan tentunya cukup kecewa. Karna dia menjauh, seakan lupa denganku. Entahlah, aku dulu hanya ingin ada,  bukan benar-benar ada ketika dia berjuang, aku sadar itu. Dan mungkin, ketika namanya melambung, dipuji sana-sini,  sebaiknya memang aku menjauh.

Dan yang kedua adalah, ketika dia yang mungkin lupa hari ulang tahunku di tahun ini. Entahlah, apa dia sengaja atau tidak menjadi pengucap terakhir di hari itu, tapi yang jelas aku sedih dengan pilihannya. Sejak itu, aku menyadari bahwa aku tidak seberarti itu, dia tidak secare itu. Entahlah, aku juga sama sekali tidak membenci sikapnya, aku hanya sedikit kecewa. Karna bagiku, dari ulang tahun, kita dapat melihat seberapa berarti diri kita di mata orang itu. Dan hari itu, aku punya kesimpulan tersendiri.

Baik buruknya,  aku sangat merasa beruntung bisa mengenalnya lebih dekat, meskipun bagiku itu tidak benar-benar nyata. Kak Indah itu hanya di dunia maya. Bayangkan, kami hanya bertemu satu tahun sekali. Bahkan kalau harus dihitung, mungkin tidak sampai sepuluh kali kami pernah meetup.

Kedekatan kami itu hanya di dunia maya.  Entah bagaimana sosial media dan internet bisa menyulapnya. Tapi aku tidak benar-benar ada untuknya, dia juga tidak benar-benar ada untukku. Aku hanya ingin berusaha ada, tapi jarak dan waktu menghalangi semuanya. Sikap kami semu, persaudaraan kami semu.

Terkadang ingin sekali dia ada saat ini. Saat dimana dia pernah ada di posisiku, kasus sbmptn. Entahlah, mungkin dulu aku juga tidak pernah ada untuknya, aku ingin ada, bukan benar-benar ada. Ingin sekali meminta  saran, seperti yang kubilang tadi, dia pernah ada di posisi ini. Ingin tahu apa sikapnya dalam situasi seperti ini. Tapi sudahlah, tampaknya dia tidak terlalu tertarik. Mungkin dia takut salah ngomong.

Kami punya dunia kami sendiri. Aku hanya maya diantara teman-teman dan sahabatnya, aku tidak benar-benar ada, tidak benar-benar mengerti keadaannya, masalahnya, kesedihannya. Dia juga sama, tidak pernah ada untukku. Bagiku, kisah kami tidak lebih dari cerita dongeng yang begitu menyenangkan, tapi bukan kenyataan.

Sejauh ini, aku merasa Kak Indah sangat baik, terlalu baik malah. Mau meladeniku dan sepertinya tidak malu punya adik sepertiku. Mau meladeni ke-childishan-ku yang terkadang dia juga yang reseh. Tapi kuakui dan sangat kuacungi jempol, dia selalu bersikap baik kepada semua orang, termasuk aku, yang entah dianggapnya bagaimana. 

Meskipun sejujurnya aku begitu penasaran bagaimana pendapatnya terhadapku. Dia tidak pernah mendeskripsikanku, surat yang pernah dia janjikan hampir satu tahun yang lalu itu hanya bualan, kami tidak pernah bertemu lagi sejak itu. Dia selalu berkata bahwa kami akan bertemu lagi ketika aku menyebut farewell di kala meetup yang terakhir itu.

Entahlah, aku merasa cukup malas untuk meetup, kemudian sedih setelahnya. Aku benci perpisahan. Lagipula, tidak ada kesempatan yang begitu baik untuk meetup. Aku tidaklah tinggal di Palembang yang awalnya menjadi titik dimana kami bisa bertemu. Bayangkan, acara dan tempat apa yang bisa mempertemukan kami? Tidak ada. Rasa rindu itu hanya terluap dalam tiga huruf “kgn”. Sisanya, tidak ada tindakan sama sekali dari kami.

Rasanya dia makin jauh pergi dari hidupku. Entah di dunia maya ataupun nyata. Kami memiliki kesibukan masing-masing, dunia masing-masing,  yang keduanya sulit disamakan. Entah dia yang pergi atau aku yang tidak kunjung tiba di titik temu berlambang sigma itu. Entahlah, aku hanya merasakan kesemuan tentang hal itu.

Aku mengerti tentang keresahannya dalam menemukan jati diri yang sebenarnya dan aku juga akan menghargai keputusan akhirnya. Dia pintar dan berbakat di bidang manapun, dia hebat, berhak memilih, tinggal tunjuk, karena semua bakat menghigapi dirinya. Kau akan sangat kagum dengannya jika mengenal lebih dekat, dan tentunya iri, percayalah.

Kisah yang begitu klasik antara aku dan dia. Persaudaraan yang kata orang sangat klop dan menggemaskan. Terkadang aku mengakui itu, tapi sayangnya, itu tidak sepenuhnya nyata. Kami terjebak dalam layar ponsel, entah kapan, mungkin atau tidak layar ponsel itu berhenti membatasi raga kami.

“It’s not about who care. But how you care.  Leave or not, your choice”

 

Laily, 21 Juni 2017

 

 

 

 

 

Advertisements

17 Hari Bareng Dian

Ini adalah cerita tentang temen baru gue yg ditemukan di Jogja, yaelah, wkwk.  Langsung aja cuy.

Tiga hari setelah UN, gue langsung terbang ke Jogja untuk ikutan bimbel di Indonesia College. Ternyata gue ga dapet konfirmasi kalo jadwal bimbel diundur dan baru dimulai satu minggu lagi.  Awalnya gue ga terlalu panik sih karena, ya,  mau gimana lagi.  Gue udah telanjur di sana dan repot banget mau balik lagi.  Dengan keadaan hati yang masih tenang, gue ditempatkan di suatu kamar yang katanya untuk kelas excellent, sesuai kelas yang gue pesen. yaudah kan,  gue susun barang-barang dan buku yang gue bawa. Temen sekamar gue masih les karna dia peserts les STAN yang udah dimulai beberapa hari yang lalu.

Trus gue tidur siang sambil denger musik, ya kayak biasalah. Sampe akhirnya gue kebangun gara-gara ada suara orang-orang lagi diskusi gitu. Dan samar-samar, gue denger kalo ada yang mau nempatin kamar ini. Dan emang ga memungkinkan sih untuk ditempatin bertiga. Disitu gue mulai gelisah karena gue ga bilang sama sekali ke orangtua gue tentang salah jadwal ini. Gue bingung, sumpah,  ngenes banget idup gue, terlantar di tanah orang,  ga kenal siapapun.

