3 Januari 2017

Hari pertama tahun ajaran baru. Entah mengapa hatiku gugup, berdebar. Bukan karena gugup dan antusias untuk belajar, tapi aku gugup karena aku belum menerima rapot. Ya, kemarin aku memillih untuk mudik duluan, tanpa menghadiri pembagian rapot, aku harap kami tidak ‘ditegakkan’ di lapangan upacara karena kesalahan itu. Maklumlah, sekolahku ini kedisiplinannya patut diacungi jempol, hal-hal sepela bisa saja menjadi rumit.

Aku menatap diriku di depan cermin. Merapikan seragam hijau khas sekolahku yang hingga saat ini masih tampak kebesaran. Aku siap ke sekolah. Rizka, teman sekelasku yang tinggal di kosan yang sama telah meneriakiku. Kali ini dia siap duluan.

Tak ada yang terlalu spesial pada upacara pertama di awal tahun ini, hanya motivasi dan beberapa informasi lainnya. Dan untunglah, rapotku itu tidak dipermasalahkan pihak sekolah. Tapi hari ini aku harus mengambilnya pada pihak kurikulum. Aku masih cukup was-was dan tengah mengyiapkan berbagai alibi jika beberapa pertanyaan dilemparkan padaku. Pertanyaan mengenai alasan tidak mengambil rapot.


Aku sedang menunggu temanku memfotokopi rapot yang baru saja kami terima. Untunglah, kami tidak ditanya macam-macam. Aku cukup bisa bernafas lega. Tapi masih ada masalah lain, aku belum menjumlahkan nilai rapotku.

Sialnya, aku tahu informasi mengenai penghitungan jumlah nilai rapot itu. Tapi setahuku, itu hanya diwajibkan bagi siswa yang ingin mendaftar SNMPTN. Sedangkan aku masuk ke dalam golongan siswa yang ingin mendaftar kedinasan. Sehingga aku tidak menghitungnya sebelum guru BK mengganti subjeknya menjadi “seluruh siswa”. Aku gelabakan.

Aku menjadi sangat galau tingkat dewa. Masih bingung mengenai langkah yang harus kuambil. Ikut mendaftar SNMPTN atau tidak? Jika tidak, maka salahkah langkahku ini?. Namun hati ini berkata tidak.


Perahuku baru saja tiba di persimpangan muara. Cukup lama aku berhenti sejenak, kebingungan. Manalah jalur yang harus kupilih? Kanankah? kirikah?. Bahkan Tuhan tak memberikan petunjuk apapun. 

Aku tak tahu ada apa di jalur kiri, juga jalur kanan. Kata orang, jalur kiri itu paling aman, incaran semua orang. Tak jauh dari persimpangan ini, akan ada pos penjaga, penguji kelayakan masuk ‘pulau jalur kiri’. Jika layak, maka akan diizinkan masuk. Jika tidak, maka akan ada jalur keluar, yang nantinya akan bermuara lagi. Begitu terus, perahu-perahu kami akan senantiasa menemui muara.

Namun, jalur kiri tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepadaku. Jika aku berhasil masuk, maka selamanya aku akan dikurung, tak diperbolehkan untuk mencoba berlayar ke tempat lain. Kaluapun boleh, mungkin empat atau lima tahun lagi. 

Aku bertanya pada hatiku. Jalur manakah?. Ada jalur kiri dengan segala kemudahan juga keterkekangannya dan jalur kanan yang masih penuh misteri. Entah indah, menyeramkan, atau biasa saja. Dari sekian lama aku berhenti di permuaraan ini, kuhitung,  sedkit sekali yang memilih jalur kanan. Semuanya berbondong-bondong ke jalur kiri.

Meskipun tak semuanya akan diperbolehkan masuk untuk menikmati segala kenikmatan di “pulau jalur kiri”, mereka tetap mendayung dengan bangga. Mengolok-olokku yang masih kebingungan akan berbelok kemana. 

Aku langsung mengambil sampan, mendayung, perahuku berbelok ke arah kanan. Maestro, si perahuku hanya tersenyum. Aku tahu jalur ini penuh misteri. Namun aku tak ingin terkurung jika seandainya aku mendapat izin masuk. Karena bukan ‘pulau jalut kiri ‘ itu yang aku impikan, tapi pulau lain. Lantas, untuk apa aku memilih  jalur kiri jika tujuanku saja bukan  ‘pulau jalur kiri’?

Aku pasrah, ikhlas, tabah, dan tetap mendayung, agak pelan. Perlahan namun pasti. Aku siap dengan segala tantangan dan keajaiban dalam perjalanan melalui jalur kanan ini. Perjalanan ini cukup sunyi. Namun pasti akan ramai saat persimpangan di depan, yang entah seberapa jauh lagi dari sini. Di persimpangan itu nanti, akan ramai oleh teman-temanku yang tak mendapat izin masuk ‘pulau jalur kiri. Setelah penolakan itu, jalur kami akan sama, SBMPTN. Jalur yang paling dihindari siswa sepanjang masa.

10 Januari 2017

11 Januari 2017

13 Januari 2017

1 Januari 2017,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s