Sepercik Tujuan

Tujuan utamaku dalam memilih pulau ini sebagai tempat persinggahan sangatlah sederhana. Aku hanya ingin menjadi salah satu peserta OSN, hanya itu, tidak lebih.

Aku tak pernah punya impian untuk menjadi seorang juara umum lagi, bintang sekolah, berbakat. Entahlah, semua itu tak pernah terpikir dalam benakku. Mungkin memang tak pernah ada dalam niatku. Rasanya semua keglamoran itu cukup abstrak.

Aku ingin menjadi remaja yang bebas namun terkendali.Dan aku sungguh yakin bahwa pulau ini sangat bahkan benar-benar sangat bisa mengendalikanku dari perilaku menyimpang.

Aku ingin terbang kesana kemari, tanpa buku-buku tebal yang wajib kubawa agar nilaiku tidak turun. Menjaga nama baik, dan senantiasa berperilaku baik. Aku ingin menjadi apa adanya. Suka tidak suka, mau tidak mau, terlihat jelas siapa yang mendekat.

Advertisements

Terbuang

Aku belajar matematika lebih jauh, lebih dalam, namun secara sembunyi-sembunyi. Ingin sekali rasanya mewujudkan misi utamaku di pulau ini, menjadi peserta OSN matematika.

Aku berlayar lebih kencang pada malam hari, menuju suatu ajang kompetisi bernama OSN. Hingga tibalah aku diuji kelayakan untuk memasuki arena pertama, menjadi tim olimpiade di sekolah. Aku mengisi 5soal itu dengan hati-hati dan kebingungan.

Ternyata persiapanku sama sekali tidak matang untuk urusan ini. Aku ditolak menjadi tim oleimpiade sekolah. Aku terbuang dari kompetisi awal ini.  Hari itu, aku mengiklaskan misi utamaku, sirna.

Move on

Aku tidak pernah melupakan misi utamaku. Namun aku mulai sadar, matematika bukanlah sesuatu yang tepat untuk kupilih. Mungkin selamanya ia takkan pernah mengantarkanku ke OSN, sampai kapanpun.

Aku mulai berpindah hati, mempersiapkan bekal di tahun depan. Bekal yang kupersiapkan kali ini bukan matematika lagi. Tapi fisika. Aku tidak akan mengikuti seleksi tim olimpiade fisika, tapi astronomi.

Semuanya bermula dari rasa kekhawatiranku terhadap nilai fisika yang terbilang cukup tinggi. Masalahnya, aku masih kelas 10 dan harus mempertahankan nilai fisika itu. Padahal menurutku aku tidak terlalu paham mengenai fisika, selalu tidur ketika guru mengajar, juga kurang perduli dengan tugas-tugas yang diberikan. Entah mengapa guruku terlalu baik hati memberiku nilai setinggi itu. Namun itu cukup menyengsarakanku dalam mempertahankannya.

Ketika jam kosong di asrama, aku selalu menghabiskannya dengan belajar fisika di masjid. Makin lama, aku terjun makin dalam ke dunia fisika. Aku berusaha sebisa mungkin mendapatkan nilai yang sama seperti semester satu ini. Hanya dengan belajarlah caraku untuk mempertahankannya.

Suatu hari, di masjid saat jam kosong, aku sedang belajar fisika. Chelien, mantan teman sekamarku saat MOS dan latdis menghampiriku. Kalimat yang tak pernah kulupakan darinya adalah “Ngapo dak nyoba olim astronomi be?. Itu kan gabungan fisika dan matematika.” Ia bertanya kepadaku mengapa aku tidak mencoba mengikuti seleksi untuk menjadi tim olimpiade astronomi saja karena astronomi adalah ilmu gabungan antara fisika dan matematika, menurutnya.

Semula aku tak menanggapi terlalu serius celetukan Chelien itu. Namun lama kelamaan, selalu terpikirkan, kupertimbangkan dengan baik. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mulai mempersiapkan bekal menuju seleksi itu. Astronomi, aku telah berhasil berpindah hati.

