Tania Evita Salsabila

Jujur aja, untuk memulai nulis ini, aku ngehabisin waktu sekitar sepuluh menit untuk mikir harus mulai dari mana. Semoga Tania suka, ya.

Aku lupa sejak kapan kami berdua dekat. Aku rasa sejak ulang tahun Tania,  kemudian berkembang menjadi teman di les global, hingga makin dekat dan makin akrab.

Dulu kami bersepakat untuk merayakan masing-masing ulangtahun, wkwk. Sebenarnya tadi gamau cerita ini sih, soalnya banyak sedihnya, tapi banyak kenangan manisnya juga. Tak apalah, supaya Tania ingat semua kenangan indah bersama Laily.

Sebenarnya ini bukan acara surprise, karena yang bersangkutan sudah tau, milih sendiri kue ulang tahun, dan request balon warna apa dan gimana, surprise apa-apaan coba. Jadi kami ngerayain Tania di 40avenue, atas permintaan Tania sendiri, wkwk.

Ih, tapi seru sih bagi aku pas jaman-jaman bertiga gitu, walaupun banyak childishnya gitu ya. Kita tuh temenan kayak masih anak SMP. Dikit-dikit marahan, cemburuan, berantem. Duh, alay banget ya, dulu, tapi biarpun gitu, aku kangen, hehehe.

IMG_4003

Trus ya, setelah beberapa lama dari itu, Thessa kan mau ulangtahun, jadi aku sama Tania sok-sokan mau ngerjain Thessa gitu, bikin dia jengkel. Dan alhasil, rencana kita adalah, nyuekin Thessa. Tiga hari sebelum Thessa ulang tahun, aku tiba-tiba duduk sama Tania (sesuai rencana). Terus Thessa ngambek gitu kan. Trus, tambah deh kami isengin dia. Sampe akhirnya agak parah sih akibat kejahilan kita, so sad. Jadi pas hari-H Thessa ulangtahun, Thessa masih marah dan kita juga balik marah karna Thessa ngatain kita, yaelah, jadi kami berdua bingung kan. Udah beli kue dan balon juga ini. Sumpah ulangtahun Thessa tuh gak lucu banget, krik setengah mati. Tapi mereka kangen ga sih masa-masa itu, apa aku aja ya yang kangen, sudahlah.

IMG_4405

IMG_4520

Kami makin akrab karena les bahasa inggris di global. Aku lupa kita les hari apa aja, senin sama rabu ya kalo ga salah. Setiap pulang sekolah, aku sama Tania naik bluebird, kadang juga sama Zhafira dan Mini. Tapi sejak Mini punya motor, Zhafira ikut mini dan akhirnya cuma aku sama Tania deh yang naik bluebird.

Sumpah, aku kangen banget masa-masa ini. Masa dimana aku sama Tania, dan juga Thessa berpetualang di global pada malam hari, ih jangan salah paham, maksudnya les bahasa inggris. Tapi lesnya santai dan bisa sambil main-main, jadi masa itu menurutku seru banget.  Pulang sekolah langsung caw ke global, trus shalat ashar di mushola, abis itu biasanya jajan dulu, baru masuk kelas. Tapi kami lesnya cuma berapa bulan, setelah itu kami berhenti pas udah mau naik level, tau ah, hahaha.

IMG_4556

Jadi, dulu tuh, hampir semua aktivitas yang aku lakuin, Tania tau, ya ga sih. Ga juga sih, tapi pokoknya kalo ada apa-apa pasti kami saling cerita, udah kayak pacar deh. Alasan lainnya adalah karena kami berdua jomblo, jadi ga ada yang merhatiin, wkwk.

Pas di sekolah, kemana-mana pasti sama Tania, pokonya dimana ada aku, disitu ada Tania. Sampe akhirnya aku mulai sibuk intensif gitu, jarang bisa masuk kelas. Jadi aku terasingkan karna harus ikut pelatihan di kelas khusus, akhirnya ga bisa bareng-bareng terus kayak dulu. Cuma pas istirahat makan siang aku ketemu sama Tania. Trus kami pisah lagi deh, dan pelatihan itu berlangsung hampir 3 bulan ya. Ga terus menerus sih, ada jeda sekitar seminggu, trus aku intensif lagi, terus masuk kelas, intensif lagi, ya gitu deh.

Tania selalu support aku, nyemangatin aku, pokoknya kayak pacar aku, heheheh. Aku nyaman banget dulu, sumpah. Aku bebas mengekspresikan diri dan hati aku. Aku mau sedih, bimbang, capek, atau apapun, aku bebas mau ceritain apa aja pokoknya, dan dia selalu mendengarkanku……..

Tapi mungkin sejak aku sibuk intensif gitu ya, aku sama Tania agak renggang. Karna aku ngakuin juga sih kalo aku udah mulai banyak fokus sama hal yang lagi aku tekunin, udah agak jarang cerita sama Tania. Mungkin juga Tania udah terbiasa tanpa aku karna intensifnya itu lumayan lama, hiks. Ga mungkin gitu kan dia harus bergantung sama aku, huhuhu. Aku makin ngerasa jauh dari Tania. Aku gatau kenapa, pokoknya kami ga sedekat dulu, padahal aku kangen banget tuh bisa ngehabisin separuh waktu sama dia, cerita yang tanpa batas. Aku juga mulai ngebatasin cerita, ada beberapa hal yang ga bisa aku ceritain, dan aku juga gatau Tania gimana ke aku.

