Hidup itu Matematika

Hidup ini begitu luas

Berhimpun dangan panjangnya perjalanan

Serta lebarnya kesempatan

Dalam setiap deretan baris,

Kulogaritmakan hidupku yang penuh aljabar

Rasa penasaranku semakin memuncak 

Bersama naiknya volume daya pikirku

Tanda tanya mulai mengelilingi pikiranku

Kutelusuri setiap diameternya

hingga kutemukan suatu titik pusat

Hidup ini seperti Trigonometri

Yang memiliki berjuta rumus

Sulit untuk dipikirkan dengan logika

Sulit untuk dijabarkan dengan grafik

Dalam suatu bidang koordinat,

Kufaktorkan hidupku ruas demi ruas

Kueliminasikan setiap domain yg tak berfungsi

Kusubstitusikan setiap range yang kudapat

Pada akhirnya, kutemukan suatu ekuivalen yang bermakna,

“Hidup ini seperti MATEMATIKA, penuh perjuangan”

Mama, Seputih Melati




Kau bunga di tamanku

di lubuk hati ini
Mama, ia tumbuh dengan indah di hatiku. Memberikan kenyamanan yang tiada tara di kehidupan ini. Didekat mama, aku merasa tenang, merasa lebih berwarna. Mama akan selalu berbunga di hatiku, di lubuk hati ini.

Mekar dan kian mewangi

melati pujaan hati,
Mama selalu mekar, hatinya, senyumannya, merekah. Kebaikannya bagaikan wewangian, semerbak, harum, sehingga setiap orang pun merasa nyaman berada di dekatnya. Mama menjadi pujaan bagi hati kami, menjadi tempat bersandar ketika anaknya bersedih. Menjadi pujaan bagi suaminya, melayani dengan sepenuh hati.

Bersemilah sepanjang hari

mewarnai hidupku
Mama selalu melakukan hal terbaik, setiap hari, sepanjang hidup kami. Ia bagaikan pelangi, warna-warni, beragam. Namun, tetaplah indah, mewarnai setelah kemendungan datang dalam hidup kami, anak-anaknya.

Agar dapat kusadari

artimu bagiku

Tetaplah bersama kami, di kehidupan kami. Semakin lama, kami akan menyadari arti mama dalam hidup kami. Betapa indahnya memiliki seorang mama. Betapa pentingnya mama dalam hidup kami.

Kau melati,

putih dan bersih

Mama bagaikan bunga melati. Hatinya putih lagi bersih. Hatinya tulus menyayangi, tulus membantu, tanpa mengharap kembali. Jiwanya bersih, tak ada dendam, tak ada noda, bersih.

Kau tumbuh diantara belukar berduri
Masa kecil mama, belukar berduri. Tak seindah kami. Tak seberentung kami. Masa kecilnya, penuh perjuangan, penuh tragedi. Namun, mama tetap tumbuh, indah, wangi.

Seakan tak perduli lagi
Meski dalam hidupmu kau hanya memberi
Mama tak pernah mengharapkan apapun terhadap apa yang ia berikan. Ia memberi banyak hal. Kasih sayang, pengorbanan, kehidupan. Ia tak marah, tak peduli apabila kami belum dapat membalas kebaikannya. Mama, tanpa pamrih.

Kau tebar harum sebagai tanda 
cinta yang tlah kau hayati
Teruskan tebarkan kebaikanmu, Ma.  Kami pun akan terus menebarkan kasih sayang kami kepada mama. Sebagai tanda sayang kami kepada mama.

di sepanjang waktu

Temani kami, bimbing kami, sepanjang waktu, sepanjang hidup kami. Kami akan terus membutuhkan kasih sayang mama, sepanjang waktu.

 

Malam Keempat Belas

Matahari telah terbit dan tenggelam empat belas kali

Empat belas kali juga malam telah datang dan pergi

Kebelakang, aku menengok kembali

Apa saja yang telah tejadi di awal tahun ini

Pantai pertama di awal tahun, telah berlalu, terlewatkan

Sebenarnya aku telah mendapatkan izin singgah,

Namun apalah daya, perahu ini malah memilih berbelok

Apalah daya, harapan belum dapat terpenuhi

Hanya untuk sekedar singgah di pantai itu

Sudah ku bahas terkait pantai

Hanya pelepas penat

Dalam waktu sesaat

Sama sekali tak tetap

Hanya memoroti waktu,

terusir dalam sekejap

Sudah, terkait pantai itu, sudah hilang di belakang

Setidaknya aku bisa sedikit menerawang

Walau rencana pertama harus dilupakan,

 hilang, terbang melayang

Waktu berteriak lantang,

Menyuruhku lintang pukang

Karena irama ombak makin menegang

Bersegeralah, mendayung, menuju seberang

Lima kali purnama lagi

Perjalanan ini akan begitu singkat

Meski kutahu akan terasa berat

Menjawab pertanyaan yang senantiasa datang,

 Untuk apa, kemana,

Bagaimana, dan kapan harus kembali

Bahan bakar ini, semakin menipis

Kemana lagi harus mengais

Yang kerap datang hanya gerimis

Aku harus bersegera, sebelum semua habis

Aku Pamit kepada Tengah Malam

Teruntuk alam semesta

Kupunya pertanyaan

Mengenai tengah malam,

Bolehkah aku bertemu?