Yaudah deh, keputusannya adalah gue yang pergi.  Ya iyalah, jadwal bimbel gue kan belum mulai, sedangkan yang baru dateng itu emang berhak tinggal di kamar itu. Tanpa ada pilihan lagi, gue terpaksa bilang ke orangtua gue kalo gue salah jadwal dan ga tau mau tinggal dimana.

Dengan hati yang kacau dan pikiran yang kusut,  gue beresin barang-barang gue,  hiks. Gue dianter kesana sini untuk nyari penginapan. Mana gue dikompor-komporin kan sama temen yang baru dateng itu kalo tempat yang mau ditempatin itu bener-bener ga layak huni. Oleh sebab itulah dia ga mau tinggal disana. Aduh,  ga tau deh, gue kayak orang bego waktu itu. Gue ga dapet konfirmasi sama sekali tentang jadwal ini,  hadeh, tau ah.

Akhirnya,  pas malemnya gue disuruh tidur di tempat yang katanya ga layak huni itu. Soalnya, rumahnya ga dihuni selama dua bulanan. Gue sedih gimana gitu ya, baru beberapa menit aja gue udah pilek karna gue alergi debu, hiks,  mau pulang rasanya.

Besoknya, gue balik lagi ke kamar yang petama itu karna barang-barang gue belum dipindahin. Gue disuruh nunggu karna mbak-mbaknya lagi nyariin tempat tinggal untuk gue.

Suddenly, eaaa. Mbak Rini dan seseorang yang ga gue kenal dateng. Katanya dia anak Palembang juga dan kecepetan dateng juga. Awalnya gue biasa aja ya, karna ga kebayang juga dia buat apa karna ujung-ujungnya gue tetap disuruh pindah, wkwk.  Tapi setelah dipikir-pikir, kalo ada dia,  berarti gue ga senidirian dongz,  ya gitu deh.

Akhirnya gue setuju pindah ke kosan baru.  Ya,  semuanya bermula disini. Pas sore,  Gue dan Dian makan bareng gitu di Special Sambal ya kalo ga salah , ya gitu deh, kita mulai akrab.

Malemnya,  kita udah mulai membaur sama temen-temen lainnya di kosan. Awalnya, kita tuh berenam.  Ada Salma, Aisiyah, Fiqi, Rizka,  Dian, dan gue. Trus pas hari kedua, Mbak Jida dan Mbak Feby dateng.  Kita lesnya beda-beda, tapi kan, bhineka  tunggal ika, ya gak.

Dari hari kehari, gue makin akrab sama Dian karna cuma dia yang gue punya, yaelah wkwk.  Beneran ih, kita kan kasusnya sama, wkwk.

Kemana-mana gue bareng Dian.  Gue ga ngerasa sendiri dan sedih lagi. Malah ga tau kenapa gue seneng banget disana. Temen-temen yang lain juga baik dan asik. Mulai dari pagi nyampe malem, gue selalu bareng Dian selama satu minggu di kosan lama,  wkwk.

Trus setelah satu minggu, gue dan Dian harus pindah karna jadwal bimbel baru dimulai,  cieee.  Ya dengan cukup berat hati, kami berdua harus ningggalin temen-temen di kosan lama.

Kita ditempatin di kosan ijo dan Sekamar berdua,  yey. Padahal yang lainnya sekamar berempat, tapi mereka pake AC,  sedangkan kami cuma pake kipas angin karna sebenarnya kamar itu adalah ruang belajar wkwk.

Dari awal bangun tidur sampe tidur lagi pas malem, gue selalu bareng Dian.   Paginya kita tidur. Siang sampe malam kita les. Pulang les jam 9 malam dengan keadaan yang lumayan deg-degan karna gelap dan tempat les ga terlalu deket sama kosan. Jadi kita jalan cepet-cepet gitu sambil gandengan tangan, wkwk. Ya kita saling melengkapi dan menjaga satu sama lain. 

Berhubung aku harus perpisahan sekolah, jadi aku terpaksa pulang duluan dan ga ikut beberapa sesi di bimbel,  eh taunya Dian juga mau ikut-ikutan aku. Yaudah deh, kita berencana pulang bareng, asik, gue ga sendiri lagi naik pesawat.

Pada akhirnya, gue pulang sendiri 🙂 . Tiket pesawat tinggal tersisa satu.  Dan dalam beberapa  menit,  gue harus memutuskan mau pulang duluan atau ga. Sumpah gue bingung, mata gue berkaca-kaca, ga tau mau ngapain. Gue harus petimbangin dan mutusin sendiri. Gue mau ikut perpisahan, tapi bener-bener ga lucu kalo rencana kita untuk pulang bareng harus gagal. Ya, emang hidup ini ga selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Gue tertunduk lesu dan bete banget. Gue juga dimarahin papa mama karna plinplan hfffft. Ya gitu deh, intinya gue sedih banget pas kejadian itu. Perasaan gue campur aduk. Antara kesel karna kenyataan ga sesuai rencana, sedih karna dimarahin,  sedih karna ternyata gue harus mengakhiri masa-masa bahagia tanpa beban, ga semangat karna gue harus balik ke dunia gue yang sebenarnya, tau ah.

Saat itu, Dian berusaha ngehibur gue, cieee.  Gue seneng aja gitu, karna biasanya temen gue ga se care dia kalo ngeliat gue sedih :”). Dia berusaha membalikkan mood gue tanpa tahu gue sedih karna apa. Ya saat itu momen terbaper gue bareng Dian.

Trus pas malam terakhir kita sekamar (besoknya gue pulang). Gue ngajak dia main ToT hehehe. Berbagai pertanyaan kami berdua lontarkan satu sama lain. Ini juga momen yang baper bagi gue wkwk. Dan so amazing,  ternyata kisah kami berdua itu benar-benar mirip, sumpah shock banget. Mulai dari pertemanan, keluarga,  masa-masa SMA,  banyak banget yang mirip hiks. Saat itulah gue ga ngerasa sendiri.  Ada yang ngerasain kayak gue juga,  ya gitu deh. Gue akhirnya nemuin temen yang pernah ngerasain apa yang gue alamin. Dan kesenangan itu sulit banget diungkapkan lewat kata-kata gini. Intinya,  gue seneng banget ketemu temen kayak dia. Hampir semua sifat sosok sahabat yang gue butuhin, ada di Dian. Dan gue sangat berharap kita dibolehin untuk tetap temenanan dan sedeket ini. Tapi ya, Tuhan belum mengabulkannya di tahun ini.

