Kakak Ter-abstrak yang Pernah Ada

Nyayu Indah Oktaviani. Nama yang pertama kali kudengar dan kukenal, 21 Oktober 2014. Aku mendapat sebuah gulungan kertas bertuliskan “october ceria”. Kertas yang dikerumuni banyak senior yang begitu penasaran siapakah gerangan pemilik adik yang sangat meresahkan ini. Dan dia adalah Kak Indah yang kata mereka sangat kurang beruntung memiliki adik sepertiku, hh. 

Aku juga tidak terlalu peduli apa yang orang bilang dan apa yang dia pikirkan tentangku. Aku cukup malas meladeni mereka, termasuk meladeni Kak Indah. Disuruh buat biodata, hanya kubuat 10 item. Lalu aku disuruh membuat ulang sebanyak 50 item. Okelah aku buat, dengan jangka waktu yang cukup lama, aku kumpulkan,  dan aku tidak peduli.

Di saat saudara angkatku mampu mengenal dia lebih dekat,  berfoto ketika ada event, aku tidak peduli. Meskipun pernah terbesit rasa cemburu ketika dia menengur dan mengajak foto dengan saudaraku di depan mata kepalaku sendiri.  Hello, apa dia mengenalku, di hadapannya,  entahlah, kurasa tidak. Dan ternyata memang tidak. Dia lupa namaku.

Tidak, bukan salah dia, salahku. Tapi dulu kupikir, apa hakku. Lagipula aku malas terlalu banyak urusan dengan senior. Tapi rasanya, dianggap tidak ada itu cukup melukai. Entahlah,  masa itu terasa begitu suram.

Entah aku kesambet setan apa. Aku menjadi lebih akrab dengannya sejak kutahu dia lupa namaku. Aku juga tidak tahu apa dia juga lupa tentangku. Katanya sih iya, tapi Kak Indah terlalu banyak berbohong untuk mencairkan suasana. Yang terkadang sangat sulit kudeteksi mana yang berbohong mana yang tidak.

Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang makin cantik, tetap pintar, dan ramah kepada siapapun. Terkadang ada rasa kebanggaan memiliki kakak seperti dia. Meskipun aku merasa sangat terbanting dari kakak-kakak ekskul angkatan atasku yang lain. Mereka hampir sama, cantik, tenar, dan elegan, apa dayaku.

Tapi kau tahu, aku tidak ingin terpuruk sampai disitu. Kau tahu, ada hasrat ingin menyamai kakak-kakakku. Tidak dengan kecantikan, mungkin dari segi akademis. Hanya itu mungkin yang bisa aku tiru dari mereka.  Entahlah, rasanya dulu hasrat ingin sepintar kakakku sangat kuat. Setidaknya aku tidak terlalu menjadi buntang di keturunan kiranaku ini.

Terkadang aku hanya tersenyum dan malu untuk mengingat semua kenangan bersama Kak Indah. Mungkin tidak harus kuceritakan terlalu detail. Biarlah saat ini Kak Indah mencerna apa saja yang pernah kami lalui, itupun kalau dia ingat.

Aku hanya akan menceritakan tentang dua peristiwa yang paling menyenangkan dan juga yang paling menyedihkan, ini versiku.

Momen yang paling menyenangkan bagiku adalah ketika dia menjadi pengucap pertama di hari ulang tahunku yang ke-17. Ya, tidak perlu kujelaskan bagaimana mungkin aku merasa senang. Karena kebahagianku adalah ketika seseorang mau membagi waktunya untukku, itu saja.

Mungkin peristiwa yang satu ini bukanlah yang cukup menyenangkan. Tapi apa yang dia lakukan cukup membuatku senang, yaitu ketika dia ke kosanku. Meskipun setelah itu kami marahan. Tapi aku senang, ternyata dia punya perhatian kepadaku.

Dan momen yang menyedihkan bagiku adalah ketika kami marahan. Dan itu terjadi ketika dia lulus dimana-mana. Di UI, di STIS. Disana aku merasa kecil dan tentunya cukup kecewa. Karna dia menjauh, seakan lupa denganku. Entahlah, aku dulu hanya ingin ada,  bukan benar-benar ada ketika dia berjuang, aku sadar itu. Dan mungkin, ketika namanya melambung, dipuji sana-sini,  sebaiknya memang aku menjauh.