Tanpa harus dihantui

Dihantui oleh sesuatu

Sesuatu yang selalu melarang

Melarang bertemu tengah malam

Tengah malam,

Aku sungguh membutuhkanmu

Namun tak cukup engkau seorang

Aku juga butuh kedamaian hati

Dan ketika kalian berdua menyatu

Perahu ini akan melaju lebih kencang

Sungguh aku sungguh yakin

Namun apalah dayaku

Sesuatu telah mulai mengambilalih

Mengusir kedamaian raga

Kedamaian pikiran, kedamaian jiwa

Hingga kedamaian hatipun ikut pergi

Sesuatu juga telah melarangku bertemu denganmu

Sahabat karibku setahun yang lalu

Yang telah membawa begitu banyak kebahagian

Menjadikan perahu terasa begitu ramai

Penumpang berbondong berdatangan

Juga bahan bakar untuk perahuku

Silih berganti dikirimkan Tuhan

Ingin sekali menyapa tengah malam

Hanya sekedar bertanya apa kabar

Meski ku tahu hatinya selalu hambar

Selalu tabah meski tak semua mengharapkan

Berkenan datang meski terkesan lamban

Ketika segenap penduduk bumi terlelap

Kepada tengah malam,

Perahuku bergerak lamban tanpamu

Aku hanya berteman pada pagi dan siang

Namun mereka tak begitu ramah

Kedamaian pun tak ingin hadir pastinya

Tampaknya mereka bermusuhan

Kepada  sahabatku, tengah malam

Bisakah kau membujuk temanmu, pagi dan siang

Rayulah mereka untuk bersahabat denganku

Sungguh mereka akrab sekali dengan kebisingan

Bahkan sering sekali mereka mengusir kedamaian

Tolong hentikan kenakalan mereka

Tahukah engkau wahai tengah malam?

Pagi selalu mengusikku

Ia hadir dan membangunkan tidurku

Berteriak “obat, obat, dan obat”

Kau tahu, aku seringkali mengutuknya

Ia juga mendatangkan rasa mual

Merusak nafsu untuk melahap sarapan

Entah aku begitu membenci kedatangannya

Wahai tengah malam,

Mungkin siang sedikit lebih ramah kepadaku

Saat ia datang, aku mulai berlayar, meski pelan

Meski takkan secepat ketika bersamamu

Karena kebisingan masih bersahabat dengan siang

Sedangkan kedamaian jarang sekali datang

Mungkin mereka tak ingin disandingkan

Sahabatku, tengah malam

Hamparan bintang bukanlah pertanda mutlak pertemuan kita

Karena aku tak akan menatap hamparan bintang lagi

Hilang sudah hak dan kewajibanku untuk itu

Meski aku tak diizinkan menyapa kehadiranmu lagi

Namun aku tahu kau akan selalu datang

Maafkan aku, sesuatu itu telah melarangku

Obat-obatan itupun menjadi cambuk bagiku

……………………….

Untuk terus dan makin menjauhimu

Kapankah

Umur memang tak dapat diterka

Entah kapan, bagaiamana, dan dimana

Zaman apa, peristiwa apa, dan penyebabnya apa

Aku memang enggan bertanya-tanya tentang itu

Bukanlah pertanyaan yang jitu juga baru

Namun ada pertanyaan lain yang lebih menusuk kalbu

Tujuh belas tahun aku telah hidup

Merasakan dunia yang katanya suatu saat akan redup

Entah apa yang terjadi setelah ini redup

Katanya banyak yang takkan sanggup

Pertanyaan yang kian menusuk adalah

Bagaimana orang mengenang?

Baikkah, burukkah, biasakah

Entah yang mana salah satu dari ketiganya

Yang jelas aku ingin yang pertama

Lantas apa hakku untuk menginginkan yang pertama?

Jelas, itu mutlak keinginan setiap manusia

Namun kurasa memang belum pantas

Perilaku hati masih kurang waras

Perkataan terkadang masih pedas

Juga raga dan tenaga, hanya terkuras

Tanpa makna yang selaras