Ohiya,  kita beda agama :). Tapi,  disini gue ngerasain toleransi yang luar biasa dari sosok Dian.  Disini gue ngerasain pengamalan sila pertama dalam pancasila. Disini gue merasakan poin penting dari maksud semoboyan Bhineka Tunggal Ika. Disini gue ngerasain itu semua secara nyata.

Ya suka dan duka telah kami lewatin bareng selama satu minggu lebih di kosan ijo. Ada momen ngakak, momen sedih, momen homesick, momen baper, dan banyak momen lainnya. Lebih banyak momen ngakak sih karna kita punya Mbak Berliana yang sangat humoris.  jujur aja, banyak momen bapernya bareng Dian. 

Ga tau deh ya, gue belum pernah aja nemuin temen yang seklop dia. Temen yang bisa buat gue selalu ketawa, yang nolongin gue,  jagain aku, nemenin gue, yang kayak saudara sendiri, eaa. Beneran deh, teman-teman yang lain juga ngira kita udah sahabatan sejak lama, padahal kan “belum”.

Kalo sekarang, rasanya momen itu sekejap banget dalam hidup gue. Lo bayangin deh,  lo ngalamin sesuatu yang sangat indah, yang ngebuat lo lupa tentang semua kesedihan yang lagi lo rasain.  Lo seakan punya dunia baru yang ngebuat lo ngerasa bener-bener nyaman. Tapi lo harus sadar, kalo itu cuma “sekejap”. Ya,  cuma sekejap, karna gue ga tau kapan dan gimana gue dan Dian ngalamin momen yang hampir sama persis kayak waktu itu, ga tau.

 

 

…..

Chelien Kurniah Alfatrian

Aku bukanlah salah satu teman akrab atau sahabat Chelien. Tapi Chelien adalah orang yang sangat penting dan tidak akan kulupakan samapai kapanpun. Semoga Chelien suka, ya.

Awal kenal Chelien itu ketika kami sekamar masa MOS dan juga Latdis. Jadi, Chelien ini adalah teman sejak awal SMA dan hingga sekarang. First impression untuk Chelien adalah ramah dan lincah. Dan itu memang benar. Ranjang Chelien ada di bawahku (bertingkat dua). Jadi, akan sangat terasa kalau Chelien gerak-gerak pas tidur, ahaha.

Chelien adalah pemilik alarm yang sangat menggelegar. Berkat alarm milik Chelien, kami tidak akan telat di pagi hari. Cukup banyak kenangan tak terlupakan masa MOS dan latdis bersama Chelien. Masa dimana kami saling membangunkan, mengingatkan perlengkapan, bergiliran ke kamar mandi, dimarahin, dsb. Aku sangat kangen masa-masa itu, tapi bukan berarti aku ingin mengulangnya, tidak, hehehe.

Aku juga satu kelompok dengan Chelien ketika homestay. Diriku menjadi teringat masa-masa di rumah ibu angkat bersama Kak Uit sebagai senior pendamping, rindu sekali. Masa dimana kita berjalan ke sawah bapak yang jaraknya 2 km ya kalo ga salah. Haduh, capek banget waktu itu. Tapi masa itu sangat indah dikenang.

Masa-masa pahit asrama di tiga bulan pertama juga kulalui bersama Chelien. Mulai dari buka puasa, sahur, latdis, mandi lumpur, dsb. Kami saling mengingatkan dan memberi semangat. Yang paling kuingat dari Chelien adalah dia selalu memarahi kami kalau makan sambil berbicara, heheh. Kekompakan yang tiada tara harus kami lakukan untuk menyelamatkan diri dari cobaan mos, latdis, dan homestay. Mulai dari berbagi air untuk mandi, tugas piket, menghemat air minum, cepat-cepat mandi supaya yang lain tidak telat, dsb.

Momen yang paling kuingat adalah ketika kami diam-diam makan di malam hari. Padahal itu sudah hampir jam 9 dan kami disuruh piket. Tiba-tiba salah satu senior kami memergoki kami yang sedang makan bersama di lantai. Kakak itu memarahi kami karena belum piket. Itu adalah pertama kalinya kamar kami dimarahi oleh senior. Masa yang lain juga ketika aku lupa membawa name-tag. Gawat sekali urusannya kalau itu terlupa. Untungnya Chelien mengingatkanku, hehehe.

Setelah 3 bulan, kami akhirnya rolling. Aku ga sekamar lagi dengan Chelien, hihiw. Sejak saat itu aku memanggil Chelien dengan sebutan “mami”. Karena aku merasa selama tiga bulan ini dia sepeti ibu yang selalu mengingatkanku dan menasihatiku, hihihi.

Kedekatan kami makin erat ketika berbagai kegiatan ekskul, yaitu kirana. Ada berbagai hal dan kejadian yang kian mempersatukan kami. Kami saling support satu sama lain. Hingga akhirnya Chelien terpilih sebagai ketua kirana. Bangga sekali diriku, hihiw.

Aku dan Chelien juga seringkali duduk bersebelahan ketika tadarus di masjid. Di sana kami saling ganggu dan menjahili. Terkadang kami ketiduran dan dimarahi pembina asrama. Aduh, aku kangen sekali momen itu.

Bagi kami yang berhalangan untuk shalat, kami berkumpul di teras masjid agar tetap terkontrol oleh pembina. Cukup sering kami berdua berkumpul di teras masjid. Biasanya kami belajar, tidur, atau mengobrol.

Chelien adalah orang tertegar yang pernah aku temuin. Orang yang paling ceria dalam kondisi apapun. Sangat bijak dalam mengatasi masalah. Tidak heran kan kalau dia jadi ketua ekskul. Aku sangat terinspirasi terhadap Chelien. Keceriaannya membuatku sadar bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, kita harus selalu merasa bersyukur dan bahagia  🙂

Ohiya, ulang tahun kami berddekatan, loh. Aku lahir tanggal 27 maret 1999. Sedangkan Chelien lahir tanggal 28 maret 2000. Ya, Chelien lebih muda dariku. Tapi tetap saja aku menyebutnya mami, hingga akhornya teman-temanku yang lain ikut-ikutan memanggilnya mami. Tapi aku tetap her first daughter, kok, heheh.