Dipungut

Aku telah mempersiapkan diri untuk menjadi salah satu tim olimpiade astronomi desekolahku. Ternyata peminat olimpiade ini sangatlah sedikit, bahkan Pak Rudi, pembinanya berusaha mencari kesana kemari peserta yang mau hanya sekedar ikut.

Olimpiade ini kuranglah diminati, sungguh sepi, hingga akhirnya penyeleksian terus ditunda hingga pemniatnya melebihi target yang dimiliki Pak Rudi. Aku tetap yakin memilih olimpiade ini meskipun bidang ini terkesan tak dipandang orang, tidak terlalu keren, cupu, aku tetap mantap memilih ini.


Hari penyeleksian pun tiba. Aku mengisi dengan sepenuh hati, berharap penuh. Aku mengajak Thessa untuk mengikuti tes itu, ia hanya ikut-ikut saja. Dan alhasil, kami berdua lolos menjadi dua diantara sepuluh anggota tim olimpiade astronomi di sekolah.

Aku benar-benar senang, akhirnya Pak Rudi bersedia memungutku untuk menjadi anggota tim binaanya. Semakin lama, aku semakin menerjuni dunia astronomi.

Karantina Menuju OSK

Tak terasa, OSK hanya tinggal satu bulan lagi. Kami, para anggota tim olimpiade sekolah mulai dikarantina. Karantina disini maksudnya tidak diperkenankan belajar di kelas. Kami diasingkan bersama anggota bidang masing-masung di kelas tertentu.

Awalnya, kelas astronomi tidak mendaptkan ruangan. Entahlah, aku lupa seharusnya di ruangan mana. Kami berpindah kesana kemari. Tampak sekali bagiku bahwa astronomi dipandang sebelah mata, cukup terkucilkan. Awalnya kami ditempatkan di bagian laboratorium fisika. Dibiarkan duduk lesehan dan disuruh membaca materi yang telah disampaikan Pak Rudi. Namun itu sama sekali tidak efektif, kami digabungkan dengan anak-anak didik yang sedang diajar Pak Rudi. Tentunya kegaduhan kelas menganggu konsentrasi kami.

Kemudian kami disuruh pindah ke ruangan privat laboratorium fisika milik Pak Rudi. Namun itu sama sekali tidak efektif karena kami bersepuluh bersempit-sempitan di dalamnya, panas dan pengap.

Lalu kami disuruh pindah ke ruangan A31, ruangan di lantai 3 gedung A. Mood kami mulai menurun karena merasa terasingkan, tidak seperti perserta bidang lain yang menempati perpustakaan dan ruangan di gedung B.

Sebenarnya niat Pak Rudi mengasingkan kami adalah agar kami tidak terpengaruh ajakan teman yang akan menganggu konsentrasi belajar. Dua tiga jam dalam sehari, Pak Rudi membina kami, baik dengan teori maupun motivasi.

Dari hari ke hari, aku merasa makin kecil, makin tenggelam. Nampaknya beberapa dari mereka telah mempersiapkan dengan matang, termasuk adik kelas yang masih kelas 10, mereka tampak tak terlalu kalah dari kelas 11.

Setiap harinya kami lewati dengan membahasa soal, mendalami materi, dan terkadang belajar mandiri karena Pak Rudi harus mengajar di kelas. Aku berenang makin dalam, mempersiapkan bekal sebaik mungkin untuk mempersiapkan tes kelayakan menuju kompetisi selanjutnya menghadapi OSK.

