24 Januari 2017

Aku berusaha tenang dan bertanya baik-baik pada langit. Gerimis itu terus datang, menggoyahkan keseimbangan perahu. Mungkin langit mulai tak sabaran menyuruhku memutuskan. Namun Tuhan belum memberikan petunjuk-Nya. Entah kapan akan diberikan padaku.

Aku berunding pada langit, bukankah aku kemarin telah memilih? mengapa dipertemukan pada muara lagi?. Mereka kurang adil dalam menghakimiku. Bukankah aku telah mengikhlaskannya? lalu mengapa ada muara lagi? seolah-olah sengaja ingin menggoyahkan.

Aku tak ingin ingin berprasangka buruk pada langit. Aku berusaha mengkaji lebih dalam apa maksud langit melakukan semua ini. Apakah Tuhan telah menyuruh langit untuk menegurku. Apakah pulau itu bukanlah yang terbaik untukku?.

Semakin banyak aku bertanya, gerimis itu kian deras, hujan, semoga tidak banjir. Aku pun menjadi malas mengemudikan perahu ini. Bingung harus berbuat apa. Muara ini begitu membingungkan. 

Sebentar saja, aku merasa Tuhan telah memberikan petunjuk. Sebentar saja aku mencoba mengikhlaskan pulau impian itu. Namun sekian detik kemudian, aku seolah mendapat petunjuk lagi. Ya Tuhan, hingga hari ini aku terus bertanya, kemanakah arah yang harus kutempuh?

 

 

Advertisements

23 Januari 2017

Entah jenis gerimis apa yang baru saja tumpah. Cukup deras dan mengkhawatirkan. Perahuku terombang-ambing. Aku berteriak gaduh, bertanya mengapa?.

Aku dihadapkan lagi pada suatu muara. Kali ini benar-benar membingungkan, menggoyahkan hati. Pikiranku benar-benar terkuras karena gerimis yang disertai pertemuan dengan muara ini.

Jalan kanan yang telah kupilih, belum sepenuhnya menjauhi jalur kanan. Kali ini Tuhan menyuruhku lagi memilih, kanan atau kiri. Entah pertanda apa yang Tuhan maksudkan pada perjalanan perahu ini.

Hanya tersisa beberapa malam untuk menentukan. Sungguh bukan pilihan yang mudah. Walaupun sebenarnya jalur kiri tidaklah begitu menjamin. Semua orang memang mengincar, karena pulau impian mereka tersedia melalui jalur kiri. Sedangkan aku, hanya ada di jalur kanan. 

Sore ini, gerimis hampir meluluh lantakkan keseimbangan perahu. Aku ngeri, mungkin langit murka kepadaku. Tapi bukankah langit sama sekali tak punya hak untuk menentukan kemana arahku berlayar?.

Entah mengapa muara itu kian mengerikan. Aku takut salah memilih, sungguh takut. Hatiku ingin memilih jalur kanan yang menyediakan bahan bakar yang cukup, setidaknya untuk diriku sendiri. Salah satu pulau yang berada di jalur kanan menyediakan banyak hal yang akan menjamin keberlangsungan hidupku selama membekali diri disana.

Sedangkan jalur kiri, aku harus membeli bahan bakar yang terbilang mahal di setiap pulau manapun. Sungguh aku tak tega membiarkan kedua orangtuaku membelinya terus menerus. Aku ingin membelinya sendiri, namun aku tak yakin aku mampu secepat itu.

Aku masih terdiam di depan persimpangan ini. Menimbang baik-baik. Meski pada akhirnya, malam ini hanya muncul gerimis yang menggoyahkan perahu ini. Ya Tuhan, manakah yang terbaik?

21 Januari 2017

Perahuku mogok. Nampaknya akan kehabisan bahan bakar. Oh Tuhan, minta pada siapa lagi, minta bantuan apa lagi?. Mengapa semakin banyak bahan yang kuperlukan seiring habisnya masa sewa di pulau ini. Bukannya semakin murah, harga bahan bakar semakin melonjak drastis. 

Aku kebingungan. Merasa bersalah pada mama dan papa atas tindakanku memilih pulau ini. Aku merasa terlalu kejam untuk meminta dibelikan bahan bakar yang selalu terbilang mahal di pelabuhan ini. Tapi tanpa itu, perahu ini tak dapat berkutik, tak dapat beroperasi kemanapun. Sedangkan aku belum memiliki sampan yang cukup baik untuk mendayung perahu sendiri. Aku butuh bantuan mesin, dan mesin membutuhkan bahan bakar itu.

