Hari Ketiga

16 Maret 2016, 

Badanku benar-benar drop. Padahal aku telah meminum obat yang telah diberikan Inas. Aku pun meminta Dhanti untuk menemaniku membeli obat di sekitar wisma. Akhirnya, Dhanti dan Candisa pun menemaniku. Aku membeli obat flu dan batuk di indomaret. Aku sangat jarang meminum obat. Oleh karena itulah aku bingung dalam memilih obat mana yang ampuh. Setelah meminum obat, aku memutuskan untuk tidak ikut pelajaran di kelas pada sesi pertama hari itu. Aku pun tidur dan terbangun lagi pukul 9.30. Aku pun bersiap untuk ke kelas dan mengikuti pelatihan di sesi kedua meskipun kepalaku masih sangat pusing saat itu. Lagi-lagi, aku bertahan sekuat mungkin. Badanku menggigil, batuk, suhu badanku panas. Semuanya menjadi satu. Aku tak tahan lagi.

Saat coffe break sore, aku memutuskan untuk beristirahat di kamar. Aku pun mencoba untuk tidur dalam waktu yang sesingkat itu. Sekitar sepuluh menit aku telah tertidur. Namun kepalaku tambah pusing. Aku tak kuat lagi untuk bangun. Aku pun menelpon mama untuk meminta saran mengenai apa yang harus kulakukan. Aku tak dapat lagi mengatasinya sendiri. Namun, apa yang kulakukan hanya membuat mereka khawatir. Aku memang salah saat itu, tapi aku tak tahu harus mengadu kepada siapa.

Karena tak kunjung mendapatkan solusi, malah membuat mama menjadi khawatir, aku pun memutuskan untuk menelpon Mam Wyd, koordinator olimpiade di sekolah kami. Semula, aku merasa takut untuk menelpon beliau. Karena itulah, sebisa mungkin, aku tak perlu merepotkan. Namun, akhirnya aku memberanikan diri untuk menelpon. “Assalamu alaikum, Mam. Ini Laily, Mam. Peserta olimpiade yang lagi di Bogor”, ucapku memulai pembicaraan dengan nada yang sedikit takut. “Oh iya, kenapa?’ jawab Mam Wyd. “Gini, Mam, Laily sekarang lagi sakit. Flu, batuk, sama pusing. Tadi udah beli obat, tapi gak ada perubahan.”, ujarku. “Oh, gini aja. Nanti mam telpon Kak Putra, koordinator di sana untuk beliin obat ya. Nanti kamu bilang aja mau beli obat apa. Mereka pasti punya kendaraan untuk beliin. Atau kalau mau diantar ke dokter, bilang aja ke Kak Putra.” jawab Mam panjang lebar. “Iya, Mam. Makasih ya, Mam” ujarku. “Banyakin minum air putih ya. Kalo flu, Rhinos bagus tuh untuk obat flu. Istirahat yang cukup. Sekarang lagi istirahat ya?” tanya Mam Wyd. “Iya Mam, lagi coffe break.” jawabku. “Ohyaudah, hati-hati ya. Kalo ada apa-apa, bilang ke temannya aja.” ujar Mam Wyd lagi. “Oke, Mam. Makasih banyak ya, Mam. Assalamu alaikum, Mam”. tutupku. “ya, wa alaikum salam.” jawab Mam.

Tak lama kemudian, Kak Putra pun mengetuk pintu kamarku. Lalu, aku pun membukanya. Ia pun menanyakan obat apa yang ingin aku beli dan apakah aku ingin ke dokter atau tidak. Aku pun mengatakan bahwa aku hanya ingin dibelikan obat Rhinos. Tak lama kemudian, ia pun datang lagi dan memberikan obatnya padaku lalu pamit pulang. Aku pun meminum obat itu dan kembali tidur. Sebelumnya, aku nge-line Inas untuk membawakan tasku yang masih tertinggal di kelas. Dengan badan yang menggigil dan flu berat, aku pun mencoba tidur.

Aku terbangun karena tangan Dhanti yang kurasakan begitu dingin meraba dahiku. Ternyata Dhanti dan Candisa sudah pulang. Aku hanya membuka mataku dan mencoba tersenyum. “Laily, maaf ya, kemarin kami gak tahu kalo kamu lagi sakit.” ujar Dhanti. “Iya gapapa, Dhan.” jawabku. Ia pun memberikan minyak angin dan beberapa snack dan diletakkannya di samping tempat tidurku. “Makan ya, Laily. Bilang aja kalau ada apa-apa.” ujar Dhanti lagi. “Iya, Dhanti. Makasih, ya.”

Tampaknya malam tlah tiba, entahlah. Aku tak sanggup membuka mataku. Pada hari lain, Dhanti bercerita kalau saat itu, aku seperti mau meninggal, hahah. Ia begitu khawatir katanya, aku tak bangun-bangun dari sore dan badanku sangat panas. Entahlah, aku pun tak tahu apa yang tlah terjadi saat itu. Aku hanya sesekali membuka mata dan melihat ke arah mereka berdua. Aku hanya mendengar Candisa berbicara, “Kak Dhanti, Kak Laily mau ikut makan malam, gak?”. “Kita ambilin aja ya makan malam untuk Laily. Gak tega ngebanguninnya” jawab Dhanti. Itulah samar-samar suara yang kudengar. Sisanya, aku tak melihat dan mendengar apapun. Entahlah, aku sedang dimana saat itu.

Ketika terbangun, aku melihat telah ada sepiring makanan di samping tempat tidurku. Tampaknya Dhanti dan Candisa telah pergi ke kelas malam. Hari ini, lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk menimba ilmu pada Kak PJ. Aku pun tak dapat berbuat apa-apa. Aku sama sekali tak dapat fokus belajar lagi saat itu. Kepalaku langsung pusing lagi ketika aku mencoba membaca buku.

Tiba-tiba, handphoneku berdering. Ternyata Mam Wyd menelponku dan segera kuangkatlah telpon itu. Beliau menanyakan keadaanku dan menasihatiku lagi untuk meminum air putih. Tampaknya beliau sedikit khawatir, entahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s