14604  14605

Chelien sebagai Peri Bintangku

Hal yang tidak akan pernah aku lupakan adalah bahwa karena Chelianlah aku bisa menggapai impian terbesarku di kelas 11. Chelien adalah orang yang pertama kali mencetuskan kata astronomi dalam hidupku. Tanpanya, mungkin tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengikuti seleksi olim astronomi di sekolah.

Dia yang kala itu melihatku sangat menyukai pelajaran matematika dan fisika tiba-tiba menyarankanku untuk mengikuti tes seleksi untuk menjadi tim olim astronomi di sekolah. Kata itu sangat asing bagiku. Pernah sekali dua kali mendengar. Tapi, aku mengira astronomi adalah ilmu hafalan yang sangat tidak cocok denganku. Tapi aku salah, ternyata astronomi itu adalah menghitung.

Aku mulai mempertimbangkan saran Chelien. Hingga akhirnya aku cari tau lebih lanjut tentang olim astronomi, dan aku tertarik. Sejak itu, aku berpaling dari olim matematika yang menolakku di tahun lalu. Aku mulai belajar sedikit demi sedikit untuk menghadapi tes seleksi di sekolah.

Hingga akhirnya aku lolos osk dan menuju osp. Disanalah puncak keputusasaanku. Aku merasa tidak kompeten. Aku sangat lelah dan ingin berhenti berjuang karena keadaan yang kian menghujam dan membuatku ingin menyerah. Ketika pelatihan di bogor, aku sakit, peringkatku jauh terpelanting, aku merasa sangat putus asa dan pasrah karena merasa tidak mungkin untuk lolos OSP. Malam itu, satu hari sebelum pulang ke Palembang. Aku curhat panjang lebar ke Chelien. Aku yang semula telah memutuskan untuk menyerah, kemudian bangkit lagi karena perkataan Chelien. Saat itu adalah H-7 menuju OSP, dan aku baru bangkit.

Sepulangnya dari Bogor, aku melahap semua buku astronomi dan mengejar ketertinggalan materi. Dan, aku lolos lagi. Sejak itu aku menjukukinya peri bintang karna telah menyelamatkanku, eaaaa.

Dear Chelien,

Mungkin aku mulai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa berartinya nasihat-nasihatmu. Cerita di atas mungkin hanya sebagian kecil nasihat yang pernah kamu lontarkan untukku. Semua nasihatmu begitu bijak dan mengena. Terkadang aku menggunakan prinsipmu dalam bersikap. Prinsip bagaimana berteman, bersahabat, mengatasi masalah dan kesedihan, mengatasi keputusasaan, dan masih banyak lagi.

Aku tau, mungkin kamu merasa biasa saja terhadap apa yang telah kamu lakukan. Tapi percaya deh, siapapun yang jadi aku, pasti akan sangat berterimakasih.

Tetaplah menjadi yang terhebat, yang terbaik dalam bidang apapun. Aku percaya, kamu akan menjadi berlian dimanapun berada. Tetap jalankan prinsip yang kamu miliki. Jangan pernah menyerahdan putus asa. Mungkin hanya dengan tulisan ini aku bisa berterimakasih sekaligus mengenangmu. Kamu sangat menginspirasi. Tetap ceria ya, Mamiku. Semoga kesuksesan selalu menyertaimu. Jangan pernah lupakan aku yang hanya serpihan debu di hidupmu~

Minggu, 9 April 2017 (Satu hari sebelum UN)

your first daughter

Devi Ratnasari

Banyak banget nih kenangan bareng Devi. Tidak terhitung, eaa, lebay. Kita mulai dekat pas pertengahan kelas 11 ya kalo ga salah. Jadi, kamar Devi itu ada di depan kamar aku dan Monica. Nah, berhubung Monica selalu pulang-pergi sekolah sama Muna, jadi akhirnya aku sama Devi terus deh. Akhirnya mulai akrab gitu sejak intensif osk di sekolah. Dia suka numpang nge-print soal osk gitu sama aku.

Hingga akhirnya, hampir seluruh aktivitas aku di kosan, selalu ada Devi. Dia selalu menemaniku jajan, wkwk. Tapi kami suka saling ngatain gitu, ditambah dengan logat jawanya yang sungguh menyebalkan. Akhirnya terciptalah sebutan “lelek”, ya Allah, jelek amat ya namaku. Tapi, aku sangat kangen dipanggil ini sama Devi. Keep medok ya, Dev.

 Sejak kelas 12 dan aku pindah kamar, Devi udah jarang tuh main ke kamarku. Aku juga mulai sibuk belajar gitu, huhuh. Hingga akhirnya sekitar dua bulan sebelum UN, dia mulai sering ke kamar aku lagi, yang membuat hariku lebih berwarna, cieee.

Kita mulai kayak dulu lagi. Tapi kebanyakan dia sih yang ke kamar aku, aku jarang ke kamar dia. Di kamar aku dia suka minjem hp ga jelas gitu. Ngakunya mau belajar, tapi pada akhirnya dia tidur atau main game di laptop, zzz.

Devi itu slalu siap menemaniku pergi ke manapun. Tidak selalu bisa, tapi selalu mau, eaa. Karena ada saatnya dia mau, tapi ga bisa, ya gak. Di kamar, kita suka nyanyi-nyanyi ga jelas gitu. Kadang juga belajar sih, ya gitu deh.

Makasih untuk semua kenangan, mengatasi masalah-masalah eksternal yang kumiliki. Aku tau, kita berdua ga romantis-romantis banget untuk mengucapkan kata perpisahan, jadi akunya ga bisa so sweet nih ke kamu. Pesan aku yang sangat penting untuk kamu adalah:

Jangan lupa Sholat ya Kak Devi.

CLICK HERE TO LISTEN 🙂

 

Rizka Nabilah

Kenal Rizka itu sejak kelas 10, karena kami sekelas, yey. Orangnya sangat lucu dan selu. Tingkahnya menyebalkan tapi ngangenin. Pas awal kelas 10, kita suka bareng-bareng kan di kelas, sama Laras, Ruri, Sarah, dll juga. Dulu lumayan deket, tapi ga sedekat pas kelas 12.

 

Sejak kelas 12, pulang dan pergi sekolah selalu sama Rizka. Tapi sejak itu juga, aku yang awalnya selalu datang paling pagi karna sama rombongan Muna, jadi dateng paling telat karena sama Rizka. Ya, ternyata sebegitu berpengaruhnya teman pergi-pulang sekolah, ya.