Aku menatap gerombolan perahu sekitar. Banyak yang tampak bagus dan mewah. Banyak pula yang sederhana. Ada sebagian yang mampu membeli bahan bakarnya sendiri. Tapi lebih banyak dibelikan oleh orangtuanya, sepertiku. 

Namun perahuku sama sekali tak megah. Kalaupun megah, itu karena dekorasiku sendiri. Pernah satu dua kali aku mendapatkan pernak pernik yang bagus untuk mendekorasi perahu. Dan pernak pernik itu adalah beberapa prestasi yang kucapai dalam masa pembekalan di pulau ini

Memang tidak seindah milik temanku, jauh sekali. Semuanya kudapatkan dengan susah payah. Berpuluh-puluh malam dan juga siang aku berusaha mendapatkan pernak pernik itu, penghargaan itu. 

Pernak pernik itu tampaknya juga tak terlalu hebat. Aku ingat sekali ketika wajahku yang sempat terpampang di banner dicopot, kemudian dijadikan alas pengadukan semen, diinjak-injak. Hatiku begitu teriris. Sebegitu mudahnya  mereka merendahkan kualitas pernak-pernik capaianku?

Sudahlah, yang terpenting aku akan segera menuntaskan masa sewa di pelabuhan ini. Memang ada beberapa yang kurang menyenangkan. Tapi bagaimanapun, aku pernah tinggal disini, tumbuh disini, dan menyiapkan bekal disini. 

Mungkin semuanya akan berubah lebih menyenangkan jika aku telah beranjak pergi, sama sekali tak diperbolehkan untuk menetap disini lagi. Tentulah aku tak ingin menetap lebih lama. Itu sama saja aku tidak lulus dan tinggal kelas. 

Terkait bahan bakar tadi. Aku sangat malu untuk minta dibelikan terus menerus. Ingin rasanya aku membeli sendiri. Atau paling tidak bisa membeli sampan yang bagus agar bisa mendayung lebih leluasa.

Namun selama ini pun, aku belum terlalu menguasai teknik mendayung. Entahlah, aku merasa umurku masih terlalu muda untuk melaksanakan kegiatan itu. Tapi aku tahu, sebentar lagi aku harus menguasai tekniknya, aku harus menafkahi diriku sendiri setidaknya. 

Ingin sekali rasanya mendayung sendiri, tanpa minta dibelikan bahan bakar oleh mama dan papa. Bahkan aku ingin sekali membelikan adikku bahan bakar. Ingin rasanya melihat mama dan papa berhenti menunaikan tugasnya, berleha-leha menikmati masa yang kian tua. 

Namun apalah dayaku. Mungkin perahu ini belum sekokoh itu, sehebat itu. Juga sampan yang bagus itu, belum mampu kubeli sendiri.Namun aku berjanji, akan tiba waktunya aku membelikan semuanya untuk keluargaku.

13 Januari 2017

“Selamat ulang tahun, Mama.” ucapku pada mama melalui aplikasi line. Tak lupa kuketik harapan-harapan dan doa untuk beliau. Hingga saat ini, aku tak dapat memberikan apapun untuk mama, juga hadiah. Entahlah, mengapa kami kurang terbiasa dengan tradisi memberi hadiah di hari ulang tahun. Pernah dulu aku ingin membelikan mama handphone baru, sebagai rasa bersalah karena kelalaianku beberapa bulan yang lalu. Aku ceroboh, menggeletakkan HP mama begitu saja di tengah keramaian pada acara 40 hari nenek. Dan ketika aku kembali, HP itu sudah raib.

Tapi lagi-lagi niatku ini tidak terlaksana dengan baik. Entah mengapa tidak pernah terlaksana. Juga ketika hari ibu, aku berniat untuk membeli bunga untuk mama. Tapi tiba-tiba aku jatuh sakit dan terbaring beberapa hari.

Aku menghela nafas. Tahun depan, aku harus benar-benar memberi kado untuk mama. Aku harus menabung, mempersiapkan semuanya dengan baik. Tidak seperti tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Aku harap papa memberi mama kue ulang tahun. Jarak yang terbentang antara aku dan keluarga membuat kami tidak bisa merayakan ulang tahun bersama. Selalu aku sendiri dan mereka bertiga: mama,papa, dan Reyhan.

