Kakak Ter-abstrak yang Pernah Ada

Nyayu Indah Oktaviani. Nama yang pertama kali kudengar dan kukenal, 21 Oktober 2014. Aku mendapat sebuah gulungan kertas bertuliskan “october ceria”. Kertas yang dikerumuni banyak senior yang begitu penasaran siapakah gerangan pemilik adik yang sangat meresahkan ini. Dan dia adalah Kak Indah yang kata mereka sangat kurang beruntung memiliki adik sepertiku, hh. 

Aku juga tidak terlalu peduli apa yang orang bilang dan apa yang dia pikirkan tentangku. Aku cukup malas meladeni mereka, termasuk meladeni Kak Indah. Disuruh buat biodata, hanya kubuat 10 item. Lalu aku disuruh membuat ulang sebanyak 50 item. Okelah aku buat, dengan jangka waktu yang cukup lama, aku kumpulkan,  dan aku tidak peduli.

Di saat saudara angkatku mampu mengenal dia lebih dekat,  berfoto ketika ada event, aku tidak peduli. Meskipun pernah terbesit rasa cemburu ketika dia menengur dan mengajak foto dengan saudaraku di depan mata kepalaku sendiri.  Hello, apa dia mengenalku, di hadapannya,  entahlah, kurasa tidak. Dan ternyata memang tidak. Dia lupa namaku.

Tidak, bukan salah dia, salahku. Tapi dulu kupikir, apa hakku. Lagipula aku malas terlalu banyak urusan dengan senior. Tapi rasanya, dianggap tidak ada itu cukup melukai. Entahlah,  masa itu terasa begitu suram.

Entah aku kesambet setan apa. Aku menjadi lebih akrab dengannya sejak kutahu dia lupa namaku. Aku juga tidak tahu apa dia juga lupa tentangku. Katanya sih iya, tapi Kak Indah terlalu banyak berbohong untuk mencairkan suasana. Yang terkadang sangat sulit kudeteksi mana yang berbohong mana yang tidak.

Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang makin cantik, tetap pintar, dan ramah kepada siapapun. Terkadang ada rasa kebanggaan memiliki kakak seperti dia. Meskipun aku merasa sangat terbanting dari kakak-kakak ekskul angkatan atasku yang lain. Mereka hampir sama, cantik, tenar, dan elegan, apa dayaku.

Tapi kau tahu, aku tidak ingin terpuruk sampai disitu. Kau tahu, ada hasrat ingin menyamai kakak-kakakku. Tidak dengan kecantikan, mungkin dari segi akademis. Hanya itu mungkin yang bisa aku tiru dari mereka.  Entahlah, rasanya dulu hasrat ingin sepintar kakakku sangat kuat. Setidaknya aku tidak terlalu menjadi buntang di keturunan kiranaku ini.

Terkadang aku hanya tersenyum dan malu untuk mengingat semua kenangan bersama Kak Indah. Mungkin tidak harus kuceritakan terlalu detail. Biarlah saat ini Kak Indah mencerna apa saja yang pernah kami lalui, itupun kalau dia ingat.

Aku hanya akan menceritakan tentang dua peristiwa yang paling menyenangkan dan juga yang paling menyedihkan, ini versiku.

Momen yang paling menyenangkan bagiku adalah ketika dia menjadi pengucap pertama di hari ulang tahunku yang ke-17. Ya, tidak perlu kujelaskan bagaimana mungkin aku merasa senang. Karena kebahagianku adalah ketika seseorang mau membagi waktunya untukku, itu saja.

Mungkin peristiwa yang satu ini bukanlah yang cukup menyenangkan. Tapi apa yang dia lakukan cukup membuatku senang, yaitu ketika dia ke kosanku. Meskipun setelah itu kami marahan. Tapi aku senang, ternyata dia punya perhatian kepadaku.

Dan momen yang menyedihkan bagiku adalah ketika kami marahan. Dan itu terjadi ketika dia lulus dimana-mana. Di UI, di STIS. Disana aku merasa kecil dan tentunya cukup kecewa. Karna dia menjauh, seakan lupa denganku. Entahlah, aku dulu hanya ingin ada,  bukan benar-benar ada ketika dia berjuang, aku sadar itu. Dan mungkin, ketika namanya melambung, dipuji sana-sini,  sebaiknya memang aku menjauh.

Dan yang kedua adalah, ketika dia yang mungkin lupa hari ulang tahunku di tahun ini. Entahlah, apa dia sengaja atau tidak menjadi pengucap terakhir di hari itu, tapi yang jelas aku sedih dengan pilihannya. Sejak itu, aku menyadari bahwa aku tidak seberarti itu, dia tidak secare itu. Entahlah, aku juga sama sekali tidak membenci sikapnya, aku hanya sedikit kecewa. Karna bagiku, dari ulang tahun, kita dapat melihat seberapa berarti diri kita di mata orang itu. Dan hari itu, aku punya kesimpulan tersendiri.

Baik buruknya,  aku sangat merasa beruntung bisa mengenalnya lebih dekat, meskipun bagiku itu tidak benar-benar nyata. Kak Indah itu hanya di dunia maya. Bayangkan, kami hanya bertemu satu tahun sekali. Bahkan kalau harus dihitung, mungkin tidak sampai sepuluh kali kami pernah meetup.

