Malam Panjang

9 Mei 2016,
Hari pertama pelatihan. Dimulai dengan sarapan pagi. Kemudian belajar dari pukul 8 hingga 17:30. Di Pelatihan ini, kami dari kontingen SUMSEL SMA berjumlah 27 orang. Sehingga, kami ditempatkan pada suatu ruang pertemuan di hotel, dimana ruang tersebut dibagi menjadi beberapa kelas dengan dibatasi papan pembatas. Kami, dari bidang astronomi, berjumlah empat orang. Ada aku, Ilham, Mei, dan Bintang. Aku dan Ilham dari SMA 17, Bintang dari SMAN SumSel, dan Mei dari IGS. Sedangkan guru kami bernama Kak Wildan. Pada hari pertama, baru ada aku dan Ilham yang datang. Sedangkan Bintang dan Mei masih mengikuti pelatihan di Bandung. Mereka berdua telah mengikuti progaram pelatihan pra-OSN di Bandung beberapa hari yang lalu. Sedangkan kami, hanya mengikuti pelatihan daerah karena program yang sempat kami pilih (pelatihan-osn.com) dilaksanakan hampir bersamaan dengan pelatihan disini. Sehingga kami harus memilih salah satu.

Di hari pertama, kami telah disuguhi soal OSP 2016 yang telah kami kerjakan sekitar dua bulan lalu. Kami berdua pun mengerjakannya dan diberi waktu 3 jam. Setelah selesai, kami dipersilahkan beristirahat dan shalat dzuhur. Akhirnya, aku mengajak Candisa yang ruang kelasnya tak jauh dari ruang kelasku (bersebrangan) untuk makan siang. Setelah itu, kami pun naik ke lantai 4 untuk shalat dzuhur.

Setelah istirahat, ternyata Bintang sudah datang.  Dia pun mengajakku mengobrol karena sebelumnya kami telah bertemu saat seleksi OSP di SMA Negeri 13 Palembang. Aku menanyakan kabar Indri, sahabatku yang sekarang menjadi teman satu sekolah Bintang. Ia pun bercerita mengenai teman-teman SMPku yang lain yang satu sekolah dengannya, seperti Iko, Windo, Edo, dan Adang. Mulai siang hari hingga sore, kami bertiga, bersama Kak Wildan tentunya membahas mengenai soal OSP yang telah kami kerjakan. Tampaknya Bintang lebih tahu banyak daripada kami berdua karena ia mengatakan bahwa soal ini telah dibahas ketika ia pelatihan di Bandung. Sedangkan kami berdua, masih jauh tertinggal.

Disaat semua kelas di ruangan itu telah kosong, kelas astronomi masih dengan semangat belajar. Kelas kami berakhir pukul 17;30, dan akan seperti itu setiap harinya. Sesampainya di kamar, aku bergegas mandi untuk bersiap melanjutkan pelatihan malam nanti. Pukul 19:00, aku dan Candisa turun ke lantai 1 untuk makan malam. Selesainya, Candisa kembali ke kamar, sedangkan aku naik ke lantai 2 karena kami sepakat untuk berkumpul di ruang pertemuan di lantai 2. Ternyata, disana ada beberapa guru pendamping yang sedang melaksanakan rapat kecil. Aku pun urung untuk masuk. Lalu, Kak Wildan pun keluar. Ia memintaku untuk naik ke lantai 5, lantai teratas dan mengatakan bahwa anak-anak kebumian sudah ada disana. Ya, anak-anak kebumian akan ikut belajar bersama kami karena mereka memiliki beberapa materi mengenai astronomi, khusunya penggunaan teleskop.

Aku pun menuruti perintah Kak Wildan dan naik ke lantai 5 menggunakan lift. Saat pintu lift terbuka, sangat gelap, menakutkan. Tapi, aku tetap memberanikan diri untuk berjalan menjauhi lift. Lantai 5 ini adalah lantai teratas hotel, sehingga kami bisa melihat langit malam di tempat terbuka untuk melakukan pengamatan. Oleh karena itulah dipilih tempat ini. Semula, aku mengira bahwa anak-anak kebumian telah ada disana. Sehingga, aku berusaha mencari keberadaan mereka dan tak lupa aku menghubungi Ilham untuk ke sini. Ternyata nihil, anak kebumian belum datang. Aku merinding karena menyadari bahwa aku sedang sendirian di sini. Untunglah tak lama kemudian Ilham datang. Dan kami pun menunggu anak kebumian disana. Tak lama kemudian, anak-anak kebumian pun datang bersama Kak Wildan. Disusul dengan Bintang yang datang belakangan.

Kak Wildan mulai mengenalkan kepada kami mengenai pengamatan dengan mata telanjang. Bukan Kak Wildan sebenarnya, tapi Bintang. Bintang diminta Kak Wildan untuk menjelaskannya kepada kami. Bintang telah mengetahui banyak hal daripada kami. Ditambah lagi, di sekolahnya sudah disediakan teleskop yang hampir menyerupai teleskop OSN, entahlah. Aku dan Ilham terlihat masih sedikit kebingungan saat itu, atau hanya aku, mungkin.

Sembari menunggu giliran untuk menjawab tes simulasi pengamatan, kami bermain bermacam-macam game yang aku lupa apa saja namanya. Saat itu, kami berjumlah enam orang. Ada Ilham, Demi, Ferrel, Iskandar Muda (Ismud), Bintang, dan aku. Hanya aku yang perempuan disana. Tapi mereka tidaklah membuatku kaku. Setelah itu, kami pun bergiliran memperkenalkan diri. Setelah pukul 22;30, kami kembali ke kamar. Sungguh melelahkan hari ini.

“Malam itu, aku mengenal banyak bintang, baik bintang di langit, maupun bintang berwujud manusia. Mereka, mereka adalah bintang-bintang yang akan terus bersinar di langit malam, menatap langit, menghabiskan malam panjang.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s