Chelien Kurniah Alfatrian

Aku bukanlah salah satu teman akrab atau sahabat Chelien. Tapi Chelien adalah orang yang sangat penting dan tidak akan kulupakan samapai kapanpun. Semoga Chelien suka, ya.

Awal kenal Chelien itu ketika kami sekamar masa MOS dan juga Latdis. Jadi, Chelien ini adalah teman sejak awal SMA dan hingga sekarang. First impression untuk Chelien adalah ramah dan lincah. Dan itu memang benar. Ranjang Chelien ada di bawahku (bertingkat dua). Jadi, akan sangat terasa kalau Chelien gerak-gerak pas tidur, ahaha.

Chelien adalah pemilik alarm yang sangat menggelegar. Berkat alarm milik Chelien, kami tidak akan telat di pagi hari. Cukup banyak kenangan tak terlupakan masa MOS dan latdis bersama Chelien. Masa dimana kami saling membangunkan, mengingatkan perlengkapan, bergiliran ke kamar mandi, dimarahin, dsb. Aku sangat kangen masa-masa itu, tapi bukan berarti aku ingin mengulangnya, tidak, hehehe.

Aku juga satu kelompok dengan Chelien ketika homestay. Diriku menjadi teringat masa-masa di rumah ibu angkat bersama Kak Uit sebagai senior pendamping, rindu sekali. Masa dimana kita berjalan ke sawah bapak yang jaraknya 2 km ya kalo ga salah. Haduh, capek banget waktu itu. Tapi masa itu sangat indah dikenang.

Masa-masa pahit asrama di tiga bulan pertama juga kulalui bersama Chelien. Mulai dari buka puasa, sahur, latdis, mandi lumpur, dsb. Kami saling mengingatkan dan memberi semangat. Yang paling kuingat dari Chelien adalah dia selalu memarahi kami kalau makan sambil berbicara, heheh. Kekompakan yang tiada tara harus kami lakukan untuk menyelamatkan diri dari cobaan mos, latdis, dan homestay. Mulai dari berbagi air untuk mandi, tugas piket, menghemat air minum, cepat-cepat mandi supaya yang lain tidak telat, dsb.

Momen yang paling kuingat adalah ketika kami diam-diam makan di malam hari. Padahal itu sudah hampir jam 9 dan kami disuruh piket. Tiba-tiba salah satu senior kami memergoki kami yang sedang makan bersama di lantai. Kakak itu memarahi kami karena belum piket. Itu adalah pertama kalinya kamar kami dimarahi oleh senior. Masa yang lain juga ketika aku lupa membawa name-tag. Gawat sekali urusannya kalau itu terlupa. Untungnya Chelien mengingatkanku, hehehe.

Setelah 3 bulan, kami akhirnya rolling. Aku ga sekamar lagi dengan Chelien, hihiw. Sejak saat itu aku memanggil Chelien dengan sebutan “mami”. Karena aku merasa selama tiga bulan ini dia sepeti ibu yang selalu mengingatkanku dan menasihatiku, hihihi.

Kedekatan kami makin erat ketika berbagai kegiatan ekskul, yaitu kirana. Ada berbagai hal dan kejadian yang kian mempersatukan kami. Kami saling support satu sama lain. Hingga akhirnya Chelien terpilih sebagai ketua kirana. Bangga sekali diriku, hihiw.

Aku dan Chelien juga seringkali duduk bersebelahan ketika tadarus di masjid. Di sana kami saling ganggu dan menjahili. Terkadang kami ketiduran dan dimarahi pembina asrama. Aduh, aku kangen sekali momen itu.

Bagi kami yang berhalangan untuk shalat, kami berkumpul di teras masjid agar tetap terkontrol oleh pembina. Cukup sering kami berdua berkumpul di teras masjid. Biasanya kami belajar, tidur, atau mengobrol.