Kukirimkan video yang telah kubuat beberapa hari yang lalu. Aku harap mama menyukainya.


Papa ternyata memberikan surprise untuk mama. Aku senang nelihatnya. Mama mengupload foto di instagram, juga foto ucapan dariku. Semoga di umur mama yang 37 tahun ini, mama bisa menjadi ibu sekaligus istri yang lebih baik.

11 Januari 2017

Beberapa kertas penting telah ku print out. Mulai dari surat untuk kepala sekolah yang menyatakan aku lolos babak penyisihan lomba itu, kertas berisi daftar nama peserta yang lolos, hingga mekanisme pelaksanaan lomba. Aku berharap sekolah akan membiayaiku.

Aku berjalan seorang diri ke gedung B. Di sekolahku, gedung B adalah pusat kegiatan para guru dan staff. Disana terdapat ruang kurikulum. Menurut pendapat temanku, aku sebaiknya melapor ke kurikulum mengenai lomba ini. Maka dari itu, kuikuti saja saran dari mereka.

“Tok tok tok”. Aku mengetuk pintu ruang kurikulum, mendorong pintu dan masuk. Disana ada guru matematikaku, aku cium tangan beliau dan mengungkapkan maksud kedatanganku.

“Kalau masalah ini, bukan kami yang mengurus, Nak. Coba menghadap ke pihak kesiswaan. Mereka yang berhak mengambil keputusan terkait izin dan juga biaya.” jawab guru matematikaku itu tegas dan tuntas.

“Lagipula kamu kan sudah kelas 12, kenapa masih ikut lomba?”.

Aku hanya cengengesan dan mengucapkan terimakasih kepada beliau.Mungkin beliau benar, aku seharusnya tidak mengikuti lomba lagi. Aku semakin pesimis, namun setidaknya aku telah mencoba meminta bantuan.

Aku masuk ke ruang kesiswaan yang berada di depan ruang kurikulum yang tadi kumasuki. Disana ada ibu asisten ketua kesiswaan. Aku sangat cemas dan gugup, sehingga aku terbata-bata dalam menyampaikan maksud dan tujuanku.

“Kemarin ikut lombanya tidak izin ke sekolah ya?.” Aku merasa beliau agak sinis padaku. Mungkin hanya perasaanku.

Aku menggeleng dan tersenyum.

“Guru pembimbingnya siapa?” Beliau bertanya lagi.

“Tidak ada, Bu.” Aku menunduk, bagaikan sedang duduk di kursi panas

“Ibu akan coba laporkan dulu ke ketua kesiswaan dan kepala sekolah ya, Nak. Kepala sekolah pasti mendukung. Tapi masalah biaya, sepertinya sekolah belum biasa untuk membiayai seluruhnya. Paling tidak kamu mau fifty fifty dengan sekolah. Soalnya biasanya yang lain juga seperti itu.”

Hatiku bergemuruh, bagaikan tersambar petir. Itu sama saja jawaban telak bahwa aku tidak akan pergi kesana. Saat ini mama dan papa belum mampu untuk memenuhi keinginanku untuk berangkat ke Yogyakarta. Sudah kami rundingkan semalam.

Setelah percakapan itu usai, map berisi hal-hal penting mengenai lomba kutitipkan pada ibu assisten itu. Aku menjadi lesu namun masih penuh harap. Ternyata dugaanku benar, sekolah belum bisa membantuku untuk mengikuti lomba itu.

Ah, aku menyesal telah menitipkan map itu. Akan panjang sekali urusannya. Bagaimana jika kepala sekolah memanggilku dan mengajak fifty fifty?. Darimana aku mendapatkan setengah biayanya. Tapi aku hanya ingin mencoba, siapa tahu sekolah berbaik hati mendanaiku. Sekali lagi, aku hanya berusaha mencoba.


Hingga pulang sekolah, aku tak dipanggil. Tak ada respon dari sekolah. Padahal hari ini  keputusan untuk jadi berangkat atau tidaknya. Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk ke Yogyakarta. Hatiku mulai berusaha mengubur lubang mimpi yang beberapa hari lalu kugali. Saatnya untuk menimbunnya lagi.