Dan yang kedua adalah, ketika dia yang mungkin lupa hari ulang tahunku di tahun ini. Entahlah, apa dia sengaja atau tidak menjadi pengucap terakhir di hari itu, tapi yang jelas aku sedih dengan pilihannya. Sejak itu, aku menyadari bahwa aku tidak seberarti itu, dia tidak secare itu. Entahlah, aku juga sama sekali tidak membenci sikapnya, aku hanya sedikit kecewa. Karna bagiku, dari ulang tahun, kita dapat melihat seberapa berarti diri kita di mata orang itu. Dan hari itu, aku punya kesimpulan tersendiri.

Baik buruknya,  aku sangat merasa beruntung bisa mengenalnya lebih dekat, meskipun bagiku itu tidak benar-benar nyata. Kak Indah itu hanya di dunia maya. Bayangkan, kami hanya bertemu satu tahun sekali. Bahkan kalau harus dihitung, mungkin tidak sampai sepuluh kali kami pernah meetup.

Kedekatan kami itu hanya di dunia maya.  Entah bagaimana sosial media dan internet bisa menyulapnya. Tapi aku tidak benar-benar ada untuknya, dia juga tidak benar-benar ada untukku. Aku hanya ingin berusaha ada, tapi jarak dan waktu menghalangi semuanya. Sikap kami semu, persaudaraan kami semu.

Terkadang ingin sekali dia ada saat ini. Saat dimana dia pernah ada di posisiku, kasus sbmptn. Entahlah, mungkin dulu aku juga tidak pernah ada untuknya, aku ingin ada, bukan benar-benar ada. Ingin sekali meminta  saran, seperti yang kubilang tadi, dia pernah ada di posisi ini. Ingin tahu apa sikapnya dalam situasi seperti ini. Tapi sudahlah, tampaknya dia tidak terlalu tertarik. Mungkin dia takut salah ngomong.

Kami punya dunia kami sendiri. Aku hanya maya diantara teman-teman dan sahabatnya, aku tidak benar-benar ada, tidak benar-benar mengerti keadaannya, masalahnya, kesedihannya. Dia juga sama, tidak pernah ada untukku. Bagiku, kisah kami tidak lebih dari cerita dongeng yang begitu menyenangkan, tapi bukan kenyataan.

Sejauh ini, aku merasa Kak Indah sangat baik, terlalu baik malah. Mau meladeniku dan sepertinya tidak malu punya adik sepertiku. Mau meladeni ke-childishan-ku yang terkadang dia juga yang reseh. Tapi kuakui dan sangat kuacungi jempol, dia selalu bersikap baik kepada semua orang, termasuk aku, yang entah dianggapnya bagaimana. 

Meskipun sejujurnya aku begitu penasaran bagaimana pendapatnya terhadapku. Dia tidak pernah mendeskripsikanku, surat yang pernah dia janjikan hampir satu tahun yang lalu itu hanya bualan, kami tidak pernah bertemu lagi sejak itu. Dia selalu berkata bahwa kami akan bertemu lagi ketika aku menyebut farewell di kala meetup yang terakhir itu.

Entahlah, aku merasa cukup malas untuk meetup, kemudian sedih setelahnya. Aku benci perpisahan. Lagipula, tidak ada kesempatan yang begitu baik untuk meetup. Aku tidaklah tinggal di Palembang yang awalnya menjadi titik dimana kami bisa bertemu. Bayangkan, acara dan tempat apa yang bisa mempertemukan kami? Tidak ada. Rasa rindu itu hanya terluap dalam tiga huruf “kgn”. Sisanya, tidak ada tindakan sama sekali dari kami.

Rasanya dia makin jauh pergi dari hidupku. Entah di dunia maya ataupun nyata. Kami memiliki kesibukan masing-masing, dunia masing-masing,  yang keduanya sulit disamakan. Entah dia yang pergi atau aku yang tidak kunjung tiba di titik temu berlambang sigma itu. Entahlah, aku hanya merasakan kesemuan tentang hal itu.

Aku mengerti tentang keresahannya dalam menemukan jati diri yang sebenarnya dan aku juga akan menghargai keputusan akhirnya. Dia pintar dan berbakat di bidang manapun, dia hebat, berhak memilih, tinggal tunjuk, karena semua bakat menghigapi dirinya. Kau akan sangat kagum dengannya jika mengenal lebih dekat, dan tentunya iri, percayalah.

Kisah yang begitu klasik antara aku dan dia. Persaudaraan yang kata orang sangat klop dan menggemaskan. Terkadang aku mengakui itu, tapi sayangnya, itu tidak sepenuhnya nyata. Kami terjebak dalam layar ponsel, entah kapan, mungkin atau tidak layar ponsel itu berhenti membatasi raga kami.

“It’s not about who care. But how you care.  Leave or not, your choice”

 

Laily, 21 Juni 2017

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s