Seleksi OSK

16 Februari 2016,

Aku merasa persiapanku sudah maksimal. Aku tak pernah menyesali sedikitpun waktu yang telah berlalu dalam menyiapkan OSK ini. Aku telah berusaha maksimal dan berdoa maksimal pula. Aku meminta doa dari orangtua, nenek, beberapa anggota keluarga di rumah, Pak Rudi, dan juga teman-temanku. Tanpa doa dari mereka, aku bukanlah apa-apa. OSK berlangsung lancar. Semula, aku tak terlalu percaya diri untuk lolos. Karena salah satu temanku mengatakan bahwa ia mampu menjawab soal jauh lebih banyak dari yang aku mampu. Aku benar-benar tak terlalu berharap waktu itu.

Pengumuman OSK

25 Februari 2016,

Kala itu, aku sedang pulang ke Baturaja karena satu hari yang lalu, nenekku meninggal. Kala itu, aku sedang tidur siang karena lelah menangis atas kepergian nenek. Tiba-tiba aku terbangun karena suara line di HP ku yang terus berbunyi. Masih dalam keadaan berbaring, aku mencoba membaca isi line itu. Aku pun mencoba untuk bangun dari pembaringan. Aku pun mulai fokus membaca isi line yang intinya adalah, aku lolos osk!. Apakah aku mimpi? Aku baru saja terbangun dari tidur. Aku mencoba tetap tenang dan tak terburu-buru mempercayai ini. Berulang kali, aku membaca isi line dari Tania dan menanyakan kebenaran berita itu. Ternyata memang benar, aku lolos osk.

Aku pun segera mencari mama. Dengan wajah yang sumringah namun tetap berbicara pelan karena kami masih larut dalam duka, aku menyampaikan berita itu kepada mama. Mama langsung memelukku dan menangis. Momen yang tak terlupakan sepanjang hidupku. Prestasi pertamaku selama SMA. Selama satu tahun setengah ini, aku tak pernah menorehkan prestasi apapun yang terkadang membuatku merasa bersalah karena belum dapat membuat mama bangga. Mama bercerita kalau nenekku sangat menantikan pengumuman ini. Nenekku sangat berharap aku lolos. Ia selalu mendoakanku setiap malam, ujar mama. Aku tak dapat membendung kesedihanku. Namun, aku juga berbahagia kala itu. Semuanya campur aduk menjadi satu kesatuan. Biasanya, aku selalu bercerita tentang apapun kepada nenekku. Termasuk mimpi-mimpiku mengenai OSN. Kini aku tak dapat lagi menceritakannya. Nenek telah jauh dariku.

Karantina lagi

3 Maret 2016,

Karena aku dinyatakan lolos OSK, maka aku pun harus meninggalkan kelas lagi hari ini. Aku mulai merasakan kesepian. Tanpa teman sekelas, tanpa sahabatku, Tania. Hari-hariku mulai dilalui dengan astronomi, astronomi, dan astronomi. Semangatku mulai surut. Ditambah lagi dengan teman-teman yang kurasakan mulai menjauh. Aku mulai menjauh dari keseharian mereka. Karena alasan situasi dan kondisilah yang membuatku seperti ini. Aku tak pernah menginginkan hal ini. Hari-hari kulalui bersama Raehan dan Pak Rudi. Dari tim astronomi, tiga siswa berhasil lolos OSK, yaitu aku, Raehan, dan Ilham. Raehan adalah siswa kelas 10 yang menempati urutan keenam di juara OSK. Ilham menempati urutan pertama, seperti tahun lalu. Dan aku, ketiga. Ilham jarang mengikuti pelatihan karena beberapa alasan. Oleh karena itulah aku hanya menghabiskan waktu bersama Raehan dan Pak Rudi. Ketika anak dari bidang lain belajar di perpustakaan, Pak Rudi menempatkan aku dan Raehan di A11, ruangannya. Alasannya karena agar kami lebih fokus belajar dan tidak terkena gangguan yang ada di perpustakaan. Aku hanya menurut, aku tahu niat Pak Rudi baik. Kami menghabiskan hari-hari yang panjang di ruangan Pak Rudi, meski terkadang suara kelas yang sedang Pak Rudi ajar menganggu konsentrasi kami, tapi kami tetap serius.

