11 Januari 2017

Beberapa kertas penting telah ku print out. Mulai dari surat untuk kepala sekolah yang menyatakan aku lolos babak penyisihan lomba itu, kertas berisi daftar nama peserta yang lolos, hingga mekanisme pelaksanaan lomba. Aku berharap sekolah akan membiayaiku.

Aku berjalan seorang diri ke gedung B. Di sekolahku, gedung B adalah pusat kegiatan para guru dan staff. Disana terdapat ruang kurikulum. Menurut pendapat temanku, aku sebaiknya melapor ke kurikulum mengenai lomba ini. Maka dari itu, kuikuti saja saran dari mereka.

“Tok tok tok”. Aku mengetuk pintu ruang kurikulum, mendorong pintu dan masuk. Disana ada guru matematikaku, aku cium tangan beliau dan mengungkapkan maksud kedatanganku.

“Kalau masalah ini, bukan kami yang mengurus, Nak. Coba menghadap ke pihak kesiswaan. Mereka yang berhak mengambil keputusan terkait izin dan juga biaya.” jawab guru matematikaku itu tegas dan tuntas.

“Lagipula kamu kan sudah kelas 12, kenapa masih ikut lomba?”.

Aku hanya cengengesan dan mengucapkan terimakasih kepada beliau.Mungkin beliau benar, aku seharusnya tidak mengikuti lomba lagi. Aku semakin pesimis, namun setidaknya aku telah mencoba meminta bantuan.

Aku masuk ke ruang kesiswaan yang berada di depan ruang kurikulum yang tadi kumasuki. Disana ada ibu asisten ketua kesiswaan. Aku sangat cemas dan gugup, sehingga aku terbata-bata dalam menyampaikan maksud dan tujuanku.

“Kemarin ikut lombanya tidak izin ke sekolah ya?.” Aku merasa beliau agak sinis padaku. Mungkin hanya perasaanku.

Aku menggeleng dan tersenyum.

“Guru pembimbingnya siapa?” Beliau bertanya lagi.

“Tidak ada, Bu.” Aku menunduk, bagaikan sedang duduk di kursi panas

“Ibu akan coba laporkan dulu ke ketua kesiswaan dan kepala sekolah ya, Nak. Kepala sekolah pasti mendukung. Tapi masalah biaya, sepertinya sekolah belum biasa untuk membiayai seluruhnya. Paling tidak kamu mau fifty fifty dengan sekolah. Soalnya biasanya yang lain juga seperti itu.”

Hatiku bergemuruh, bagaikan tersambar petir. Itu sama saja jawaban telak bahwa aku tidak akan pergi kesana. Saat ini mama dan papa belum mampu untuk memenuhi keinginanku untuk berangkat ke Yogyakarta. Sudah kami rundingkan semalam.

Setelah percakapan itu usai, map berisi hal-hal penting mengenai lomba kutitipkan pada ibu assisten itu. Aku menjadi lesu namun masih penuh harap. Ternyata dugaanku benar, sekolah belum bisa membantuku untuk mengikuti lomba itu.

Ah, aku menyesal telah menitipkan map itu. Akan panjang sekali urusannya. Bagaimana jika kepala sekolah memanggilku dan mengajak fifty fifty?. Darimana aku mendapatkan setengah biayanya. Tapi aku hanya ingin mencoba, siapa tahu sekolah berbaik hati mendanaiku. Sekali lagi, aku hanya berusaha mencoba.


Hingga pulang sekolah, aku tak dipanggil. Tak ada respon dari sekolah. Padahal hari ini  keputusan untuk jadi berangkat atau tidaknya. Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk ke Yogyakarta. Hatiku mulai berusaha mengubur lubang mimpi yang beberapa hari lalu kugali. Saatnya untuk menimbunnya lagi.

Tapi aku masih berusaha satu kali lagi. Aku mendatangi ruang kesiswaan, menemui ibu asisten yang tadi kutitipi map berkas lomba itu. Untunglah beliau belum pulang.

“Belum, Nak. Tapi sepertinya ketua kesiswaan tidak merespon. Lagipula hadiahnya cuma 1,2 juta. Tidak sebanding dengan ongkos perjalananya.” Aku mengangguk cepat. Ingin mengakhiri semua ini dan berniat mengambil map yang telah kutitipkan. Sialnya, beliau sedang mengobrol dengan siswa lain. Aku berdiri cukup lama menunggu mereka selesai mengobrol. Tapi nihil, tak kunjung selesai. Aku kemudian mencium tangan dan pamit untuk meninggalkan ruangan.

Di perjalanan, benar-benar ingin menangis. Nafasku tersenggal. Ingin rasanya terbang ke kamar menuju kamar kosku.

Aku langsung menbambil air wudhu dan shalat asar. Airmata itu tumpah, bercucuran. Sulit sekali menggambarkan perasaanku saat itu.

“Ya Tuhan. Aku tahu aku harus merelakan mimpi sederhana itu. Bahkan hanya untuk sekedar mengikuti lomba ke UGM. Mungkin memang sederhana, tapi biayanya tidak sederhana, aku tahu itu. Memang ibu asisten benar. Hadiah lomba itu tidak sebanding dengan baiaya kesana. Itupun kalau aku menang, kalau tidak?.

Aku tahu Engkaulah yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Aku pun tidak tahu apa yang kuinginkan sekarang terhadap manusia-manusia. Aku hanya ingin bertanya, mengapa aku sering disepelekan?.

Ya, Tuhan. Aku tahu lomba itu sama sekali tidak penting, termasuk bagi sekolah. Bahkan mungkin mereka pun tidak terlalu yakin bahwa aku akan menang. Jangankan mereka, aku pun tidak yakin, Ya Tuhan. Tapi, bolehkah aku bertanya lagi, lomba itu atau aku yang ‘kurang penting’?.

Namun semua yang telah terjadi, aku syukuri. Terimakasih atas semua nikmat-Mu. Mungkin Engkau sedang mempersiapkan ribuan cara lain untuk mengangkat derajat keluargaku. Aku percaya Ya Tuhan.”

Aku menutup doa itu dengan untaian airmata. Entah mengapa aku menjadi secengeng ini.


Sekali lagi, kutatap tiket itu. Aku tak dapat memenuhi undangan dari pulau impianku. Undangan untuk hanya sekedar berlibur, mengenal pulau itu lebih jauh, berharap akan singgah lagi disana. Tapi semuanya harus sirna.

Aku membuang tiket itu ke laut. Orang lain pasti akan menemukannya. Orang  yang punya persediaan bahan bakar untuk menuju pulau itu. Hatiku berusaha tegar, mantap, ikhlas. 

13 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s