Tapi aku masih berusaha satu kali lagi. Aku mendatangi ruang kesiswaan, menemui ibu asisten yang tadi kutitipi map berkas lomba itu. Untunglah beliau belum pulang.

“Belum, Nak. Tapi sepertinya ketua kesiswaan tidak merespon. Lagipula hadiahnya cuma 1,2 juta. Tidak sebanding dengan ongkos perjalananya.” Aku mengangguk cepat. Ingin mengakhiri semua ini dan berniat mengambil map yang telah kutitipkan. Sialnya, beliau sedang mengobrol dengan siswa lain. Aku berdiri cukup lama menunggu mereka selesai mengobrol. Tapi nihil, tak kunjung selesai. Aku kemudian mencium tangan dan pamit untuk meninggalkan ruangan.

Di perjalanan, benar-benar ingin menangis. Nafasku tersenggal. Ingin rasanya terbang ke kamar menuju kamar kosku.

Aku langsung menbambil air wudhu dan shalat asar. Airmata itu tumpah, bercucuran. Sulit sekali menggambarkan perasaanku saat itu.

“Ya Tuhan. Aku tahu aku harus merelakan mimpi sederhana itu. Bahkan hanya untuk sekedar mengikuti lomba ke UGM. Mungkin memang sederhana, tapi biayanya tidak sederhana, aku tahu itu. Memang ibu asisten benar. Hadiah lomba itu tidak sebanding dengan baiaya kesana. Itupun kalau aku menang, kalau tidak?.

Aku tahu Engkaulah yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Aku pun tidak tahu apa yang kuinginkan sekarang terhadap manusia-manusia. Aku hanya ingin bertanya, mengapa aku sering disepelekan?.

Ya, Tuhan. Aku tahu lomba itu sama sekali tidak penting, termasuk bagi sekolah. Bahkan mungkin mereka pun tidak terlalu yakin bahwa aku akan menang. Jangankan mereka, aku pun tidak yakin, Ya Tuhan. Tapi, bolehkah aku bertanya lagi, lomba itu atau aku yang ‘kurang penting’?.

Namun semua yang telah terjadi, aku syukuri. Terimakasih atas semua nikmat-Mu. Mungkin Engkau sedang mempersiapkan ribuan cara lain untuk mengangkat derajat keluargaku. Aku percaya Ya Tuhan.”

Aku menutup doa itu dengan untaian airmata. Entah mengapa aku menjadi secengeng ini.


Sekali lagi, kutatap tiket itu. Aku tak dapat memenuhi undangan dari pulau impianku. Undangan untuk hanya sekedar berlibur, mengenal pulau itu lebih jauh, berharap akan singgah lagi disana. Tapi semuanya harus sirna.

Aku membuang tiket itu ke laut. Orang lain pasti akan menemukannya. Orang  yang punya persediaan bahan bakar untuk menuju pulau itu. Hatiku berusaha tegar, mantap, ikhlas. 

13 Januari 2017

10 Januari 2017

Dengan getir, kubuka website pengumuman hasil babak penyisihan lomba yang kuikuti dua hari yang lalu. Sebenarnya aku tak berharap banyak karena niatku hanya coba-coba. Laman itu ku-check terus sedari tadi, aku cukup penasaran sebenarnya, tapi tak terlalu menggebu-gebu.

Aku merahasiakan lomba ini dari seluruh temanku. Tak ada satupun yang tahu. Hanya kuceritakan pada mama karena aku membutuhkan biaya untuk pendaftaran, hanya lima puluh ribu. Aku berharap, jika aku lolos babak penyisihan ini, sekolah akan membiayaiku untuk pergi ke UGM. Karena babak selanjutnya akan dilaksanakan langsung di UGM. Aku berharap penuh bisa ke UGM dengan modal lima puluh ribu.

Setelah lama me-refresh laman website lomba itu. Akhirnya hasilnya muncul. Aku hanya mrmbaca scanning untuk mencari namaku diantara dua puluh nama peserta yang lolos. Dan mataku berhenti  mencari, aku menemukan namaku.Aku terperanjat, cukup shock. Teman-temanku keheranan, aku hanya tersenyum simpul. Dan akhirnya menceritakannya pada Laras.