Pelatihan di Bogor

13 Maret 2016, 

Hari ini, aku dan keenam temanku akan segera berangkat ke Bogor untuk mengikuti pelatihan pra-OSP. Pukul 6 pagi, Opik menjemputku di rumah kos. Karena rumah kami yang tak terlalu jauh, maka aku pun diantar dengan mobil Opik bersama Opik dan orangtuanya. Sungguh kebaikan kecil yang tak terlupakan. Tak lama kemudian, kami pun tiba di bandara. Disana sudah ada Ilham, Dhanti, dan orangtua mereka masing-masing. Saat itu, hanya orangtuaku yang tak hadir. Karena statusku sebagai siswa excity, sehingga tidak memungkinkan untuk sama seperti mereka. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Mam Wyd datang dan mengajak kami untuk check in. Mam Wyd adalah koordinator olimpiade yang mengurus berlangsungnya olimpiade hingga tingkat OSN. Setelah semua selesai dan pamit kepada orangtua masing-masing, kami pun menuju peswawat karena pesawat akan segera berangkat.

“Hari itu adalah penerbangan pertama sepanjang hidupku. Astronomi telah membawaku melayang, jauh terbang, mengarungi langit Palembang”

Hari Pertama Pelatihan

Bogor, 14 Maret 2016

Hari ini adalah hari pertama pelatihan pra-OSP. Aku berkenalan dengan teman-teman baru di bidang astronomi. Aku langsung mendapatkan dua teman akrab yang kelak akan membantuku dalam banyak hal. Ia adalah Raisah dan Inas. Setelah berkenalan, Kak PJ, guru baru kami menyuguhi kami lima soal permulaan untuk menguji sejauh mana kemampuan kami sekarang. Aku tak terlalu fokus saat itu. Aku hanya mengisi dua soal dari lima soal. Aku tak menyangka jika soal yang disuguhkan itu akan menjadi nilai tes hari ini. Aku kira hanya soal biasa. Alhasil, aku hanya mendapat nilai 4 dari skor 100. Benar-benar memalukan. Seandainya aku lebih berkonsentrasi dan tak mudah menyerah. Hari ini, kami lalui mulai pukul 8 hingga 5 sore dengan tiga kali istirahat. Aku menghabiskan waktu istirahat tersebut bersama Inas dan Raisah. Mulai dari coffe break, makan siang, hingga shalat, kami selalu bersama.

Seharian aku menahan kantuk yang luar biasa hingga menyebabkan kepalaku sedikit pusing. Tapi, hari itu berjalan cukup lancar. Sorenya aku kembali ke kamar. Aku sekamar dengan Dhanti dan Candisa, teman satu sekolahku sendiri. Mereka berdua dari bidang geografi. Jadi, seringkali mereka berbincang mengenai kelas mereka hari itu. Sepertinya begitu seru, tak kalah dengan kelasku. Malamnya, aku, Dhanti, dan Candisa makan malam di ruang makan Wisma. Ya, kami tinggal di wisma P4TK ketika pelatihan itu. Sehabis makan, aku mengajak Raisah dan Inas untuk belajar malam bersama Kak PJ. Namun, mereka mengeluh kelelahan sehingga aku pun memutuskan untuk belajar di kamar saja. Sedangkan Dhanti dan Candisa, memutuskan untuk belajar di kelas malam.

Pukul 9 malam. Aku mulai mengantuk. Sedangkan Dhanti dan Candisa terlihat tetap segar dan fokus belajar. Benar-benar hebat mereka berdua. Aku pun memutuskan untuk tidur duluan dan akan melanjutkan belajar ketika pukul 3, waktu favoritku.

“Malam itu, nenek mengunjungiku dalam mimpi. Hadir, mengenakan dress putih, menyapaku, membelaiku. Saat itu, aku tak menyadari jika nenek telah tiada di dunia ini. Aku memeluknya dengan hangat, aku merindukannya, ingin bersamanya.”