OSN : Day 4

18 Mei 2016,

Hari ini kami akan menjalani tes pengolahan data dari pagi hingga siang. Setelah itu, kami diizinkan untuk beristirahat dan malamnya kami akan menjalani tes teori.

Lelah, benar-benar melelahkan tes teori dan pengolahan data yang telah kulalui. Aku telah mengerahkan semuanya. Inilah kemampuan terbesarku. Di luar itu, di luar batas kemampuanku.

Pukul 5 sore, kami telah berkumpul di markas kami di hotel. Sebelumnya, kami membuat yel-yel terlebih dahulu. Bintanglah yang menjadi pelopor yel-yel itu. Akhirnya, kami pun memiliki yel-yel untuk menjaga kekompakan kami.

Setelah itu, kami berangkat menuju ke SMA Xaverius I untuk melaksanakan tes observasi malam. Setelah tiba, kami dipersilahkan menikmati nasi kotak yang telah disediakan sebagai makan malam dan bersiap-siap untuk shalat magrib.

https://2.bp.blogspot.com/-4psljBXqo3E/V2zBX1_osxI/AAAAAAAAAhk/5N7qIypYXCcyPQyVnPgkSS6EPLx5x3zVwCLcB/s400/
Setelah semuanya selesai, kami dibawa ke suatu tenda sebagai tempat menunggu giliran. Kami harus menuggu giliran karena teleskop yang tersedia tidak sebanyak jumlah kami, 84. Maka dari itulah kami dibagi menjadi beberapa regu. Kami disuruh duduk berjajar sesuai nomor urutan. Kami pun duduk , diam, dan diberikan autan agar tidak terserang gigitan nyamuk saat observasi malam.

Tibalah giliranku untuk melakukan observasi. Jujur saja, aku masih sangat kaku dengan teleskop ini. Aku jarang menyentuhnya. Hanya saat pelatda, itu pun berbeda dengan teleskop pada OSN ini. Aku masih kaku, gugup. Inilah praktik yang harus kuhadapi. Sebuah resume dari malam-malam yang telah kuhabiskan.

“Aku gagal. Melakukan dua kali pelanggaran yang tak boleh dilakukan saat mengenakan teleskop dalam tes observasi. Ya Tuhan, aku begitu gugup saat itu. Aku tak sengaja. Bodoh, aku bodoh”

Bagi peserta yang telah melewati tes observasi, disediakan hidangan malam sebagai perayaan. Namun, aku sama sekali tak tertarik saat itu, sedikitpun. Aku menyesali apa yang telah aku lakukan. Semuanya bagaikan bayangan sekejap. Waktu itu begitu singkat. Menit demi menit, aku kerahkan semua usahaku, apa yang telah kupelajari, bergantung dalam waktu lima belas menit itu.

“Kini, airmataku menetes, terjatuh. Hilang, semua bebanku hilang. Tapi dadaku sesak, sakit. Aku tak dapat memberikan yang terbaik, untuk keluargaku khususnya”

Sejak detik itu, detik setelah aku keluar dari arena observasi, beban seberat gunung di pundakku hilang,  jatuh, tercerai. Maaf, tapi aku tak mampu lagi. Titik ini, terlalu jauh dari impianku. Aku sudah terlalu lelah untuk menghabiskan malam-malam yang begitu panjang hanya untuk suatu hal. Aku lelah, terasingkan dari teman-temanku. Aku lelah, mengorbankan waktu tidurku untuk malam-malam yang panjang, menatap bintang.

“Aku rindu akan kebebasan, aku rindu tidur, aku rindu berada di kelas, seperti siswa lainnya”

Sekali lagi, untuk kalian, yang menyampakkanku ketika aku terjatuh. Aku lelah. Terserah kalian ingin berkata apa, ingin berbuat apa. Aku tetap bersyukur telah ditakdirkan Tuhan untuk mendapatkan kesempatan OSN ini.

Aku terdiam, melamun selama dua jam. Tampaknya telah banyak temanku yang telah melalui ronde observasi. Ada yang sumringah, ada pula yang murung. Temanku mengajakku untuk beristirahat di masjid. Aku pun mengikutinya.

Di masjid, aku mencoba untuk ceria lagi. Aku bergabung dalam suatu perkumpulan para perempuan yang mayoritas dari Pulau Jawa, kami bergiliran bercerita mengenai guru kami di sekolah. Kami tertawa, karena beban kami telah lepas. Ya, aku tertawa, lepas. Terimakasih Tuhan.

Setelah semua temanku selesai melewati ronde observasi, kami pun melaksanakan apel malam untuk berpamitan pulang pada juri dan pihak sekolah. Kami juga menampilkan yel-yel kebanggan kami. Mereka terlihat senang, dan bangga.

“Kalian adalah pemenang. Kalian adalah siswa dan siswi pilihan.Kalian dipilih untuk mendapatkan kesempatan ini. Medalis ataupun bukan, kalian harus tetap berkontribusi untuk negeri ini. Negeri ini, berada di tangan kalian.” 

Begitulah kurang lebih nasihat juri kepada kami. Perpisahan, 54 orang diantara kami akan berpisah dengan para juri ini. Sedangkan 30 sisanya, akan bertemu mereka lagi di pelatnas.

Sekembalinya di hotel, aku, Dhiya, Atta, Nada, Milen, Chika, entah ada yang lain atau tidak, aku lupa, kami iseng dan naik ke lantai 7 kalo tidak salah, aku agak mengantuk saat itu. Itu adalah lantai teratas, kami nekat dan akhirnya, setelah mengendap-endap, kami pun berdiri menghadap balkon, menatap langit Palembang.

“Malam itu, kami menatap langit Palembang. Meski di kotaku sendiri, namun momen itu takkan terlupakan, bersama mereka.”


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s