Aku belum sepenuhnya lega. Karena aku tidak terlalu yakin bahwa sekolahku mau membiayai keberangkatanku ini. Apalagi aku sudah kelas 12 yang seharusnya fokus untuk mempersiapkan ujian. Aku semakin pesimis dan berusaha menghalau semua impian-impian itu  hingga aku mendapatkan izin dan biaya dari sekolah.


Hari ini aku diberikan tiket tak terduga. Aku mendapat undangan untuk berkunjung ke salah satu pulau impianku. Setengah percaya aku menerimanya. Namun ada satu masalah, aku tak punya bahan bakar untuk menuju ke pulau itu. Aku berharap sekolah mau membantuku untuk berlibur ke pulau itu. Semoga saja. Besok akan kuusahakan untuk memnta bantuan bahan bakar  dari sekolah.

11 Januari 2017

13 Januari 2017

2 Januari 2017

1 Januari 2017,

3 Januari 2017

Hari pertama tahun ajaran baru. Entah mengapa hatiku gugup, berdebar. Bukan karena gugup dan antusias untuk belajar, tapi aku gugup karena aku belum menerima rapot. Ya, kemarin aku memillih untuk mudik duluan, tanpa menghadiri pembagian rapot, aku harap kami tidak ‘ditegakkan’ di lapangan upacara karena kesalahan itu. Maklumlah, sekolahku ini kedisiplinannya patut diacungi jempol, hal-hal sepela bisa saja menjadi rumit.

Aku menatap diriku di depan cermin. Merapikan seragam hijau khas sekolahku yang hingga saat ini masih tampak kebesaran. Aku siap ke sekolah. Rizka, teman sekelasku yang tinggal di kosan yang sama telah meneriakiku. Kali ini dia siap duluan.

Tak ada yang terlalu spesial pada upacara pertama di awal tahun ini, hanya motivasi dan beberapa informasi lainnya. Dan untunglah, rapotku itu tidak dipermasalahkan pihak sekolah. Tapi hari ini aku harus mengambilnya pada pihak kurikulum. Aku masih cukup was-was dan tengah mengyiapkan berbagai alibi jika beberapa pertanyaan dilemparkan padaku. Pertanyaan mengenai alasan tidak mengambil rapot.


Aku sedang menunggu temanku memfotokopi rapot yang baru saja kami terima. Untunglah, kami tidak ditanya macam-macam. Aku cukup bisa bernafas lega. Tapi masih ada masalah lain, aku belum menjumlahkan nilai rapotku.

Sialnya, aku tahu informasi mengenai penghitungan jumlah nilai rapot itu. Tapi setahuku, itu hanya diwajibkan bagi siswa yang ingin mendaftar SNMPTN. Sedangkan aku masuk ke dalam golongan siswa yang ingin mendaftar kedinasan. Sehingga aku tidak menghitungnya sebelum guru BK mengganti subjeknya menjadi “seluruh siswa”. Aku gelabakan.

Aku menjadi sangat galau tingkat dewa. Masih bingung mengenai langkah yang harus kuambil. Ikut mendaftar SNMPTN atau tidak? Jika tidak, maka salahkah langkahku ini?. Namun hati ini berkata tidak.


Perahuku baru saja tiba di persimpangan muara. Cukup lama aku berhenti sejenak, kebingungan. Manalah jalur yang harus kupilih? Kanankah? kirikah?. Bahkan Tuhan tak memberikan petunjuk apapun. 

Aku tak tahu ada apa di jalur kiri, juga jalur kanan. Kata orang, jalur kiri itu paling aman, incaran semua orang. Tak jauh dari persimpangan ini, akan ada pos penjaga, penguji kelayakan masuk ‘pulau jalur kiri’. Jika layak, maka akan diizinkan masuk. Jika tidak, maka akan ada jalur keluar, yang nantinya akan bermuara lagi. Begitu terus, perahu-perahu kami akan senantiasa menemui muara.

Namun, jalur kiri tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepadaku. Jika aku berhasil masuk, maka selamanya aku akan dikurung, tak diperbolehkan untuk mencoba berlayar ke tempat lain. Kaluapun boleh, mungkin empat atau lima tahun lagi. 

Aku bertanya pada hatiku. Jalur manakah?. Ada jalur kiri dengan segala kemudahan juga keterkekangannya dan jalur kanan yang masih penuh misteri. Entah indah, menyeramkan, atau biasa saja. Dari sekian lama aku berhenti di permuaraan ini, kuhitung,  sedkit sekali yang memilih jalur kanan. Semuanya berbondong-bondong ke jalur kiri.

