Hari Kedua

15 Maret 2016,

Hari kedua. Aku telah belajar tadi malam dan pagi tadi untuk melaksanakan tes di hari kedua. Karena alergi debu, aku mulai terserang flu. Tapi kubiarkan saja pada awalnya. Setelah sore dan karena menahan kantuk, kepalaku pun semakin pusing, ditambah flu, semakin menjadi-jadi. Aku memang tak terbiasa terlalu memporsir dalam belajar. Aku akan istirahat ketika aku lelah, dan akan memulainya lagi ketika semangatku kembali. Sedangkan disini, benar-benar tidak memungkinkan aku untuk tidur. Aku tak ingin menyia-nyiakan sedikitpun ilmu yang akan diberikan Kak PJ. Aku mencoba tetap tenang dan membiarkan sakitku. Aku jarang terkena sakit sehingga aku jarang membawa obat kemanapun aku pergi. Mama menyarankanku untuk membeli obat. Namun, seperti biasa, aku selalu menghiraukan rasa sakitku karena beranggapan sakit itu akan sembuh sendiri nantinya.

Saatnya pulang ke kamar. Namun, hari itu bukan aku yang membawa kunci kamar. Tapi Candisa atau Dhanti, entahlah. Flu berat mulai menggerogoti kenormalan berpikirku. Aku pun menunggu di ruang resepsionis yang sedikit berdebu. Yang membuat fluku semakin ganas menyakitiku. Hampir magrib, sudah satu jam aku menunggu. Kemana mereka? Aku menghubungi mereka berulang kali, namun tak kunjung ada balasan.  Ya Tuhan, aku ingin segera berbaring. Menghempaskan lelahku ke tempat tidur. Aku sungguh tak kuat saat itu. Namun aku tetap mencoba sabar, dan tetap tersenyum ketika mereka datang. Bukan salah mereka, mereka hanya tidak tahu jika aku sedang sakit saat itu.

Malamnya, aku masih menguatkan badanku untuk tetap ikut kelas malam bersama Kak PJ dan teman-teman lain. Sungguh sayang jika harus kulewatkan kesempatan menimba ilmu ini. Meskipun sangat pusing dan menggigil, aku tetap bertahan di kelas itu. Tapi, aku merasa tak nyaman berada di kelas. Aku ingin ke kamar. Berbaring, kepalaku sungguh pusing saat itu.

“Badanku yang diselimuti jaket abu-abu ini kian menggigil, mencoba merobohkan benteng pertahananku. Hampir seluruh anggota badanku sepakat untuk menyerah, namun hatiku, memohon kepada organ-organ itu untuk terus bertahan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s