 

Pagiku diawali dengan meneriaki Rizka yang ‘selalu’ hampir telat. Kamar Rizka ada di lantai 3, sedangkan aku di lantai 2. Jadi aku sangat malas untuk naik hanya untuk menjemput Rizka.

 

Dulu kan jaman-jamannya finger print, dan kami berdua hampir selalu telat. Kan kami masuk jam 6.40, biasanya kami finger-printnya jam 6.35 bahkan lebih dari 6.40. Tapi tak apa, bersama Rizka lah aku meraskan serunya masa SMA, karena sering telat, hehehe.

 

Rizka orangnya sangat manja. Baik itu sama ibu, bapak, atau sama teman-temannya. Tingkahnya seperti anak kecil tapi hatinya sudah cukup dewasa, guys, eea. Rizka orangnya ga pemarah. Pernah beberapa kali aku ninggalin dia karna kelamaan nunggu, tapi dia ga marah aku tinggalin, eh harusnya aku kan yang marah?, ehehehe.

 

Aku hobi nepuk-nepuk jidat Rizka, wkwk. Terus ngelus-ngelus rambut dia kayak anak kecil, huhuh. Dia ga marah dan slalu biarin aku gitu Aku akan sangat kangen momen itu. Ohiya, Rizka tuh hobi ngatain aku pendek. Aku merasa sangat tersinggung, Riz. Tak apa, meskipun aku akan sulit untuk tinggi atau mungkin ga bisa lagi, aku tetap semangat, apasih, wkwk. Pas ketemu nanti, mungkin aku tetap pendek, tapi aku akan berubah, Riz, mungkin dari hal lain, pokoknyo aku akan jadi lebih baik dari sekarang, apasih, wkwk.

 

Makasih karena sudah menemaniku di masa kelas 12, ya, Rizzzz. Aku akan sangat kangen momen bersama, eaaa. Apalagi saat kita kehujanan pas mau pergi ke sekolah, unforgettable, Riz. Dan masih banyak tingkah Rizka yang sangat aku kangenin nantinya. Gonna miss you so much, teman alay.

 

Semoga cita-cita Rizka tercapai, ditunggu jas putihnya beserta gelar berupa dua huruf di depan nama. Jangan lupakan aku, yaks.

october_170408_0111

Lely Amalia

My lovely adek-adekan. Lely adalah teman pertama yang memanggilku dengan sebutan “ayuk”, hingga akhirnya teman-temanku yang lain ikut-ikutan memanggilku ayuk.

Lely sangat lucu to the maks, selalu membuatku gemas dan ingin terus mencubitnya. Suaranya cempreng. Jadi lucu banget kalo lagi manggil aku, duh bakal kangen banget nih sama adikku.

Badannya besar, enak banget dipeluk, tapi aku tenggelam kalo dipeluknya. Tingkahnya selalu membuatku ingin tertawa. Celotehannya juga selalu bikin sakit perut. Lely itu lumayan terkenal karena kecemprengannya, eh, ga karena itu juga sih, wkwk.

Gini-gini, Lely itu anggota parisanda (paskib).  Salut dech sama adikku. Tapi adikku ini malas belajar. Waktu kelas 11 dulu, suka nyontek gitu aja ke aku karna absen kami deketan, wkwk, dasar. Tapi pas kelas  12 ini ada Laras yang absennya di tengah kami. Jadi udah jarang dia nyontek sama aku, hahaha.

Wahai lovely adik, terimakasih untuk setiap kelucuan yang telah diberikan. Dirimu membuatku benar-benar merasa punya adik di sekolah. Jangan lupain ayuk ya kalo udah jadi orang keren, awas loh, hahaha. Maaf atas semua kesalahan ayuk yang kurang berkenan di hati Lely. Ayuk tidak bermaksud demikian, Lel.

Lely harus buktikan kalo Lely bisa jadi orang yang lebih baik dan lebih hebat dari sekarang. Ga sabar nunggu Lely pake seragam impian. Doain ayuk yach. See you lovely adik, gonna miss you so much………,

 

Monica Lorenza

Hayo tebak, ini siapa, hehe. Monica ini adalah best enemy ku, peace, wkwk. Monica adalah roomateku selama kelas 11. Langsung saja baca ceritanya, semoga kamu suka ya, Monica

Aku masih inget sih kapan awal kenal Monica. Tapi aku ga mau ceritain, so secret. Hanya kami yang tahu.

Kala itu kan udah hampir keluar asrama, jadi mulai nyari-nyari kosan. Tiba-tiba dia ngajak aku sekamar sama dia. Ya aku mau-mau aja kan karna aku dulu emang pengennya berdua, tapi belum dapet temen. Padahal aku dulu ga deket sama Monica, tapi ga tau kenapa dia percaya gitu sama aku, wiiih.

Trus, akhirnya kami sekamar deh. Kami saling bantu ngangkutin barang-barang dari asrama ke kosan, ya gitu deh. Duh, kadang aku suka malu sendiri kalo inget kenapa ya Monica mau sekamar sama aku. Padahal kata temen-temennya aku nih jutek, hiks, kok dia kebal ya dari nasehat teman-temannya, terharu, love youhhh.

Jadi Monica tuh lumayan kebo orangnya. Selalu minta dibangunin, kalo ga, dia akan telat, wkwk. Biasanya dia mandi jam 6. Lucunya, kalo dibangunin, belum sempat apa-apa, langsung ngambil handuk dan masuk kamar mandi. Emang udah balik tuh nyawa? hehehe.

Aku kan dulu suka begadang, jadi dia suka minta aku bangunin dia kalo aku bangun. Yaudah kan, aku bangunin dia, tapi susah bangun, hiks. Aku kan orangnya ga enakan gitu kalo bangunin orang, jadi aku slalu gagal deh bangunin dia.

Monica itu sangat perhatian padaku, eaaa. Kadang dia masakin aku nasi goreng, mie, atau ngasih makanan lain lah ke aku, terharu. Dia aslinya sangat baik. Tapi kadang suka terlalu sopan gitu, wkwk. Gimana ya, namanya juga temen, jadi ya menurut aku ya biasa aja sama aku, kalo ga suka bilang ajaa, jangan dipendem, hiks. Aku jadinya ga enakan gitu kan. Kali aja ada kata-kata atau tingkah laku aku yang salah, banyak ga sih, Mon, hehehe.

IMG_6189.JPG

Trus, pas naik kelas 12, aku ga sekamar lagi sama Monica. Jadi, setelah pulang dari lomba gitu, aku udah dibolehin Bude pindah kamar. Sebenarnya aku belum siap sih, soalnya kemarin masih sibuk lomba, yaudah deh, dengan keadaan masih berantakan, aku pindahin barang-barang aku ke kamar yang baru. And then, aku tinggal di kamar yang baru.

