My Worst Birthday

Sweet seventeen adalah ulang tahun yang spesial, aku sangat menunggu nunggu itu datang. Tahun ini akan menjadi ulang tahun paling indah yang pernah aku dapatkan, semula. Sebelum kepergian nenek, mama telah berjanji kepadaku akan menghadiahkan birthday party di sweet seventeenku. Tapi semuanya berubah, karena nenek pergi.
Aku kecewa, ya, kecewa. Lantas, siapa yang harus kusalahkan? Tak ada, tak seorang pun yang dapat kusalahkan. Aku tak menyalahkan mama, nenek, atau siapapun. Aku hanya kecewa. Sudahlah. Aku juga bersedih atas kepergian nenek dan kalaupun mama bersedia untuk memenuhi janjinya, aku pun tak mau. Tak etis bagiku.
26 Maret 2016,
Saat itu, di sekolah kami sedang diadakan bazar makanan. Sorenya, kami, ekskul kirana, akan mengadakan acara perpisahan super senior. Meskipun kakak angkat ekskulku telah lulus, tapi aku tetap bersemangat untuk datang. Aku telah banyak kehilangan event bersama ekskulku karena olimpiade. Saatnya aku mengikuti event lagi, bersama teman seangkatan ekskulku khususnya.
Saat itu, Monica mengatakan bahwa dia akan pergi bersamaku. Sehingga aku lega karena memiliki teman untuk pulang dan pergi kesana. Namun ketika siang, Monica mengatakan bahwa dia tidak jadi datang. Sehingga aku pun menjadi badmood. Aku pun memutuskan untuk tidak ikut juga. Namun, aku menjadi sangat badmood waktu itu. Sehingga aku hanya diam dan di kamar semalaman di malam itu.
Sudah pukul 22:00, Monica tak kujung masuk ke kamar. Ia memang biasanya ke kamar Muna, di depan kamar kami. Namun, mengapa sudaj semalam ini dia belum kembali. Tapi aku berusaha sok cuek dan tidak ingin keluar kamar. Karena aku marah padanya. Aku mencoba untuk tidur dan membalut badanku dengan selimut.  Tiba-tiba aku mendengar ada suara mencurigakan di pintu kamar, tiba-tiba pintu kamarku terbuka sedikit. Tapi aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Aku pun tak terlalu menghiraukan hal itu. Tiba-tiba, pintu itu tertutup rapat lagi. Rupanya, Monica mengambil kunci kamar kami agar aku tidak mengunci kamar dari dalam. Namun aku tak tahu saat itu. Aku pun memutuskan untuk tidur. Tapi, seperti biasa, aku tak dapat tidur di malam sebelum aku ulang tahun. Aku pun mematikan lampu kamar agar aku cepat tertidur. Sehingga, aku baru tertidur pukul 23:00.
27 Maret 2016
“Happy birthday, Laily!!” Suara itu samar-samar, aku baru saja tertidur satu jam lalu. Aku melihat ada cahaya-cahaya kecil, aku tak tahu apa, samar. Tampaknya aku tertidur lagi. Aku pun terbangun kembali karena kakiku ditepuk oleh mereka. Mereka membawakan kue untukku. Ya Tuhan, aku benar-benar mengantuk saat itu. Maafkan aku, kalian agak krik memberi surprise karena aku hanya membuka mata sebentar dan tertidur lagi.hahah.
Akhirnya aku pun bangun dari pembaringan, dan meniup lilin sambil mengucapkan wish dalam hati. Saat itu, pukul 12:30, sehingga kami memutuskan untuk tidak memotong kuenya terlebih dahulu. Ohiya, mereka yang hadir tengah malam itu adalah Muna, Monica, Devi, dan Cici. Ayu hanya menitip salam dari kamarnya, wkwk. Setelah itu, aku pun mengucapkan terimakasih dan mereka pun pamit ke kamar masing-masing. Monica memberiku kado boneka doareomon, sesuai kode dariku,hahah. Akhirnya aku memiliki boneka untuk menjadi teman si rilakuma.
Aku sengaja mematikan HPku agar aku tidak terganggu tengah malam, heheh. Tapi aku penasaran siapa yang menjadi pengucap pertama. Apakah mereka, atau ada yang lebih dulu sebelum mereka. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk tidur kembali tanpa mengecek HP.
Pukul 4, aku terbangun. Aku pun langsung menghidupkan HP dan benar-benar penasaran siapa yang menjadi pengucap pertama di hari ulang tahunku. Ternyata, ada telepon dari mama yang tak terangkat. Lalu aku pun membaca sms mama yang sangat panjang. SMS terpanjang yang pernah mama kirim kepadaku. Mamaku mengucapkan selamt ulang tahun, mendoakan dalam banyak hal, dan meminta maaf kepadaku atas janjinya tentang birthday party yang tak dapat mama tepati karena kepergian nenek. Mama mengatakan bahwa aku dan Reyhan adalah penghibur mama di kala kesedihannya. Aku pun membalas sms mama. Air mataku mengalir, deras, tak dapat kuhentikan. Aku sedih, bersyukur, kehilangan, menyesal. Entahlah, semuanya campur aduk menjadi satu. Kalau boleh dikatakan, ulang tahun ke-17 ini menjadi ulang tahun yang paling menyedihkan dalam hidupku. Nenek pergi, di tahun ini.