Kedekatan kami itu hanya di dunia maya.  Entah bagaimana sosial media dan internet bisa menyulapnya. Tapi aku tidak benar-benar ada untuknya, dia juga tidak benar-benar ada untukku. Aku hanya ingin berusaha ada, tapi jarak dan waktu menghalangi semuanya. Sikap kami semu, persaudaraan kami semu.

Terkadang ingin sekali dia ada saat ini. Saat dimana dia pernah ada di posisiku, kasus sbmptn. Entahlah, mungkin dulu aku juga tidak pernah ada untuknya, aku ingin ada, bukan benar-benar ada. Ingin sekali meminta  saran, seperti yang kubilang tadi, dia pernah ada di posisi ini. Ingin tahu apa sikapnya dalam situasi seperti ini. Tapi sudahlah, tampaknya dia tidak terlalu tertarik. Mungkin dia takut salah ngomong.

Kami punya dunia kami sendiri. Aku hanya maya diantara teman-teman dan sahabatnya, aku tidak benar-benar ada, tidak benar-benar mengerti keadaannya, masalahnya, kesedihannya. Dia juga sama, tidak pernah ada untukku. Bagiku, kisah kami tidak lebih dari cerita dongeng yang begitu menyenangkan, tapi bukan kenyataan.

Sejauh ini, aku merasa Kak Indah sangat baik, terlalu baik malah. Mau meladeniku dan sepertinya tidak malu punya adik sepertiku. Mau meladeni ke-childishan-ku yang terkadang dia juga yang reseh. Tapi kuakui dan sangat kuacungi jempol, dia selalu bersikap baik kepada semua orang, termasuk aku, yang entah dianggapnya bagaimana. 

Meskipun sejujurnya aku begitu penasaran bagaimana pendapatnya terhadapku. Dia tidak pernah mendeskripsikanku, surat yang pernah dia janjikan hampir satu tahun yang lalu itu hanya bualan, kami tidak pernah bertemu lagi sejak itu. Dia selalu berkata bahwa kami akan bertemu lagi ketika aku menyebut farewell di kala meetup yang terakhir itu.

Entahlah, aku merasa cukup malas untuk meetup, kemudian sedih setelahnya. Aku benci perpisahan. Lagipula, tidak ada kesempatan yang begitu baik untuk meetup. Aku tidaklah tinggal di Palembang yang awalnya menjadi titik dimana kami bisa bertemu. Bayangkan, acara dan tempat apa yang bisa mempertemukan kami? Tidak ada. Rasa rindu itu hanya terluap dalam tiga huruf “kgn”. Sisanya, tidak ada tindakan sama sekali dari kami.

Rasanya dia makin jauh pergi dari hidupku. Entah di dunia maya ataupun nyata. Kami memiliki kesibukan masing-masing, dunia masing-masing,  yang keduanya sulit disamakan. Entah dia yang pergi atau aku yang tidak kunjung tiba di titik temu berlambang sigma itu. Entahlah, aku hanya merasakan kesemuan tentang hal itu.

Aku mengerti tentang keresahannya dalam menemukan jati diri yang sebenarnya dan aku juga akan menghargai keputusan akhirnya. Dia pintar dan berbakat di bidang manapun, dia hebat, berhak memilih, tinggal tunjuk, karena semua bakat menghigapi dirinya. Kau akan sangat kagum dengannya jika mengenal lebih dekat, dan tentunya iri, percayalah.

Kisah yang begitu klasik antara aku dan dia. Persaudaraan yang kata orang sangat klop dan menggemaskan. Terkadang aku mengakui itu, tapi sayangnya, itu tidak sepenuhnya nyata. Kami terjebak dalam layar ponsel, entah kapan, mungkin atau tidak layar ponsel itu berhenti membatasi raga kami.

“It’s not about who care. But how you care.  Leave or not, your choice”

 

Laily, 21 Juni 2017

 

 

 

 

 

Cinta, Apaan?

Mungkin ini adalah goresan tentang kesendirian hati gue,  cieelah.

Gue baru nyadar betapa ngenesnya jadi seorang jomblo ketika gue dikelilingi temen-temen yang berstatus “taken”. Semuanya bermula ketika Laras ditembak.  Disana gue mulai nyadar kalo ternyata punya pacar itu asik ya,  wkwk. Ada yang merhatiin gimana gitu.

Sejak gue deket lagi sama Laras karena kita berdua sekelas lagi dan sebangku, gue mulai pengen gitu pacaran, wkwk. tapi, ya,  gitulah, gaada pacar 😦  so sad, pray for laily.

Gue sempet nanya gitu ke cowok yang katanya sayang sama gue, eww, tentang kejelasan hubungan kami. Tapi, berbulan-bulan dia gantungin gue ga jelas. Disitu gue mulai ngerasa jenuh banget sama ketidakjelasan dia. Gue pengen aja gitu dia jadi temen main gue, bukan kayak kakak adek yang kaku minta ampun. Ya,  intinya gue jenuh digituin. 

