Aku Pamit kepada Tengah Malam

Teruntuk alam semesta

Kupunya pertanyaan

Mengenai tengah malam,

Bolehkah aku bertemu?

Tanpa harus dihantui

Dihantui oleh sesuatu

Sesuatu yang selalu melarang

Melarang bertemu tengah malam

Tengah malam,

Aku sungguh membutuhkanmu

Namun tak cukup engkau seorang

Aku juga butuh kedamaian hati

Dan ketika kalian berdua menyatu

Perahu ini akan melaju lebih kencang

Sungguh aku sungguh yakin

Namun apalah dayaku

Sesuatu telah mulai mengambilalih

Mengusir kedamaian raga

Kedamaian pikiran, kedamaian jiwa

Hingga kedamaian hatipun ikut pergi

Sesuatu juga telah melarangku bertemu denganmu

Sahabat karibku setahun yang lalu

Yang telah membawa begitu banyak kebahagian

Menjadikan perahu terasa begitu ramai

Penumpang berbondong berdatangan

Juga bahan bakar untuk perahuku

Silih berganti dikirimkan Tuhan

Ingin sekali menyapa tengah malam

Hanya sekedar bertanya apa kabar

Meski ku tahu hatinya selalu hambar

Selalu tabah meski tak semua mengharapkan

Berkenan datang meski terkesan lamban

Ketika segenap penduduk bumi terlelap

Kepada tengah malam,

Perahuku bergerak lamban tanpamu

Aku hanya berteman pada pagi dan siang

Namun mereka tak begitu ramah

Kedamaian pun tak ingin hadir pastinya

Tampaknya mereka bermusuhan

Kepada  sahabatku, tengah malam

Bisakah kau membujuk temanmu, pagi dan siang

Rayulah mereka untuk bersahabat denganku

Sungguh mereka akrab sekali dengan kebisingan

Bahkan sering sekali mereka mengusir kedamaian

Tolong hentikan kenakalan mereka

Tahukah engkau wahai tengah malam?

Pagi selalu mengusikku

Ia hadir dan membangunkan tidurku

Berteriak “obat, obat, dan obat”

Kau tahu, aku seringkali mengutuknya

Ia juga mendatangkan rasa mual

Merusak nafsu untuk melahap sarapan

Entah aku begitu membenci kedatangannya

Wahai tengah malam,

Mungkin siang sedikit lebih ramah kepadaku

Saat ia datang, aku mulai berlayar, meski pelan

Meski takkan secepat ketika bersamamu

Karena kebisingan masih bersahabat dengan siang

Sedangkan kedamaian jarang sekali datang

Mungkin mereka tak ingin disandingkan

Sahabatku, tengah malam

Hamparan bintang bukanlah pertanda mutlak pertemuan kita

Karena aku tak akan menatap hamparan bintang lagi

Hilang sudah hak dan kewajibanku untuk itu

Meski aku tak diizinkan menyapa kehadiranmu lagi

Namun aku tahu kau akan selalu datang

Maafkan aku, sesuatu itu telah melarangku

Obat-obatan itupun menjadi cambuk bagiku

……………………….

Untuk terus dan makin menjauhimu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s