Meskipun tak semuanya akan diperbolehkan masuk untuk menikmati segala kenikmatan di “pulau jalur kiri”, mereka tetap mendayung dengan bangga. Mengolok-olokku yang masih kebingungan akan berbelok kemana. 

Aku langsung mengambil sampan, mendayung, perahuku berbelok ke arah kanan. Maestro, si perahuku hanya tersenyum. Aku tahu jalur ini penuh misteri. Namun aku tak ingin terkurung jika seandainya aku mendapat izin masuk. Karena bukan ‘pulau jalut kiri ‘ itu yang aku impikan, tapi pulau lain. Lantas, untuk apa aku memilih  jalur kiri jika tujuanku saja bukan  ‘pulau jalur kiri’?

Aku pasrah, ikhlas, tabah, dan tetap mendayung, agak pelan. Perlahan namun pasti. Aku siap dengan segala tantangan dan keajaiban dalam perjalanan melalui jalur kanan ini. Perjalanan ini cukup sunyi. Namun pasti akan ramai saat persimpangan di depan, yang entah seberapa jauh lagi dari sini. Di persimpangan itu nanti, akan ramai oleh teman-temanku yang tak mendapat izin masuk ‘pulau jalur kiri. Setelah penolakan itu, jalur kami akan sama, SBMPTN. Jalur yang paling dihindari siswa sepanjang masa.

10 Januari 2017

11 Januari 2017

13 Januari 2017

1 Januari 2017,

2 Januari 2017

Kelopak mata telah berkompromi untuk segera bangun. Tak ada alarm seperti biasanya. Ada mama yang akan selalu membangunkan. Namun ini adalah hari terakhir libur semester. Besok aku masuk sekolah, waktunya telah tiba.

Mama menyuruhku bergegas mandi, juga adikku. Pagi ini kami akan berangkat ke Palembangku, kota dimana aku bersekolah. Ya, rumah orangtuaku di Kota Baturaja. Aku adalah anak perantauan yang ‘nekat’ sekolah ke Palembang. Dengan alasan yang sangat logis tentunya.

Perasaanku campur aduk. Gairah semangatku makin menggebu-gebu untuk berjuang di tahun ini, mencari jawaban dari Tuhan. Namun di sisi lain, hatiku sangat berat untuk meninggalkan rumah, zona nyaman yang tak ada bandingannya. Aku harus kembali menjadi gadis mandiri, konsekuensi yang harus kuteguk. Urusan merantau inipun adalah pilihanku sendiri. Tak ada satupun yang menyuruhku.

Papa mulai memanaskan mesin mobil. Sedari tadi memeriksa baterai handphone yang  kuisi dayanya, harus penuh, karena akan kugunakan seharian penuh. Mama, papa, dan adik lakiku akan ikut mengantarku ke kota perantauan itu.


Namun, sebelum berangkat, kami berbelok dulu. Kerumahnya, laki-laki itu. Adiknya akan ikut bersama kami. Dan itu berarti aku harus kembali bertemu dengannya setelah sekian lama sejak kejadian itu. Aku menghela nafas, agak gugup.

Aku bertanya pada Tuhan, untuk apalah tujuan pertemuan singkat tadi. Aku terlalu lelah untuk terus menjauh, menggores hati saja. Namun segalanya, aku percaya ada kendali Tuhan.

11 Januari 2017

10 Januari 2017

3 Januari 2017

11 Januari 2017


1 Januari 2017,

Suara letupan percon bersahut-sahutan,  diiringi dengan suara detak jarum jam milik penduduk seluruh dunia. Pukul 0:00 Waktu Indonesia Barat,Indonesia, 1 Januari 2017.

Aku menghela nafas. Dalam hati mengucapkan selamat datang pada 2017. Bukan layaknya orang-orang yang menyambut dengan gembira, aku menyambutnya dengan biasa saja. Entah mengapa ada sedikit kekhawatiran di benak ini. Kekhawatiran akan segala hal, sulit dijabarkan.

Sekali lagi, aku membaca Direct Message yang ia kirimkan lewat instagram. Aku tersenyum hambar, sulit dijelaskan. Seketika kuhapus percakapan kami, hilang, tak terbekas sama sekali. Aku harap ia tak menggangguku lagi, mengganggu hatiku khususnya.