Pada akhirnya, gue perlahan ngejauh karna gue kesel banget sama tingkah laku dia akhir-akhir itu. Gue curhat ke mama dan mama gue juga berusaha ngejauhin kami. Yaudah, segitu aja cerita gue. Udah terjawab belum pertanyaan yang di judul?.  Ga kan, karna niat gue emang ga mau jawab pertanyaan itu, Wkwk.  Ya sekian.

#prayforjomblo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

17 Hari Bareng Dian

Ini adalah cerita tentang temen baru gue yg ditemukan di Jogja, yaelah, wkwk.  Langsung aja cuy.

Tiga hari setelah UN, gue langsung terbang ke Jogja untuk ikutan bimbel di Indonesia College. Ternyata gue ga dapet konfirmasi kalo jadwal bimbel diundur dan baru dimulai satu minggu lagi.  Awalnya gue ga terlalu panik sih karena, ya,  mau gimana lagi.  Gue udah telanjur di sana dan repot banget mau balik lagi.  Dengan keadaan hati yang masih tenang, gue ditempatkan di suatu kamar yang katanya untuk kelas excellent, sesuai kelas yang gue pesen. yaudah kan,  gue susun barang-barang dan buku yang gue bawa. Temen sekamar gue masih les karna dia peserts les STAN yang udah dimulai beberapa hari yang lalu.

Trus gue tidur siang sambil denger musik, ya kayak biasalah. Sampe akhirnya gue kebangun gara-gara ada suara orang-orang lagi diskusi gitu. Dan samar-samar, gue denger kalo ada yang mau nempatin kamar ini. Dan emang ga memungkinkan sih untuk ditempatin bertiga. Disitu gue mulai gelisah karena gue ga bilang sama sekali ke orangtua gue tentang salah jadwal ini. Gue bingung, sumpah,  ngenes banget idup gue, terlantar di tanah orang,  ga kenal siapapun.

Yaudah deh, keputusannya adalah gue yang pergi.  Ya iyalah, jadwal bimbel gue kan belum mulai, sedangkan yang baru dateng itu emang berhak tinggal di kamar itu. Tanpa ada pilihan lagi, gue terpaksa bilang ke orangtua gue kalo gue salah jadwal dan ga tau mau tinggal dimana.

Dengan hati yang kacau dan pikiran yang kusut,  gue beresin barang-barang gue,  hiks. Gue dianter kesana sini untuk nyari penginapan. Mana gue dikompor-komporin kan sama temen yang baru dateng itu kalo tempat yang mau ditempatin itu bener-bener ga layak huni. Oleh sebab itulah dia ga mau tinggal disana. Aduh,  ga tau deh, gue kayak orang bego waktu itu. Gue ga dapet konfirmasi sama sekali tentang jadwal ini,  hadeh, tau ah.

Akhirnya,  pas malemnya gue disuruh tidur di tempat yang katanya ga layak huni itu. Soalnya, rumahnya ga dihuni selama dua bulanan. Gue sedih gimana gitu ya, baru beberapa menit aja gue udah pilek karna gue alergi debu, hiks,  mau pulang rasanya.

Besoknya, gue balik lagi ke kamar yang petama itu karna barang-barang gue belum dipindahin. Gue disuruh nunggu karna mbak-mbaknya lagi nyariin tempat tinggal untuk gue.

Suddenly, eaaa. Mbak Rini dan seseorang yang ga gue kenal dateng. Katanya dia anak Palembang juga dan kecepetan dateng juga. Awalnya gue biasa aja ya, karna ga kebayang juga dia buat apa karna ujung-ujungnya gue tetap disuruh pindah, wkwk.  Tapi setelah dipikir-pikir, kalo ada dia,  berarti gue ga senidirian dongz,  ya gitu deh.

Akhirnya gue setuju pindah ke kosan baru.  Ya,  semuanya bermula disini. Pas sore,  Gue dan Dian makan bareng gitu di Special Sambal ya kalo ga salah , ya gitu deh, kita mulai akrab.

Malemnya,  kita udah mulai membaur sama temen-temen lainnya di kosan. Awalnya, kita tuh berenam.  Ada Salma, Aisiyah, Fiqi, Rizka,  Dian, dan gue. Trus pas hari kedua, Mbak Jida dan Mbak Feby dateng.  Kita lesnya beda-beda, tapi kan, bhineka  tunggal ika, ya gak.

Dari hari kehari, gue makin akrab sama Dian karna cuma dia yang gue punya, yaelah wkwk.  Beneran ih, kita kan kasusnya sama, wkwk.

Kemana-mana gue bareng Dian.  Gue ga ngerasa sendiri dan sedih lagi. Malah ga tau kenapa gue seneng banget disana. Temen-temen yang lain juga baik dan asik. Mulai dari pagi nyampe malem, gue selalu bareng Dian selama satu minggu di kosan lama,  wkwk.

Trus setelah satu minggu, gue dan Dian harus pindah karna jadwal bimbel baru dimulai,  cieee.  Ya dengan cukup berat hati, kami berdua harus ningggalin temen-temen di kosan lama.

Kita ditempatin di kosan ijo dan Sekamar berdua,  yey. Padahal yang lainnya sekamar berempat, tapi mereka pake AC,  sedangkan kami cuma pake kipas angin karna sebenarnya kamar itu adalah ruang belajar wkwk.