Aku jadi tambah muak sama intensif-intensif gituan. Aku selalu sendiri, kemana-mana sendiri, aku mulai ngerasa udah jauh dari dunia yang dulu. Aku sibuk sendiri, hiks. Tapi, ya aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang aku miliki saat itu. Bahkan kesempatan itu ga bisa aku ulang tahun depan, ga mungkin banget.

Jadi, ya, waktu terus berlalu. Hingga tiba saatnya perpisahan kelas. Pas itu, aku sama Tania benar-benar renggang. Aku canggung sama dia. Tau ah, ga usah diinget. Sampe akhirnya kami naik kelas 12 dan ga sekelas. Dan sejak itulah aku udah jarang komunikasi sama Tania.

Suka tiba-tiba kangen gitu. Kangen bisa cerita sebebas sama Tania. Tapi, ya, waktu terus berlalu, lama kelamaan aku mulai terbiasa sama keadaan. Dan itu adalah keadaan yang sangat aku benci.

Time changes us

Sekitar dua minggu sebelum pisah, kami mulai dekat lagi. Sumpah, aku seneng banget bisa kayak gini lagi. Aku kangen bangeett, hiks. Apalagi pas Tania nge-snapgram lagu see you again, lagu kenangan kami berdua. Lagu itu sering kami dengerin pas aku lagi intensif dan kami terpisah gitu. Ya ampun, aku nangis pas denger itu, apalagi Tania yang ngirim. Dan rasa kangen aku kian membludak di masa-masa hampir pisah. Aku gatau harus gimana di masa-masa akhir ini. Aku ga bisa berbuat banyak, apalagi setelah UN aku harus ninggalin kosan dan pergi dari Palembang.

Tapi aku ga pengen sedih-sedihan pas di ujung perpisahan ini, aku harus terima kenyataan kalo waktu bareng-bareng itu emang udah menyempit banget, udah habis malah. Aku gatau kesempatan apa lagi yang bisa ngebuat kami bisa bareng-bareng kayak dulu, ke kantin bareng, ke masjid bareng, ke dapur bareng. Aku gatau kapan lagi, ga akan pernah, semuanya udah berakhir.

Seperti kata Tania, ini adalah takdir Tuhan yang memperdekatkan kami lagi ketika di ujung jalan. Mungkin Tuhan pengen kita happy ending. Tapi aku percaya, ini ga akan ada ending. Kita akan terus sahabatan. Walaupun aku ga bisa jamin kalo kita akan komunikasi terus, curhat terus, apalagi sering-sering meetup.

Kadang ada saatnya kita harus dihadapkan sama hal yang sangat kita benci, yaitu perpisahan. Tapi kita harus hadapin ini, kita ga bisa membeli waktu yang udah berjalan. Itulah kenapa aku selalu bilang kalau waktu itu penting. Kalo udah gini, siapa yang bisa beli, berapa harganya? ga ada yang bisa jawab, kan. Yaudah, mungkin cuma tulisan yang bisa membawa kita ke masa itu kembali. Walaupun aku gatau, apa masa itu adalah masa yang Tania kangenin atau ga.

Dear Tania,

Mungkin aku bukan sahabat terbaik yang Tania punya. Aku cuma ada di sepertiga masa SMAnya Tania. Aku bukan teman 24 jam, bukan sahabat yang slalu ada di kala dibutuhkan, bukan sahabat yang asik diajak ngobrol, diajak jalan, dan tidak mengeti keinginan Tania. Aku juga bukan sahabat yang keren dan pandai bergaul. Tapi, makasih sudah berusaha nerima aku apa adanya.

Aku juga sadar, mungkin aku ga selalu di urutan teratas dalam daftar nama-nama penting di hidup Tania. Dan aku ga bisa maksa Tania untuk menempatkanku jadi urutan atas. Aku sadar, ga semua yang kita berikan bisa dibalas oleh orang itu. I know that, dan aku terima itu.

Maaf karna aku pernah memaksa Tania untuk lebih care ke aku. Sekarang aku sadar, mungkin aku yang terlalu menganggap Tania berlebihan, mungkin Tania emang ga bisa kasih itu ke aku. Well, aku cuma kangen masa-masa itu, masa yang ga akan pernah balik lagi.

Maaf kalo selama ini Tania hanya terpaksa bersahabat denganku. Aku sering dan selalu berpikir seperti itu sejak kejadian itu. Maaf ya kalo tingkahku dulu selalu membuat jengkel, kesal, dan tidak betah.  Aku janji ga akan gitu lagi,  ya karna waktu kita hampir habis.

Terimakasih karna sudah menemani hari-hariku, mewarnai masa kelas 11ku, mendengarkan curhatanku, memberikanku semangat ketika sedang berjuang. Semoga keinginan Tania tercapai, semoga kita tetap bisa komunikasi dan meetup sewaktu-waktu.

Seperti kata Tania, ini semua belum berakhir, tapi akan ada saat dimana kita kangen masa-masa dulu. Bukan sekarang, tapi nanti. 

From me:

“Persahabatan itu seperti puzzle. Dia tidak utuh dan sempurna, namun itulah dia, apa adanya. Terlihat tak berharga ketika hanya berupa kepingan tak karuan bentuk. Tapi kau bisa merangkainya, menjadi sesuatu yang lebih indah.

Mungkin ketika Tania membaca ini, jarak antara kita hampir jauh terbentang, jauh sekali, ribuan kilometer. Tapi percayalah, aku akan sangat merindukan kenangan-kenangsn bersama Tania. Lebih dari apa yang bisa Tania bayangkan.

Keep fighting, Tania, ditunggu jasnya. See you when I see you again 🙂

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s