21 Januari 2017

Perahuku mogok. Nampaknya akan kehabisan bahan bakar. Oh Tuhan, minta pada siapa lagi, minta bantuan apa lagi?. Mengapa semakin banyak bahan yang kuperlukan seiring habisnya masa sewa di pulau ini. Bukannya semakin murah, harga bahan bakar semakin melonjak drastis. 

Aku kebingungan. Merasa bersalah pada mama dan papa atas tindakanku memilih pulau ini. Aku merasa terlalu kejam untuk meminta dibelikan bahan bakar yang selalu terbilang mahal di pelabuhan ini. Tapi tanpa itu, perahu ini tak dapat berkutik, tak dapat beroperasi kemanapun. Sedangkan aku belum memiliki sampan yang cukup baik untuk mendayung perahu sendiri. Aku butuh bantuan mesin, dan mesin membutuhkan bahan bakar itu.

Aku menatap gerombolan perahu sekitar. Banyak yang tampak bagus dan mewah. Banyak pula yang sederhana. Ada sebagian yang mampu membeli bahan bakarnya sendiri. Tapi lebih banyak dibelikan oleh orangtuanya, sepertiku. 

Namun perahuku sama sekali tak megah. Kalaupun megah, itu karena dekorasiku sendiri. Pernah satu dua kali aku mendapatkan pernak pernik yang bagus untuk mendekorasi perahu. Dan pernak pernik itu adalah beberapa prestasi yang kucapai dalam masa pembekalan di pulau ini

Memang tidak seindah milik temanku, jauh sekali. Semuanya kudapatkan dengan susah payah. Berpuluh-puluh malam dan juga siang aku berusaha mendapatkan pernak pernik itu, penghargaan itu. 

Pernak pernik itu tampaknya juga tak terlalu hebat. Aku ingat sekali ketika wajahku yang sempat terpampang di banner dicopot, kemudian dijadikan alas pengadukan semen, diinjak-injak. Hatiku begitu teriris. Sebegitu mudahnya  mereka merendahkan kualitas pernak-pernik capaianku?

Sudahlah, yang terpenting aku akan segera menuntaskan masa sewa di pelabuhan ini. Memang ada beberapa yang kurang menyenangkan. Tapi bagaimanapun, aku pernah tinggal disini, tumbuh disini, dan menyiapkan bekal disini. 

Mungkin semuanya akan berubah lebih menyenangkan jika aku telah beranjak pergi, sama sekali tak diperbolehkan untuk menetap disini lagi. Tentulah aku tak ingin menetap lebih lama. Itu sama saja aku tidak lulus dan tinggal kelas. 

Terkait bahan bakar tadi. Aku sangat malu untuk minta dibelikan terus menerus. Ingin rasanya aku membeli sendiri. Atau paling tidak bisa membeli sampan yang bagus agar bisa mendayung lebih leluasa.

Namun selama ini pun, aku belum terlalu menguasai teknik mendayung. Entahlah, aku merasa umurku masih terlalu muda untuk melaksanakan kegiatan itu. Tapi aku tahu, sebentar lagi aku harus menguasai tekniknya, aku harus menafkahi diriku sendiri setidaknya. 

Ingin sekali rasanya mendayung sendiri, tanpa minta dibelikan bahan bakar oleh mama dan papa. Bahkan aku ingin sekali membelikan adikku bahan bakar. Ingin rasanya melihat mama dan papa berhenti menunaikan tugasnya, berleha-leha menikmati masa yang kian tua. 

Namun apalah dayaku. Mungkin perahu ini belum sekokoh itu, sehebat itu. Juga sampan yang bagus itu, belum mampu kubeli sendiri.Namun aku berjanji, akan tiba waktunya aku membelikan semuanya untuk keluargaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s