Dari awal bangun tidur sampe tidur lagi pas malem, gue selalu bareng Dian.   Paginya kita tidur. Siang sampe malam kita les. Pulang les jam 9 malam dengan keadaan yang lumayan deg-degan karna gelap dan tempat les ga terlalu deket sama kosan. Jadi kita jalan cepet-cepet gitu sambil gandengan tangan, wkwk. Ya kita saling melengkapi dan menjaga satu sama lain. 

Berhubung aku harus perpisahan sekolah, jadi aku terpaksa pulang duluan dan ga ikut beberapa sesi di bimbel,  eh taunya Dian juga mau ikut-ikutan aku. Yaudah deh, kita berencana pulang bareng, asik, gue ga sendiri lagi naik pesawat.

Pada akhirnya, gue pulang sendiri 🙂 . Tiket pesawat tinggal tersisa satu.  Dan dalam beberapa  menit,  gue harus memutuskan mau pulang duluan atau ga. Sumpah gue bingung, mata gue berkaca-kaca, ga tau mau ngapain. Gue harus petimbangin dan mutusin sendiri. Gue mau ikut perpisahan, tapi bener-bener ga lucu kalo rencana kita untuk pulang bareng harus gagal. Ya, emang hidup ini ga selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Gue tertunduk lesu dan bete banget. Gue juga dimarahin papa mama karna plinplan hfffft. Ya gitu deh, intinya gue sedih banget pas kejadian itu. Perasaan gue campur aduk. Antara kesel karna kenyataan ga sesuai rencana, sedih karna dimarahin,  sedih karna ternyata gue harus mengakhiri masa-masa bahagia tanpa beban, ga semangat karna gue harus balik ke dunia gue yang sebenarnya, tau ah.

Saat itu, Dian berusaha ngehibur gue, cieee.  Gue seneng aja gitu, karna biasanya temen gue ga se care dia kalo ngeliat gue sedih :”). Dia berusaha membalikkan mood gue tanpa tahu gue sedih karna apa. Ya saat itu momen terbaper gue bareng Dian.

Trus pas malam terakhir kita sekamar (besoknya gue pulang). Gue ngajak dia main ToT hehehe. Berbagai pertanyaan kami berdua lontarkan satu sama lain. Ini juga momen yang baper bagi gue wkwk. Dan so amazing,  ternyata kisah kami berdua itu benar-benar mirip, sumpah shock banget. Mulai dari pertemanan, keluarga,  masa-masa SMA,  banyak banget yang mirip hiks. Saat itulah gue ga ngerasa sendiri.  Ada yang ngerasain kayak gue juga,  ya gitu deh. Gue akhirnya nemuin temen yang pernah ngerasain apa yang gue alamin. Dan kesenangan itu sulit banget diungkapkan lewat kata-kata gini. Intinya,  gue seneng banget ketemu temen kayak dia. Hampir semua sifat sosok sahabat yang gue butuhin, ada di Dian. Dan gue sangat berharap kita dibolehin untuk tetap temenanan dan sedeket ini. Tapi ya, Tuhan belum mengabulkannya di tahun ini.

Ohiya,  kita beda agama :). Tapi,  disini gue ngerasain toleransi yang luar biasa dari sosok Dian.  Disini gue ngerasain pengamalan sila pertama dalam pancasila. Disini gue merasakan poin penting dari maksud semoboyan Bhineka Tunggal Ika. Disini gue ngerasain itu semua secara nyata.

Ya suka dan duka telah kami lewatin bareng selama satu minggu lebih di kosan ijo. Ada momen ngakak, momen sedih, momen homesick, momen baper, dan banyak momen lainnya. Lebih banyak momen ngakak sih karna kita punya Mbak Berliana yang sangat humoris.  jujur aja, banyak momen bapernya bareng Dian. 

Ga tau deh ya, gue belum pernah aja nemuin temen yang seklop dia. Temen yang bisa buat gue selalu ketawa, yang nolongin gue,  jagain aku, nemenin gue, yang kayak saudara sendiri, eaa. Beneran deh, teman-teman yang lain juga ngira kita udah sahabatan sejak lama, padahal kan “belum”.

Kalo sekarang, rasanya momen itu sekejap banget dalam hidup gue. Lo bayangin deh,  lo ngalamin sesuatu yang sangat indah, yang ngebuat lo lupa tentang semua kesedihan yang lagi lo rasain.  Lo seakan punya dunia baru yang ngebuat lo ngerasa bener-bener nyaman. Tapi lo harus sadar, kalo itu cuma “sekejap”. Ya,  cuma sekejap, karna gue ga tau kapan dan gimana gue dan Dian ngalamin momen yang hampir sama persis kayak waktu itu, ga tau.

 

 

…..

Chelien Kurniah Alfatrian

Aku bukanlah salah satu teman akrab atau sahabat Chelien. Tapi Chelien adalah orang yang sangat penting dan tidak akan kulupakan samapai kapanpun. Semoga Chelien suka, ya.

Awal kenal Chelien itu ketika kami sekamar masa MOS dan juga Latdis. Jadi, Chelien ini adalah teman sejak awal SMA dan hingga sekarang. First impression untuk Chelien adalah ramah dan lincah. Dan itu memang benar. Ranjang Chelien ada di bawahku (bertingkat dua). Jadi, akan sangat terasa kalau Chelien gerak-gerak pas tidur, ahaha.

