2 Januari 2017

Kelopak mata telah berkompromi untuk segera bangun. Tak ada alarm seperti biasanya. Ada mama yang akan selalu membangunkan. Namun ini adalah hari terakhir libur semester. Besok aku masuk sekolah, waktunya telah tiba.

Mama menyuruhku bergegas mandi, juga adikku. Pagi ini kami akan berangkat ke Palembangku, kota dimana aku bersekolah. Ya, rumah orangtuaku di Kota Baturaja. Aku adalah anak perantauan yang ‘nekat’ sekolah ke Palembang. Dengan alasan yang sangat logis tentunya.

Perasaanku campur aduk. Gairah semangatku makin menggebu-gebu untuk berjuang di tahun ini, mencari jawaban dari Tuhan. Namun di sisi lain, hatiku sangat berat untuk meninggalkan rumah, zona nyaman yang tak ada bandingannya. Aku harus kembali menjadi gadis mandiri, konsekuensi yang harus kuteguk. Urusan merantau inipun adalah pilihanku sendiri. Tak ada satupun yang menyuruhku.

Papa mulai memanaskan mesin mobil. Sedari tadi memeriksa baterai handphone yang  kuisi dayanya, harus penuh, karena akan kugunakan seharian penuh. Mama, papa, dan adik lakiku akan ikut mengantarku ke kota perantauan itu.


Namun, sebelum berangkat, kami berbelok dulu. Kerumahnya, laki-laki itu. Adiknya akan ikut bersama kami. Dan itu berarti aku harus kembali bertemu dengannya setelah sekian lama sejak kejadian itu. Aku menghela nafas, agak gugup.

Aku bertanya pada Tuhan, untuk apalah tujuan pertemuan singkat tadi. Aku terlalu lelah untuk terus menjauh, menggores hati saja. Namun segalanya, aku percaya ada kendali Tuhan.

11 Januari 2017

10 Januari 2017

3 Januari 2017

11 Januari 2017


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s