Sejak kami ga sekamar lagi, kami ga seakrab dulu sih. Aku juga mulai sibuk belajar gitu untuk nyiapin SBMPTN. Jadi, lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, so don’t judge me, guys.

Kalo ketemu Monica di kosan, dia suka sok kontra gitu sama aku, bawel banget nih orang, wkwk. Apapun yang aku lakuin pasti dikatain, huhuh. Tapi aku tau kok kalo dia sayang sama aku, cieelah.

IMG_5157

Untuk Monica,

Mungkin aku selalu jutek ya sama kamu. Maaf ya, mungkin aku suka sok gengsi gitu untuk nunjukkin kecarean aku. Aku terlalu gengsi untuk berubah. So, maaf untuk semua kekuranganku, ya.

Makasih sudah sangat care ke aku. Aku tau, dari sekian banyak teman dekat aku, kamu yang paling tulus dan ga akan ninggalin aku di kala terjatuh, eaaa. Makasih untuk semua kenangan dan masa-masa indah di kosan, walaupun kebanyakan aku sibuk  sendiri sama olim. Sesungguhnya aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang kumiliki.

Sudah mau pisah nih….. Semoga apa yang diinginkan tercapai. Sukses terus. Ini ada sepatah dua patah dari aku.

“It’s not about who cares, but how you care”

Tania Evita Salsabila

Jujur aja, untuk memulai nulis ini, aku ngehabisin waktu sekitar sepuluh menit untuk mikir harus mulai dari mana. Semoga Tania suka, ya.

Aku lupa sejak kapan kami berdua dekat. Aku rasa sejak ulang tahun Tania,  kemudian berkembang menjadi teman di les global, hingga makin dekat dan makin akrab.

Dulu kami bersepakat untuk merayakan masing-masing ulangtahun, wkwk. Sebenarnya tadi gamau cerita ini sih, soalnya banyak sedihnya, tapi banyak kenangan manisnya juga. Tak apalah, supaya Tania ingat semua kenangan indah bersama Laily.

Sebenarnya ini bukan acara surprise, karena yang bersangkutan sudah tau, milih sendiri kue ulang tahun, dan request balon warna apa dan gimana, surprise apa-apaan coba. Jadi kami ngerayain Tania di 40avenue, atas permintaan Tania sendiri, wkwk.

Ih, tapi seru sih bagi aku pas jaman-jaman bertiga gitu, walaupun banyak childishnya gitu ya. Kita tuh temenan kayak masih anak SMP. Dikit-dikit marahan, cemburuan, berantem. Duh, alay banget ya, dulu, tapi biarpun gitu, aku kangen, hehehe.

IMG_4003

Trus ya, setelah beberapa lama dari itu, Thessa kan mau ulangtahun, jadi aku sama Tania sok-sokan mau ngerjain Thessa gitu, bikin dia jengkel. Dan alhasil, rencana kita adalah, nyuekin Thessa. Tiga hari sebelum Thessa ulang tahun, aku tiba-tiba duduk sama Tania (sesuai rencana). Terus Thessa ngambek gitu kan. Trus, tambah deh kami isengin dia. Sampe akhirnya agak parah sih akibat kejahilan kita, so sad. Jadi pas hari-H Thessa ulangtahun, Thessa masih marah dan kita juga balik marah karna Thessa ngatain kita, yaelah, jadi kami berdua bingung kan. Udah beli kue dan balon juga ini. Sumpah ulangtahun Thessa tuh gak lucu banget, krik setengah mati. Tapi mereka kangen ga sih masa-masa itu, apa aku aja ya yang kangen, sudahlah.

IMG_4405

IMG_4520

Kami makin akrab karena les bahasa inggris di global. Aku lupa kita les hari apa aja, senin sama rabu ya kalo ga salah. Setiap pulang sekolah, aku sama Tania naik bluebird, kadang juga sama Zhafira dan Mini. Tapi sejak Mini punya motor, Zhafira ikut mini dan akhirnya cuma aku sama Tania deh yang naik bluebird.

Sumpah, aku kangen banget masa-masa ini. Masa dimana aku sama Tania, dan juga Thessa berpetualang di global pada malam hari, ih jangan salah paham, maksudnya les bahasa inggris. Tapi lesnya santai dan bisa sambil main-main, jadi masa itu menurutku seru banget.  Pulang sekolah langsung caw ke global, trus shalat ashar di mushola, abis itu biasanya jajan dulu, baru masuk kelas. Tapi kami lesnya cuma berapa bulan, setelah itu kami berhenti pas udah mau naik level, tau ah, hahaha.

IMG_4556

Jadi, dulu tuh, hampir semua aktivitas yang aku lakuin, Tania tau, ya ga sih. Ga juga sih, tapi pokoknya kalo ada apa-apa pasti kami saling cerita, udah kayak pacar deh. Alasan lainnya adalah karena kami berdua jomblo, jadi ga ada yang merhatiin, wkwk.

Pas di sekolah, kemana-mana pasti sama Tania, pokonya dimana ada aku, disitu ada Tania. Sampe akhirnya aku mulai sibuk intensif gitu, jarang bisa masuk kelas. Jadi aku terasingkan karna harus ikut pelatihan di kelas khusus, akhirnya ga bisa bareng-bareng terus kayak dulu. Cuma pas istirahat makan siang aku ketemu sama Tania. Trus kami pisah lagi deh, dan pelatihan itu berlangsung hampir 3 bulan ya. Ga terus menerus sih, ada jeda sekitar seminggu, trus aku intensif lagi, terus masuk kelas, intensif lagi, ya gitu deh.

Tania selalu support aku, nyemangatin aku, pokoknya kayak pacar aku, heheheh. Aku nyaman banget dulu, sumpah. Aku bebas mengekspresikan diri dan hati aku. Aku mau sedih, bimbang, capek, atau apapun, aku bebas mau ceritain apa aja pokoknya, dan dia selalu mendengarkanku……..