Chelien adalah pemilik alarm yang sangat menggelegar. Berkat alarm milik Chelien, kami tidak akan telat di pagi hari. Cukup banyak kenangan tak terlupakan masa MOS dan latdis bersama Chelien. Masa dimana kami saling membangunkan, mengingatkan perlengkapan, bergiliran ke kamar mandi, dimarahin, dsb. Aku sangat kangen masa-masa itu, tapi bukan berarti aku ingin mengulangnya, tidak, hehehe.

Aku juga satu kelompok dengan Chelien ketika homestay. Diriku menjadi teringat masa-masa di rumah ibu angkat bersama Kak Uit sebagai senior pendamping, rindu sekali. Masa dimana kita berjalan ke sawah bapak yang jaraknya 2 km ya kalo ga salah. Haduh, capek banget waktu itu. Tapi masa itu sangat indah dikenang.

Masa-masa pahit asrama di tiga bulan pertama juga kulalui bersama Chelien. Mulai dari buka puasa, sahur, latdis, mandi lumpur, dsb. Kami saling mengingatkan dan memberi semangat. Yang paling kuingat dari Chelien adalah dia selalu memarahi kami kalau makan sambil berbicara, heheh. Kekompakan yang tiada tara harus kami lakukan untuk menyelamatkan diri dari cobaan mos, latdis, dan homestay. Mulai dari berbagi air untuk mandi, tugas piket, menghemat air minum, cepat-cepat mandi supaya yang lain tidak telat, dsb.

Momen yang paling kuingat adalah ketika kami diam-diam makan di malam hari. Padahal itu sudah hampir jam 9 dan kami disuruh piket. Tiba-tiba salah satu senior kami memergoki kami yang sedang makan bersama di lantai. Kakak itu memarahi kami karena belum piket. Itu adalah pertama kalinya kamar kami dimarahi oleh senior. Masa yang lain juga ketika aku lupa membawa name-tag. Gawat sekali urusannya kalau itu terlupa. Untungnya Chelien mengingatkanku, hehehe.

Setelah 3 bulan, kami akhirnya rolling. Aku ga sekamar lagi dengan Chelien, hihiw. Sejak saat itu aku memanggil Chelien dengan sebutan “mami”. Karena aku merasa selama tiga bulan ini dia sepeti ibu yang selalu mengingatkanku dan menasihatiku, hihihi.

Kedekatan kami makin erat ketika berbagai kegiatan ekskul, yaitu kirana. Ada berbagai hal dan kejadian yang kian mempersatukan kami. Kami saling support satu sama lain. Hingga akhirnya Chelien terpilih sebagai ketua kirana. Bangga sekali diriku, hihiw.

Aku dan Chelien juga seringkali duduk bersebelahan ketika tadarus di masjid. Di sana kami saling ganggu dan menjahili. Terkadang kami ketiduran dan dimarahi pembina asrama. Aduh, aku kangen sekali momen itu.

Bagi kami yang berhalangan untuk shalat, kami berkumpul di teras masjid agar tetap terkontrol oleh pembina. Cukup sering kami berdua berkumpul di teras masjid. Biasanya kami belajar, tidur, atau mengobrol.

Chelien adalah orang tertegar yang pernah aku temuin. Orang yang paling ceria dalam kondisi apapun. Sangat bijak dalam mengatasi masalah. Tidak heran kan kalau dia jadi ketua ekskul. Aku sangat terinspirasi terhadap Chelien. Keceriaannya membuatku sadar bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, kita harus selalu merasa bersyukur dan bahagia  🙂

Ohiya, ulang tahun kami berddekatan, loh. Aku lahir tanggal 27 maret 1999. Sedangkan Chelien lahir tanggal 28 maret 2000. Ya, Chelien lebih muda dariku. Tapi tetap saja aku menyebutnya mami, hingga akhornya teman-temanku yang lain ikut-ikutan memanggilnya mami. Tapi aku tetap her first daughter, kok, heheh.

14604  14605

Chelien sebagai Peri Bintangku

Hal yang tidak akan pernah aku lupakan adalah bahwa karena Chelianlah aku bisa menggapai impian terbesarku di kelas 11. Chelien adalah orang yang pertama kali mencetuskan kata astronomi dalam hidupku. Tanpanya, mungkin tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengikuti seleksi olim astronomi di sekolah.

Dia yang kala itu melihatku sangat menyukai pelajaran matematika dan fisika tiba-tiba menyarankanku untuk mengikuti tes seleksi untuk menjadi tim olim astronomi di sekolah. Kata itu sangat asing bagiku. Pernah sekali dua kali mendengar. Tapi, aku mengira astronomi adalah ilmu hafalan yang sangat tidak cocok denganku. Tapi aku salah, ternyata astronomi itu adalah menghitung.

Aku mulai mempertimbangkan saran Chelien. Hingga akhirnya aku cari tau lebih lanjut tentang olim astronomi, dan aku tertarik. Sejak itu, aku berpaling dari olim matematika yang menolakku di tahun lalu. Aku mulai belajar sedikit demi sedikit untuk menghadapi tes seleksi di sekolah.

