Maaf Anda tidak Terdaftar sebagai Peserta SNMPTN

Ketika semua terasa gelap, kelam.

Alam sekitar seakan padam

Karena tujuh kata yang seketika menghujam

Baru saja, sedetik yang lalu

Kita membaca tujuh kata berwarna merah itu

Secepat kilat hati berdegup

Kecewa dan sedih bersatu padu

Melirik sana sini

Ada yang tersenyum,

Ada yang menggingit bibir

Ada yang terdiam bingung

Entahlah,

mungkin kita takkan terlalu perduli

Bayangan-bayangan nyata muncul secara abstrak di otak

Orangtua, cita-cita, dan ambisi,

Seakan makin pudar dari bayangan abstrak itu

Namun tentu kita tak ingin membiarkan mereka pudar, bukan?

Lantas apa, apa yang seharusnya dilakukan anak muda ini?

Menghadapi takdir bahwa jalan kita mungkin tak semulus yang lain

Apakah kita sungguh merasa berhak untuk iri?

Apakah kita merasa berhak untuk menyama-nyamakan takdir milik orang lain?

Tentu saja tidak,

Seperti yang diajarkan oleh agama,

Takdir itu tak dapat dibagi, diserahkan, atau dititipkan pada orang lain

Semuanya mutlak milik masing-masing

Apakah kita merasa berhak untuk putus asa?

Berhak untuk bersedih? Berhak untuk marah?

Tentu saja berhak, manusiawi

Namun, harus berapa lama kita merasa berhak?

Hingga tiba saatnya SBMPTN?

Dan kita melihat tanda merah itu lagi?

Lantas apa, merasa berhak untuk sedih lagi?

Terus saja begitu, entah kapan belenggu kita akan berakhir

Coba renungkan,

Kita sedang menggenggam bara api

Bara api milik keluarga

Lantas apa bara api itu akan kita lempar karena terlalu panas?

Terus membakar kedua belah tangan

Hingga seakan kulit semakin hangus karena terbakar

Namun sesungguhnya, itu hanyalah khayalan

Tidak ada yang terbakar, sungguh tidak ada

Justru bara api itulah yang menjadi pengobar semangat juang

Keluarga menitipkannya pada kita

Mereka sungguh berhak atas itu

Mari kita mengingat masa kecil,

Sungguh indah, bahagia,

Namun semuanya telah berlalu,

Masa tanpa bara api itu benar-benar telah berlalu

Kita harus beranjak pergi

Kita sepenuhnya telah mendapatkan hak

Hak untuk hidup gembira, tanpa beban

Tanpa menyandang apapun,

Namun, apakah memang kita masih kecil?

Apakah kita merasa belum berhak menggenggam bara api?

Melemparkan begitu saja karena tak sanggup?

Karena merasa terlalu panas?

Bara api itu adalah penentu masa depan keluarga

Mau kita bawa kemana?

Mau kita apakan?

Mau kita lemparkan?

Merenunglah,

Disini aku tak memiliki jurus jitu untuk bangkit dari keterpurukan,

Karena yang mampu membangkitkanmu adalah dirimu sendiri,

Hatimu sendiri,

Jangan berlarut-larut pada kegagalan

Karena tujuh kata berwarna merah itu bukanlah lambang kegagalan,

Tapi hanyalah sebuah simbol tertutupnya satu pintu

Masih ada ribuan pintu di luar sana

Bangkitlah, bara api keluarga di gengggaman kita

 

 

Advertisements