Tapi mungkin sejak aku sibuk intensif gitu ya, aku sama Tania agak renggang. Karna aku ngakuin juga sih kalo aku udah mulai banyak fokus sama hal yang lagi aku tekunin, udah agak jarang cerita sama Tania. Mungkin juga Tania udah terbiasa tanpa aku karna intensifnya itu lumayan lama, hiks. Ga mungkin gitu kan dia harus bergantung sama aku, huhuhu. Aku makin ngerasa jauh dari Tania. Aku gatau kenapa, pokoknya kami ga sedekat dulu, padahal aku kangen banget tuh bisa ngehabisin separuh waktu sama dia, cerita yang tanpa batas. Aku juga mulai ngebatasin cerita, ada beberapa hal yang ga bisa aku ceritain, dan aku juga gatau Tania gimana ke aku.

Aku jadi tambah muak sama intensif-intensif gituan. Aku selalu sendiri, kemana-mana sendiri, aku mulai ngerasa udah jauh dari dunia yang dulu. Aku sibuk sendiri, hiks. Tapi, ya aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang aku miliki saat itu. Bahkan kesempatan itu ga bisa aku ulang tahun depan, ga mungkin banget.

Jadi, ya, waktu terus berlalu. Hingga tiba saatnya perpisahan kelas. Pas itu, aku sama Tania benar-benar renggang. Aku canggung sama dia. Tau ah, ga usah diinget. Sampe akhirnya kami naik kelas 12 dan ga sekelas. Dan sejak itulah aku udah jarang komunikasi sama Tania.

Suka tiba-tiba kangen gitu. Kangen bisa cerita sebebas sama Tania. Tapi, ya, waktu terus berlalu, lama kelamaan aku mulai terbiasa sama keadaan. Dan itu adalah keadaan yang sangat aku benci.

Time changes us

Sekitar dua minggu sebelum pisah, kami mulai dekat lagi. Sumpah, aku seneng banget bisa kayak gini lagi. Aku kangen bangeett, hiks. Apalagi pas Tania nge-snapgram lagu see you again, lagu kenangan kami berdua. Lagu itu sering kami dengerin pas aku lagi intensif dan kami terpisah gitu. Ya ampun, aku nangis pas denger itu, apalagi Tania yang ngirim. Dan rasa kangen aku kian membludak di masa-masa hampir pisah. Aku gatau harus gimana di masa-masa akhir ini. Aku ga bisa berbuat banyak, apalagi setelah UN aku harus ninggalin kosan dan pergi dari Palembang.

Tapi aku ga pengen sedih-sedihan pas di ujung perpisahan ini, aku harus terima kenyataan kalo waktu bareng-bareng itu emang udah menyempit banget, udah habis malah. Aku gatau kesempatan apa lagi yang bisa ngebuat kami bisa bareng-bareng kayak dulu, ke kantin bareng, ke masjid bareng, ke dapur bareng. Aku gatau kapan lagi, ga akan pernah, semuanya udah berakhir.

Seperti kata Tania, ini adalah takdir Tuhan yang memperdekatkan kami lagi ketika di ujung jalan. Mungkin Tuhan pengen kita happy ending. Tapi aku percaya, ini ga akan ada ending. Kita akan terus sahabatan. Walaupun aku ga bisa jamin kalo kita akan komunikasi terus, curhat terus, apalagi sering-sering meetup.

Kadang ada saatnya kita harus dihadapkan sama hal yang sangat kita benci, yaitu perpisahan. Tapi kita harus hadapin ini, kita ga bisa membeli waktu yang udah berjalan. Itulah kenapa aku selalu bilang kalau waktu itu penting. Kalo udah gini, siapa yang bisa beli, berapa harganya? ga ada yang bisa jawab, kan. Yaudah, mungkin cuma tulisan yang bisa membawa kita ke masa itu kembali. Walaupun aku gatau, apa masa itu adalah masa yang Tania kangenin atau ga.

Dear Tania,

Mungkin aku bukan sahabat terbaik yang Tania punya. Aku cuma ada di sepertiga masa SMAnya Tania. Aku bukan teman 24 jam, bukan sahabat yang slalu ada di kala dibutuhkan, bukan sahabat yang asik diajak ngobrol, diajak jalan, dan tidak mengeti keinginan Tania. Aku juga bukan sahabat yang keren dan pandai bergaul. Tapi, makasih sudah berusaha nerima aku apa adanya.

Aku juga sadar, mungkin aku ga selalu di urutan teratas dalam daftar nama-nama penting di hidup Tania. Dan aku ga bisa maksa Tania untuk menempatkanku jadi urutan atas. Aku sadar, ga semua yang kita berikan bisa dibalas oleh orang itu. I know that, dan aku terima itu.

Maaf karna aku pernah memaksa Tania untuk lebih care ke aku. Sekarang aku sadar, mungkin aku yang terlalu menganggap Tania berlebihan, mungkin Tania emang ga bisa kasih itu ke aku. Well, aku cuma kangen masa-masa itu, masa yang ga akan pernah balik lagi.

Maaf kalo selama ini Tania hanya terpaksa bersahabat denganku. Aku sering dan selalu berpikir seperti itu sejak kejadian itu. Maaf ya kalo tingkahku dulu selalu membuat jengkel, kesal, dan tidak betah.  Aku janji ga akan gitu lagi,  ya karna waktu kita hampir habis.

Terimakasih karna sudah menemani hari-hariku, mewarnai masa kelas 11ku, mendengarkan curhatanku, memberikanku semangat ketika sedang berjuang. Semoga keinginan Tania tercapai, semoga kita tetap bisa komunikasi dan meetup sewaktu-waktu.

Seperti kata Tania, ini semua belum berakhir, tapi akan ada saat dimana kita kangen masa-masa dulu. Bukan sekarang, tapi nanti. 

From me:

“Persahabatan itu seperti puzzle. Dia tidak utuh dan sempurna, namun itulah dia, apa adanya. Terlihat tak berharga ketika hanya berupa kepingan tak karuan bentuk. Tapi kau bisa merangkainya, menjadi sesuatu yang lebih indah.

Mungkin ketika Tania membaca ini, jarak antara kita hampir jauh terbentang, jauh sekali, ribuan kilometer. Tapi percayalah, aku akan sangat merindukan kenangan-kenangsn bersama Tania. Lebih dari apa yang bisa Tania bayangkan.

Keep fighting, Tania, ditunggu jasnya. See you when I see you again 🙂

 

 

 

 

 

 

Larasati Farumi

Laras adalah salah satu sahabat yang sangattt baik, Ya Allah, eheheh. Bingung nih mau jelasin darimana.