Hingga akhirnya aku lolos osk dan menuju osp. Disanalah puncak keputusasaanku. Aku merasa tidak kompeten. Aku sangat lelah dan ingin berhenti berjuang karena keadaan yang kian menghujam dan membuatku ingin menyerah. Ketika pelatihan di bogor, aku sakit, peringkatku jauh terpelanting, aku merasa sangat putus asa dan pasrah karena merasa tidak mungkin untuk lolos OSP. Malam itu, satu hari sebelum pulang ke Palembang. Aku curhat panjang lebar ke Chelien. Aku yang semula telah memutuskan untuk menyerah, kemudian bangkit lagi karena perkataan Chelien. Saat itu adalah H-7 menuju OSP, dan aku baru bangkit.

Sepulangnya dari Bogor, aku melahap semua buku astronomi dan mengejar ketertinggalan materi. Dan, aku lolos lagi. Sejak itu aku menjukukinya peri bintang karna telah menyelamatkanku, eaaaa.

Dear Chelien,

Mungkin aku mulai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa berartinya nasihat-nasihatmu. Cerita di atas mungkin hanya sebagian kecil nasihat yang pernah kamu lontarkan untukku. Semua nasihatmu begitu bijak dan mengena. Terkadang aku menggunakan prinsipmu dalam bersikap. Prinsip bagaimana berteman, bersahabat, mengatasi masalah dan kesedihan, mengatasi keputusasaan, dan masih banyak lagi.

Aku tau, mungkin kamu merasa biasa saja terhadap apa yang telah kamu lakukan. Tapi percaya deh, siapapun yang jadi aku, pasti akan sangat berterimakasih.

Tetaplah menjadi yang terhebat, yang terbaik dalam bidang apapun. Aku percaya, kamu akan menjadi berlian dimanapun berada. Tetap jalankan prinsip yang kamu miliki. Jangan pernah menyerahdan putus asa. Mungkin hanya dengan tulisan ini aku bisa berterimakasih sekaligus mengenangmu. Kamu sangat menginspirasi. Tetap ceria ya, Mamiku. Semoga kesuksesan selalu menyertaimu. Jangan pernah lupakan aku yang hanya serpihan debu di hidupmu~

Minggu, 9 April 2017 (Satu hari sebelum UN)

your first daughter

My 18th (4)

Awalnya bete gitu kan, semua adek aku ga ada yang ngucapin, hiks. Tapi yaudahlah ya, kan hanya sebagian kecil, jadi aku ga boleh terlalu mikirin, hehehe.

Pas hari jumat, si Yobel tiba-tiba ngeline dan ngajak jalan. Udah curiga kan, tapi yaudah kan, berhubung aku baik, wwkwk, aku iyain deh. Sekali lagi, aku gamau mikir macem-macem, huhuhu.

Trus setibanya di tempat janjian, aku disuruh naik ke atas. Yaudah deh, aku naik. Udah siap-siap tuh mau ngesnapgram, wkwk. Ternyata bener, mereka ngerayain, hehehe. Tapi snapgramnya jelek, jadi aku suruh mereka balik lagi dan nyanyi happy birthday, tau ah, krik banget yak.

Yaudah kan, tiup lilin dan potong kue. Kue pertama untuk Yobel sebagai adik angkat pertama, eaa, trus Metha, adek ekskul aku. Trus Nyayu, adek angkat aku yang kelas 10 (adek angkatnya Metha). Yaudah, kita ngobrol-ngobrol gitu, terus foto. Makan, trus pulang deh.

Ohiya, aku dikasih Metha sama Nyayu boneka, hehehe. Aku suka bangeet bonekanya, loh. Soalnya mirip Reyhan dan enak dipeluk, apasih. Tapi, aku jujur loh ini, hehehe. Tapi kok gaada surat sih dek, wkwkw. Tak pa, makasih ya sayang-sayangku.

14762147631476414765

My 18th (3)

Pas malemnya, udah mulai banyak gitu kan yang ngucapin di ig dan line, hehehe. Aku jadi seneng lagi deh. Apalagi ada mama kan yang menemaniku.

Trus, aku udah mau tidur kan sekitar jam 11. Tapi, aku mau ngucapin Chelien dulu soalnya bentar lagi tanggal 28 Maret, ulangtahunnya. Trus tiba-tiba ada yang nge-call gitu. Ternyata Kak Indah, hfft, menghela nafas. Kemana aja coba, hiks. Yaudah aku angkat. Trus dia ngucapin kan sama wish2 yang aku lupa apa aja. Soalnya ga konsen lagi. Trus aku bilang kalo aku bete karna ngucapinnya telat banget. Aku gatau sih dia sengaja atau malah lupa, kan udah janji ga boleh kecewa, jadi aku ga terlalu peduli lah dia mau gimana ke aku. Makasih yach!!

Trus, aku ternyata tertidur dan gagal ngucapin Chelien. Paginya aku kesiangan, wkwk. Aku minum obat jam 9, gila, telat bangetttt. Trus aku cek HP deh, ngucapin Chelien, huhu Chelien, maafkan aku. Eh, Chelien malah ngucapin aku balik karna dia berencana untuk jadi pengucap terakhir, huhu, sayang sekali, hiks. Jadi rencana kita berdua sama-sama failed deh, wkwkwk. Ohiya, ucapan dari Chelien panjangggg banget dan bikin terharu, hiksss.