Aku memutuskan untuk tidur kembali, menenangkan diri. Aku akan mengecek HPku pagi nanti.
Kak Indah, dia adalah pengucap pertama di hari ulang tahunku. Dia begadang, demi aku, heheh. Dia mengucapkan wish yang cukup panjang di line diiringi dengan vn yang sampai sekarang sangat sering kuputar. Aku suka suara Kak Indah, bagus.
Beberapa hari kemudian, ada kantong yang berisi kado tergantung di pintu kamarku. Aku pura-pura tidak melihat, aku pikir dari orang-orang di sekitarku, sehingga aku pun malu-malu untuk melihatnya. Aku pun masuk ke kamar, tanpa menyentuh kado itu. Aku tidak tahu itu dari siapa, hahah.  Devi pun masuk ke kamarku, seperti biasa, dia membawa kado itu. Aku pun menanyakan dari siapa kado itu. Dia mengeceknya, dan membacanya. “kak indah”. Ujarnya, aku langsung merampasnya, kaget, dan curiga dengan perkaaan Devi. Ternyata benar.
Sebenarnya aku sudah tau dari Monica kalau Kak Indah ingin kesini. Tapi, mengapa tidak bertemu langsung padaku. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku ingin Kak Indah datang, di hadpanku. Mengapa harus misterius seperti ini. Biasalah, aku suka seperti kalau sama Kak Indah. Suka marahan,wkwk. Kan aku adiknya, jadi seharusnya dia membujukku seperti aku membujuk Reyhan (apasih).
Aku belum membuka kado itu. Entahlah, sayang saja jika membukanya. Namun, aku penasaran apa isinya. Akhirnya, beberapa jam kuhiraukan, aku baru membuka kadonya. Aku langsung mencari-cari surat di kotak itu. Nihil, Kak Indah tak menulis surat untukku. Yang aku harapkan dari kado adalah suratnya, sebenarnya. Tapi ya sudahlah, aku senang Kak Indah sudah bela-belain datang ke kosan saat lagi sibuk-sibuk kuliah cuma untuk mengantar kado buatku. Terimakasih ya, Kak Indah. Maaf, adek suka nakal 😦
Saat aku pulang ke Baturaja untuk memeperingati 40 hari nenek dan sekalian libur, Fina dan Leony juga merayakan ulangtahunku dengan sedikit misteri yang tak kalah failednya, hahah. Makasih juga Fina dan Leony.
Setiap hari aku bertanya,
Aku bingung, mengapa orang-orang terdekatku tidak memberikan hal yang “sedikit spesial” untukku. Pikiranku kian berkecamuk. Adik angkatku juga tidak ada yang perduli, bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun.
Dari hari ke hari, aku semakin menganggap diriku tak berarti. Terkadang aku bertanya, apakah aku pantas untuk kecewa?. Dari ulangtahun, bukankah kita bisa melihat seberapa berarti kita di mata orang lain?. Dan fakta yang harus kutelan bulat-bulat adalah,  -mereka tidak perduli- dan -aku tidak berarti-
Itulah kira-kira kesimpulanku terhadap diriku sendiri. Terkadang aku hanya tersenyum pahit dan menggelengkan kepala. Ya Tuhan, aku menganggap mereka berarti. Ya Tuhan, ini sangat berkebalikan dengan apa yang kuimpikan. Apa aku salah untuk kecewa.
Dari hari ke hari, aku makin membenci ulang tahun. Aku sangat kecewa, benar-benar kecewa. Karena apa, karena aku merasa aku tidak seberarti itu di mata orang lain. Mungkin kalian akan menyalahkanku karena ini. Tapi, jika kalian di posisiku, ditumpahi dengan janji-janji palsu yang nampaknya menyenangkan, bualan-bualan kosong, kalian akan sangat terpuruk, dan benar-benar kecewa. Kalian diangkat, lalu dijatuhkan dengan keras.
Aku ingin sekali bangkit, tidak kecewa lagi dan mengutuk ulang tahun. Ini adalah ulang tahun paling buruk dalam hidupku. Aku tidak punya teman untuk mengadukan hal ini. Terlalu memalukan, sangat memalukan bagiku untuk diceritakan.
Berbulan-bulan, aku berusaha berdamai, berdamai pada ulang tahunku. Mengikhlaskan semua harapan yang cuma janji belaka. Kalian tau, siapa yang membangkitkanku? Chelien. Lagi-lagi Chelien. Mungkin aku tidak bercerita secara langsung tentang kekecewaanku tentang ulangtahun. Tapi, karena dia, aku bangkit. Aku mengubah pandanganku terhadap orang lain. Aku berhenti menganggap orang lain spesial.
Sejak hari itu, aku  takut menganggap orang lain spesial. Takut terjatuh ke lubang yang sama. Aku berhati-hati, sangat berhati-hati. Apapun yang akan terjadi di hari ulangtahunku selanjutnya, aku tidak boleh berharap, lalu kecewa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s