Menghapus percakapan saja tak cukup. Masih ada sekian kemungkinan ia muncul lagi. Namun aku tak ingin terlalu kejam, ya bagiku itu cukup kejam, aku  tak ingin diperlakukan seperti itu. Tapi apalah daya, jika hanya mengganggu.

Kemudian ku non-aktifkan akun instagramku sementara. Aku harap ia tidak muncul di facebook atau media lain. Semoga saja.

Seluruh penghuni rumah telah tidur pulas. Tinggal aku sendiri. Mungkin mereka benar-benar lelah dengan pesta bakar jagung yang kami adakan tadi. Aku pun memilih untuk menyusul, menyusul mereka tidur.


Tidak ada lagi instagram yang senantiasa menguras waktuku. Juga path, atau media sosial lainnya, kecuali line. Segala aktivitasku terpusat disana. Informasi sekolah, kelas, ataupun komunikasi personal lainnya, hanya lewat line. Dan untungnya, dia ak pernah muncul di line.

Aku mengsisi hari pertama ini dengan sedikit jenuh, namun tetap bersemangat. Karena pada tahun ini, perjalanan paling hebat sepanjang hidupku akan dimulai. Jawaban mengenai pertanyaan apa, bagaimana, dan kemana yang senantiasa hadir, sejak kecil.

Pada tahun inilah, Tuhan akan menjawab. Entah langsung dijawab atau belum, namun aku harap segera. Sungguh diri ini muak bertanya, bertanya tentang jati diri. Kesana kemari mencari jawaban tentang apa, bagaimana, dan kemana hidup ini.Tahun inilah Tuhan akan memberikan keputusan-Nya mengenai tiga pertanyaan tadi. Dan jawaban itu akan mempengaruhi hampir dari separuh perjalanan hidupku, yaitu masa depan. “Apa, bagaimana, dan kemana, Ya Tuhan?.


Dengan hati getir, aku menaiki perahu yang sudah lama berlabuh di pulau ini, hampir tiga tahun. Maestro, nama perahuku, ia tersenyum memberikan isyarat, bahwa aku harus mulai pergi meninggalkan pulau ini. Aku membalas senyuman perahu dengan mantap, duduk, memejamkan mata, mengucapkan “Bismillah”. Berdoa dengan sepenuh hati, berharap perahu ini akan selamat sampai tujuan, yang entah dimana.

Sekali lagi, aku menengok ke belakang. Pulau yang cukup megah ini, akan mulai kutiggalkan. Pulau ini masih sangat dekat, namun ia akan makin jauh seiring berjalannya waktu, berirama dengan arus air di laut ini.

Izin sewa di pulau ini akan segera habis. Oleh karena itulah aku mulai beranjak menjauh. Agar ketika masa sewa habis, aku tak terlalu lama mencari pulau baru. Semoga saja pulau keempatku ini sesuai dengan keinginan hati, sesuai dengan arah yang ingin dituju. Meskipun arah yang kuinginkan belum sepenuhnya jelas, mungkin akan ada persimpangan nantinya.

Kuamati lamat-lamat pulau ketigaku ini, Sekolah Menengah Atas. Ribuan kata untuk medeskripsikannya. Perantauan, perjuangan, remaja, dan banyak hal lagi untuk menggambarkannya. Meskipun tidak sepenuhnya berwarna baik. Ada noda-noda yang kurang menarik dipandang. Semua warna berperan dalam kertas masa SMAku. Namun yang jarang berperan adalah warna cinta, tak terlukis di kertas ini.

Dan noda-noda yang kurang menarik itu, aku ingat-ingat lagi. Meskipun hati bertanya “untuk apa?”. Namun akal tak ingin kalah. Mungkin hati benar, tak ada gunanya mengingat noda-noda itu, sehingga baru beberapa menit mengingatnya, akal memilih untuk menyerah.

Aku hanya terduduk diam di perahu biruku ini, perahu kehidupan. Aku belum sanggup mendayung hari ini. Mungkin esok-esok, ketika masa sewa pulau ini akan habis. Aku akan mendayung, perlahan namun pasti. Semoga tak banyak ombak yang menghadang perjalanan. Sekali lagi, “Bismillah”

2 Januari 2017

3 Januari 2017

10 Januari 2017