Ohiya, aku mau ceritain Tania, wkwk. Nyampe 28 Maret dia belum ngucapin, huhuh. Aku liat disnapgram kalo dia ngucapin Tri. Ya Ampun, aku tuh langsung tersentak, hmm. Yaudahlah, aku udah janji ga boleh ngerasa kecewa. Trus ga lama dari itu,dia ngucapin aku juga. Dengan wish yang sangat sangat panjang, terharu, eaaaa. Terimakasih ya, Taniazki.

Nia juga ngucapin aku yang sangattt panjang dan bikin terharu, terimakasih adik nomor kesekiankuuuu. Rizka juga ngasih kado dan surat yang sangat lucu dan sok imut hehehe. Thankyou, semoga aku makin tinggi beneran, yaaa

IMG_20170329_180821

Ya begitulah kurang lebihnya. Makasih untuk semua orang yang udah bikin aku bahagia, baik pas 27 maret ataupun setelah-setelahnya. Semoga doanya dikabulkan semua. Dan semoga doa itu berlaku untuk kalian juga ya, amin.

 

My 18th (2)

Setelah subuh, mereka bertiga langsung ke sekolah, kan karena mau make up untuk nari. Berhubung aku make upnya di kamar ini, jadi aku belum siap-siap deh, huhuh. Aku ditinggal sendiri deh, gabut kan. Jadinya aku buka HP terus, padahal aku pengennya sibuk banget hari ini. Aku takut, suer deh. Pokoknya ulangtahun tuh abstrak banget bagi aku, hiks.

Ngecek HP terus, aku tau pasti akan sepi karna pasti yang lain sibuk mempersiapkan nari. Tapi, teman-teman nariku yang lain belum dateng, jadi ga ada kerjaan deh.

Ohiya, pencupap kedua itu adalah mama. Mama ngucapinnya sekitar jam 1an, sebelum kami berempat tidur. Aku pengen banget mama datang untuk menemaniku. Tapi semuanya tidak memungkinkan, aku ga boleh kecewa. Aku harus kuat mengatasi ketakutan dan kebeteanku. Yaudahlah, gitu deh pokoknya. Aku pada akhirnya sibuk nari di hari itu.

Siangnya, kami udah boleh pulang, kan. Yaudah. Ohiya, pas lagi make up di kamar aku nemu kado gitu, kayaknya punya Laras, wkwk. Tapi aku biarin aja dan senyam senyum. Jadi, pas pulang sekolah, Laras ke kamar aku, trus pas dia mau pulang, baru dikasihnya deh kado itu, wkwk.

Trus ada Nia dan Ratu juga kan lagi main di kamar Mama bilang mau nelpon sekitar jam 3. Tapi sampe saat itu belum nelpon-nelpon. Jenuh deh rasanya hari itu. Capek pula.

Trus, ada yang ngetok, yaudah kan, dibukain Nia. Dan, SURPRISE, MAMA DATENG. Aku langsung kaget banget kan. Aku ga nyangka banget mama dateng karna sangat tidak memungkinkan. Aku seneng banget, heheheh. Mama bawa kue gitu, cieee. Trus, Ratu dan Nia pamit pulang deh.

IMG_20170327_190614.jpg

Makasih ya, ma karena udah bela-belain dateng padahal mama lagi sakit, hiks. Awalnya ayuk sedih banget, tapi karna mama dateng, jadi seneng lagi, deh, hehehe.

Setelah itu aku mandi dan siap-siap mau jalan. Tapi sebelum pergi, aku buka kado dari Laras dulu. Aku suka banget karna Laras bikin sendiri. Ditambah juga dengan surat yang lumayan panjang, ehehehe. sesuai yang aku pengen, yey.  Ini kadonya, hehehe.

IMG_20170327_170427

IMG_20170329_144835

My 18th (1)

26 Maret 2017,

Rasa trauma mendalam yang terlanjur terpatri di dalam benakku membuatku cukup takut untuk menghadapi besok. Semuanya kusimpan dalam diam.

Aku tak ingin membayangkan apapun tentang besok, berandai-andai tidak jelas seperti dulu. Aku takut kecewa lagi, ya, aku sangat takut itu. Hari ini terasa begitu sangat lama untuk kulalui. Pikiranku kian tak karuan, dari pagi hingga malam.

Semula, Laras dan Thea bilang kalo mau nginep di kamar. Aku sempat terkejut waktu itu. Bagaimana mungkin aku bisa melewati malam menuju ulang tahun sama mereka? hahaha. Karena biasanya, semalam sebelum ulangtahun aku ga bisa tidur, DAN ITU SETIAP TAHUN.

Malamnya, mereka sudah ada di kosanku. Ternyata Rizka juga ikut nginep di kamarku. Mungkin inilah terakhir kalinya kami berempat gini ya, huhuh, sedih. Besok kan ada ujian praktek nari, jadi kami sibuk sendiri kan. Aku dan Thea sibuk ngurusin properti kami masing-masing. Sedangkan Laras dan Thea malah ke PTC. Aku sudah mulai curiga tapi aku udah janji ga mau mikir apapun tentang besok.