Chelien adalah orang tertegar yang pernah aku temuin. Orang yang paling ceria dalam kondisi apapun. Sangat bijak dalam mengatasi masalah. Tidak heran kan kalau dia jadi ketua ekskul. Aku sangat terinspirasi terhadap Chelien. Keceriaannya membuatku sadar bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, kita harus selalu merasa bersyukur dan bahagia  🙂

Ohiya, ulang tahun kami berddekatan, loh. Aku lahir tanggal 27 maret 1999. Sedangkan Chelien lahir tanggal 28 maret 2000. Ya, Chelien lebih muda dariku. Tapi tetap saja aku menyebutnya mami, hingga akhornya teman-temanku yang lain ikut-ikutan memanggilnya mami. Tapi aku tetap her first daughter, kok, heheh.

14604  14605

Chelien sebagai Peri Bintangku

Hal yang tidak akan pernah aku lupakan adalah bahwa karena Chelianlah aku bisa menggapai impian terbesarku di kelas 11. Chelien adalah orang yang pertama kali mencetuskan kata astronomi dalam hidupku. Tanpanya, mungkin tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengikuti seleksi olim astronomi di sekolah.

Dia yang kala itu melihatku sangat menyukai pelajaran matematika dan fisika tiba-tiba menyarankanku untuk mengikuti tes seleksi untuk menjadi tim olim astronomi di sekolah. Kata itu sangat asing bagiku. Pernah sekali dua kali mendengar. Tapi, aku mengira astronomi adalah ilmu hafalan yang sangat tidak cocok denganku. Tapi aku salah, ternyata astronomi itu adalah menghitung.

Aku mulai mempertimbangkan saran Chelien. Hingga akhirnya aku cari tau lebih lanjut tentang olim astronomi, dan aku tertarik. Sejak itu, aku berpaling dari olim matematika yang menolakku di tahun lalu. Aku mulai belajar sedikit demi sedikit untuk menghadapi tes seleksi di sekolah.

Hingga akhirnya aku lolos osk dan menuju osp. Disanalah puncak keputusasaanku. Aku merasa tidak kompeten. Aku sangat lelah dan ingin berhenti berjuang karena keadaan yang kian menghujam dan membuatku ingin menyerah. Ketika pelatihan di bogor, aku sakit, peringkatku jauh terpelanting, aku merasa sangat putus asa dan pasrah karena merasa tidak mungkin untuk lolos OSP. Malam itu, satu hari sebelum pulang ke Palembang. Aku curhat panjang lebar ke Chelien. Aku yang semula telah memutuskan untuk menyerah, kemudian bangkit lagi karena perkataan Chelien. Saat itu adalah H-7 menuju OSP, dan aku baru bangkit.

Sepulangnya dari Bogor, aku melahap semua buku astronomi dan mengejar ketertinggalan materi. Dan, aku lolos lagi. Sejak itu aku menjukukinya peri bintang karna telah menyelamatkanku, eaaaa.

Dear Chelien,

Mungkin aku mulai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa berartinya nasihat-nasihatmu. Cerita di atas mungkin hanya sebagian kecil nasihat yang pernah kamu lontarkan untukku. Semua nasihatmu begitu bijak dan mengena. Terkadang aku menggunakan prinsipmu dalam bersikap. Prinsip bagaimana berteman, bersahabat, mengatasi masalah dan kesedihan, mengatasi keputusasaan, dan masih banyak lagi.

Aku tau, mungkin kamu merasa biasa saja terhadap apa yang telah kamu lakukan. Tapi percaya deh, siapapun yang jadi aku, pasti akan sangat berterimakasih.

Tetaplah menjadi yang terhebat, yang terbaik dalam bidang apapun. Aku percaya, kamu akan menjadi berlian dimanapun berada. Tetap jalankan prinsip yang kamu miliki. Jangan pernah menyerahdan putus asa. Mungkin hanya dengan tulisan ini aku bisa berterimakasih sekaligus mengenangmu. Kamu sangat menginspirasi. Tetap ceria ya, Mamiku. Semoga kesuksesan selalu menyertaimu. Jangan pernah lupakan aku yang hanya serpihan debu di hidupmu~

Minggu, 9 April 2017 (Satu hari sebelum UN)

your first daughter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s