Waktu pertama ketemu itu pas awal pembagian kelas 10. Tapi cuma kayak saling kenal aja. Setelah itu kalo ga salah aku sebangku sama dia, tapi cuma di hari-hari pertama. Akhirnya aku duduk sebangku sama Sarah. Setelah itu, aku lupa karna apa, aku sebangku sama Laras lagi deh. Tiba-tiba aja kayaknya sebangku dan deket sama dia. Anaknya pendiem dan hemat ngomong gitu, cocoklah sama aku.

Terus, seiring berjalannya waktu, cieelah, aku makin deket kan. Namanya juga sebangku. Ngerjain tugas bareng, ke masjid bareng, dll. Laras tuh tempat aku nitip ngeprint. Ntar kalo dia pulang dari asrama, dia ngeprint tugas-tugas gitu, jadi aku nitip. Inget ga, Ras?.

Aku ngerasa nyaman banget sama Laras, sumpah. Ga ada masalah apapun, ga childish-childishan. Semuanya indah gitu dan dia ngajarin aku kalo persahabatan tuh emang indah, ya gak?.

Pas kelas 11, aku ga sekelas lagi sama Laras, huhuhu, so sad. Trus pas kelas 12 akhirnya aku sekelas lagi deh sama Laras, dan sebangku yey. Laras tuh orangnya baik ke semua orang, ye gak. Sahabatnya banyak, yang akrab juga banyak, yang mau juga ada.m, eh, wkkwk.

Kelas 12 bareng Laras

Masa-masa kelas 12 yang indah dan sulit bersama Larasati Farumi atau yang suka aku ledekin larasumik ini tidak akan terlupakan, eaaa. Jadi kan, aku ga rajin-rajin banget nih selama kelas 12. Aku ga terlalu mementingkan nilai karna aku mau lebih fokus ke tes yang harus aku hadapin Mei nanti. Jadi aku suka nyontek tugas gitu sama Larasumik, apalagi biologi. Mungkin hampir semua tugas biologi tuh aku nyontek sama Larasumik kalo ga Thea. Dampaknya aku ga terlalu paham materi itu, hiks. Tapi gapapa lah, wkwk.

Ada juga masa-masa foto alkena. Jadi aku sama Laras se-tim gitu, sama Rafli juga. Kami sibuk bareng deh ngurusin kostum, rias, termasuk ngedumel karna pemotretan kita paling terakhir, pokoknyo suka dan duka alkena deh. And it’s mean, foto alkenaku bareng Larasumik, yey. Dan itu akan dikenang sepanjang masa, hahaha.

Trus masa-masa dia ulang tahun. Dia ditembak sama Adam, kan, wkwk. Apaahubungannya ya sama aku. Tau ah. Ohiya, Laras suka curhat gitu sama aku tentang Adam, cie pacarnya romantis banget sama Laras. Kalo Laras lagi nginep di kosan, Adam suka bawain makanan gitu untuk kami berdua, thankyou, Dam, wkwk. Adam juga suka nanya-nanya Laras gitu ke aku. So, sebagai jomblo aku jadinya tambah ngenes. Tapi gapapa, demi Larasumik. Aku seneng liat Laras seneng, hehehe. Semoga Adam bisa buat Laras seneng terus, ya.

Masa-masa aku terpuruk karena obat juga mengingatkanku pada Laras yang menjadi tempatku mengeluh, selalu mengertiku meskipun dia tidak pernah berada di posisiku,  hehehe.

Laras pernah nginep beberapa kali di kamar aku, wkwk. Entah karena apa aja, aku lupa. Dari beberapa temen aku yang mampir ke kamar, cuma Laras yang ga ngantuk di kamar aku. Ohiya, Laras tuh hobi begadang. Dan ajaibnya, dia ga minum kopi, cuy. Lihat tuh kantung matanya, lucu, wkwk.

Laras itu orangnya sangat rapi dan hati-hati. Punya kemampuan pengarsipan yang bagus. Jadi semua data dan tugas punya dia itu benar-benar tertata dengan sangat baik, pantes nih Adam suka, cieee.

Ohiya, aku dan Laras itu sering kompakan bolos sekolah, hadeh. Tapi kita di rumah belajar, loh. Karena kita kadang bosen sama rutinitas sekolah yang kerap kali wasting time. Jadi, ya, kami memutuskan bolos berdua. Lucu kan ya, sebangku sama-sama sekolah, cukup sering pula. Tapi gapapa, disitulah nikmatnya SMA.

Speechless kalo teringat semua kenangan bersama Laras. Suka dan duka telah kita lewati. Mulai dari masa-masa kelas 10 dan asrama, masa-masa sulit di kelas 12, masa-masa US, UP, USBN, UN, semuanya.

Kado dari Laras

Mungkin untuk pertama kalinya ya aku dapetin kado bikinan sendiri dari si pengirim. Kado yang slalu aku impikan. Tau karena apa? Karena lewat itu, kita tau bahwa si pengirim bisa ngasih sesuatu yang sangat berarti dalam hidup dia, yaitu waktu. Jujur aja, kado berupa waktu lebih aku hargain dari apapun. Itu hal yang mewah bagi aku. Karena jujur, aku jarang banget dapetin waktu dari seseorang, yaara. Semua orang bisa ngasih harta benda, tapi jarang yang bisa ngasih waktu dengan tulus, so sad.

IMG_20170327_170427

IMG_20170329_144835.jpg

Dear, Larasumik,

Terimakasih karena telah menerimaku apa adanya, sangat mengertiku, mendengarkan curhatanku yang sangat panjang, mendengarkan keluhanku tentang obat, mendengarkan semua impianku, cita-citaku, keinginanku. Bersama-sama melewati masa-masa sulit yang tidak akan pernah kita lupakan.

Maafkan aku yang selama ini mungkin kurang peduli atau tidak menjadi sahabat yang kamu inginkan, tidak berada di sampingmu ketika butuh, bukan pendengar curhat yang baik, dan sebagainya. Terimakasih karena telah menerima semua kekuranganku, wahai Larasati Farumi.

Semoga tercapai semua impian kita. Semoga kita bisa bertemu dengan jas almamater yang sama. Apapun yang akan terjadi, percayalah itu yang terbaik dari Tuhan. Aku tau bagaimana Laras bedoa dan bekerja keras untuk itu.

And the last, untuk Larasati Farumi yang sangat kusayangi,

“Persahabatan itu tidak memilih dengan siapa, tapi kita yang memilih apa, seberapa, dan bagaimana”

“Orang yang tidak akan pernah membuatmu lupa adalah orang yang menemanimu ketika berjuang”

GOOD LUCK, DOAKU MENYERTAIMU