Hari itu aku berusaha secapek mungkin supaya aku bisa tidur dengan nyenyak secepatnya malam ini. Aku harus tidur yang cukup karna besok akan ada ujian praktek yang cukup berat, ujian batin juga sebenarnya, hehehe.

Sekitar jam 9 malam, Laras dan Rizka sudah pulang. Setelah itu, mereka bermain-main tidak jelas dengan jilbab-jilbabku. Hmm, ga tau nih kapan bisa kayak gini lagi.

Aku ngajak mereka tidur kan karna besok kan harus fit. Trus aku milih untuk tidur di kasur bawah deket kamar mandi. Soalnya aku pasti akan ke kamar mandi terus karna ga bisa tidur, wkwk. Aku ga tenang, sumpah. Tapi mereka malah marahin aku dan nyuruh aku tidur di kasur atas. Sebenernya aku cuma mau ngecek sih, hehehe, apasih, wkwk.

Jadi akhirnya aku tidur di kasur atas dan  udah pukul 10 malam. Aku nyuruh mereka tidur,,,, tapi mereka ga tidur-tidur, hiks hiks. Ya tambah curiga lah aku. Tapi, lagi-lagi, aku ga mau mikir apapun.

Ya, pada akhirnya aku memang tidak tidur. Tapi aku pura-pura tidur. Aku ga tau udah jam berapa. Rasanya kok lama banget, yak, wkwkwk. Lama banget aku pura-pura tidur untuk ngebohongin mereka. Kayaknya mereka perccaya deh kalo aku udah tidur karna dari tadi aku ga gerak-gerak.

Laras yang berbaring di sampingku mulai  beranjak bangun. Samar-samar, aku denger “ucapin di enormous” gitu. Aku denger pintu kamarku dibuka. Gatau tuh ngapain mereka. Terus terdengar suara korek api gitu. Disitu aku mulai senyam senyum. Jantungku kayak mau copot, gila, gatau mau pasang ekspresi gimana, cieelah.

Aku denger mereka grasak grusuk, suara plastik apaan gitu. Trus Rizka ngidupin keran air gitu kan, mungkin biar ga kedengeran atau ga ketauan. Aku tau itu sengaja, karna aku denger pintu kamar mandi itu kebuka. Buat apa coba, ngidupin keran, tapi gaada yang di kamar mandi? ahahah.

Trus aku jahil kan, aku gerak balik badan, tapi mukaku masih kututupin guling, pura-pura masih tidur sih, ehehe. Trus seketika mereka langsung berhenti grasak-grusuk, ya ampun aku mau ngakak waktu itu. Aaaa, sayang banget dech. Walaupun aku selalu failed ngasih surprise ke orang, tapi aku ga mau gitu ke mereka. Aku pengen kita sama-sama seneng hehehe. Jadi, yaudah, aku biarkan mereka beraksi dengan keadaan jantung yang masih deg-degan. Duh, mereka rela bgt ya waktu tidurnya dipake untuk aku. Kan besok kami harus nari, dan itu,,, harus prima, kan. Love you, gaesss.

27 Maret 2017,

 

“Happy Birthday, Laily”

Cieee, aku ga tau harus gimana, terus balik badan, pura-pura baru bangun. Trus aku langsung ketawa ngakak. Trus mereka, ya gimana gitu. Yaps, aku denger semuanya, guysss, ehehehe.

Ya, kami akhirnya sibuk ber-snapgram. Terus aku tiup lilin. Aku bedoa semoga lulus di _._._._ dan semoga orang-orang terdekatku tetap menyayangiku. Setelah itu, kita foto-foto gitu. Ya, gitu deh, heheheh.

Aku ngecek HP,  dan ternyata belum ada yang ngucapin selain mereka bertiga di grup enormous. YAHHH, tapi aku udah janji kan ga boleh kecewa terhadap apapun yang terjadi di hari ulang tahunku.

Thanks, genks. Sudah mengertiku, eaea, malu sendiri nich, gatau mau bilang. Intinya terimakasih untuk semua waktu yang telah diberikan. Terimakasih karna telah menjadi pengucap pertama di tahun ini. Love youuuuuh 14741

                                                   14753

Zhafira Firdinina

Lovely tetangga, nih.

Zhafira tuh kamarnya palingan sekitar 100 cm dari kamar aku. Jadi bisa teriak dikit aja untuk ngobrol sama Zhafira, cieelah. Zhafira itu orangnya pendiam dan sabar menghadapi kejahilanku. Mungkin udah berapa puluh kali aku ngetuk-ngetuk kamarnya terus langsung berlari pergi atau langsung masuk kamarku, hehehe. That’s amazing moment. Suatu hari pasti kamu akan kangen aku, Zaf, percaya deh.

 

Tidak banyak kenanganku bersama Zhafira selain gedor-gedor pintu. Jadi, aku cuma mau ngucapin terimakasih karna sudah sabar terhadapku. Semoga sukses terus, yaps. Ditunggu jas almamaternya. Don’t miss me,……

IMG_20170413_094036